Sejarah manusia adalah sejarah represi terhadap
tubuh. Dan kesenian adalah perekam jejak yang aktif dari kebudayaan
kebertubuhan manusia. Selalu ada keterkaitan resiprokal antara kesenian dengan diskursus
tubuh dalam suatu masyarakat. Lukisan-lukisan Yunani Klasik misalnya,
menggambarkan kesadaran tubuh hedonistik dari masyarakat Yunani saat itu. Dan
di belakang itu, tentu saja berdiri diskursus hedonisme Cyrenaik yang kemudian di-antitesa
oleh Stoisisme yang mulai mensubordinasikan tubuh di bawah jiwa. Stoisisme ini
kemudian mewarisi tradisi Kristiani yang semaki represif terhadap tubuh.
Dalam tradisi kesenian Semitik yang lain, Islam
cotohnya, kita akan menemukan pula tubuh yang terepresi, yakni visualitas tubuh
yang wajib tertutupi pakaian. Kita akan menemukan ini dalam lukisan-lukisan
ikonoklasme Islami—sebuah bentuk kesenian yang sebetulnya dilarang oleh fikih
mayoritas sampai ini. Islam dan Kristen sama-sama memandang tubuh sebagai mesin
hasrat yang merupakan musuh bagi sakralitas jiwa. Saat itu memang zaman
keemasan agama, jadi agamalah yang merupakan tangan besar penguasa tubuh.
Bentuk-bentuk penguasaan tubuh dari sana terlahir sampai bentuk yang paling
ekstrim, seperti inkuisisi, hukuman, serta pendisiplinan tubuh secara
terlembaga.
Dan tatkala pendulum waktu jatuh di zaman modern,
represi terhadap tubuh semakin canggih. Tanpa disadari, warisan pandangan
dualistik tubuh-jiwa rupanya telah
menjadi jalan yang memudahkan sekian banyak sistem kekuasaan untuk
mengeksploitasi tubuh. Sebab, dengan memisahkan tubuh dari jiwa-lah sistem
penguasaan diskursif atas tubuh menjadi lebih terfokus dan terorientasikan. Dan
pada titik waktu inilah karya Prayitno berdiri membaca dan merefleksikan budaya
tubuh yang kita alami saat ini.
Psikosis Tubuh Industrial
Dalam konsep karya grafis Prayitno, tubuh adalah keberadaan
manusia itu sendiri. Tidak ada jurang pemisah antara tubuh jiwa. Keduanya
adalah suatu kesatuan siklikal, sebab dalam setiap ruang dan waktu, tubuh
selalu sudah menginteriorisasikan diri ke dalam jiwa, dan jiwa selalu sudah
mengeksteriorisasikan diri ke dalam tubuh. Visualitas yang dihadirkan Prayitno
adalah tubuh dan jiwa saling menandai dalam kehadiran serentak mereka. Tubuh
adalah subjek dan subjek adalah tubuh. Saat tubuh terepresi, maka demikian
halnya dengan jiwa.
Tubuh-tubuh itu adalah tubuh yang tereksploitasi dalam
lingkaran represi kekuasaan dunia modern. Salah satu basis paling fundamental
dari dunia modern adalah industrialisme. Tidak hanya sekadar berdiri sebagai lembaga
sosial fisik, industri juga adalah sesuatu kuasa pengetahuan yang sudah hidup
dalam kesadaran kolektif publik sebagai objek kekuasaannya. Dalam arus
penguasaan itu, sistem industri dan kapitalisme mengeksploitasi tubuh untuk mengakumulasi keuntungan.
Kekuasaan selalu berusaha membuat tubuh tidak bisa
bergerak keluar darinya dan memaksa ia untuk bergerak hanya dalam dirinya. Maka
kemudian kekuasaan industrial menciptakan politik penikmatan yang berupa permainan
hasrat yang mengikat dan membelenggu subjek untuk selalu bergantung pada sistem.
Hasrat itu memang memberikan pemenuhan pada subjek, tetapi sekaligus juga memberikan
efek adiktif yang pada ujungnya setiap subjek rentan terhadap berbagai patologi
kejiwaan. Maka tampaklah tubuh-tubuh dalam lukisan itu seperti menggeliat berat
menggapai-gapai yang-dihasrati. Ilusi hasrat itu adalah suatu hal yang mustahil
terpuaskan, dan tubuh-tubuh ini tampak sekarat dalam gerakan yang terhenti dari
ketaksanggupan mereka untuk memenuhi hasrat ilusif itu.
Hasrat ilusif yang mustahil terpuaskan inilah akar
dari segala bentuk patologis yang kemudian lahir entah itu skizophrenia,
histeria, atau kerancuan identitas (dissosiatif identity
disorder/multipersonalitry disorder). Kekuasaan industri dan ekonomi banal juga
menawarkan pseudo-penyembuhan terhadap para subjek, yakni dengan menawarkan lebih
banyak lagi tawaran pemenuhan hasrat libidinal bagi para subjek.
Identitas Jamak yang Patologis
Manifestasi ruang yang paling konkrit dari
modernitas adalah kota. Kota adalah medan pertemuan-pertemuan identitas dari
berbagai kultur yang bersaing dalam berebut ruang publik. Di kota, tubuh menjadi
sesuatu mediasi dimana identitas diartikulasikan. Namun, nampaknya identitas
untuk tubuh adalah seperti ”rumah yang diberikan” atau sesuatu pelabelan yang diberikan
oleh sesuatu sistem kekuasaan dari luar, entah itu agama, norma, ilmu, ataupun banalitas
ekonomi.
Selanjutnya berbagai kekuasaan merepresentasikan
dirinya ke dalam identitas yang dibawakan tubuh yang telah mereka beri label sebagai
suatu pelebaran sayap hegemoni dalam mengukuhkan dirinya terhadap sistem kekuasaan
yang lain. Dengan logika konflik ini, kita bisa melihat bahwa tubuh juga
menjadi medan persaingan berbagai kekuasaan untuk meraih suatu totalitas identitas.
Sebuah sistem kekuasaan yang paling dominan dalam lubuk kesadaran tubuh pada
akhirnya juga memberikan bentuk kepribadian atau personalitas akan suatu subjek.
Diskursus multikulturalisme humanis selalu
memiliki harapan yang positif akan hal ini. Pertarungan berbagai identitas kebudayaan
justru akan semakin membuat subjek atau suatu masyarakat semakin maju dan
canggih. Logikanya, semakin banyak kultur yang bermain, maka semakin mudah
modernisme mendapatkan objek materialnya untuk mendinamisasikan diri. Itu
artinya pula bahwa semakin banyak domain kekuasaan yang bermain dalam subjek,
maka kepribadian subjek dan masyarakat akan semakin lengkap terbentuk dan itu
memungkinkan untuk kemenjadian subjek kosmopolitan yang dalam level kolektif menjadi
masyarakat terbuka ala Popperian.
Tetapi grafis cukilan Prayitno justru mendeformasi
semua asumsi konstruktivisme multi-identitas itu. Jamaknya pertarungan anasir kekuasaan
dalam representasi identitas tubuh tidaklah memberikan bentuk-bentuk sintesis
yang konstruktif dan terarah, melainkan justru sebaliknya, yakni membuat subjek
rentan terjerembab pada kekacauan multipersonal, suatu kondisi dimana subjek terpecah
dalam serpihan-serpihan identitas yang tak mengarah kemanapun. Keterpecahan
secara kolektif ini jugalah yang sesungguhnya menjadi salah satu faktor dari
timbulnya patologi-patologi anti-sosial seperti kepribadian psikopatik agresif.
Semua ini pada ujungnya menyiratkan pada kita
suatu imperasi kultural, yakni bagaimana mencari strategi dan epistemologi baru
untuk membentuk budaya kebertubuhan yang lebih konstruktif, harmonis dan
membebaskan.