Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Selasa, 7 September 2010 | 07:02 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Anjungan - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  02  03  
Psikografi Tubuh yang Terpecah
Oleh: Ridwan Munawwar, Esais, bergiat di BEING Community dan studi di Prodi Psikologi UIN Sunan Kalijaga Jogja.

Sejarah manusia adalah sejarah represi terhadap tubuh. Dan kesenian adalah perekam jejak yang aktif dari kebudayaan kebertubuhan manusia. Selalu ada keterkaitan resiprokal antara kesenian dengan diskursus tubuh dalam suatu masyarakat. Lukisan-lukisan Yunani Klasik misalnya, menggambarkan kesadaran tubuh hedonistik dari masyarakat Yunani saat itu. Dan di belakang itu, tentu saja berdiri diskursus hedonisme Cyrenaik yang kemudian di-antitesa oleh Stoisisme yang mulai mensubordinasikan tubuh di bawah jiwa. Stoisisme ini kemudian mewarisi tradisi Kristiani yang semaki represif terhadap tubuh.

Dalam tradisi kesenian Semitik yang lain, Islam cotohnya, kita akan menemukan pula tubuh yang terepresi, yakni visualitas tubuh yang wajib tertutupi pakaian. Kita akan menemukan ini dalam lukisan-lukisan ikonoklasme Islami—sebuah bentuk kesenian yang sebetulnya dilarang oleh fikih mayoritas sampai ini. Islam dan Kristen sama-sama memandang tubuh sebagai mesin hasrat yang merupakan musuh bagi sakralitas jiwa. Saat itu memang zaman keemasan agama, jadi agamalah yang merupakan tangan besar penguasa tubuh. Bentuk-bentuk penguasaan tubuh dari sana terlahir sampai bentuk yang paling ekstrim, seperti inkuisisi, hukuman, serta pendisiplinan tubuh secara terlembaga.

Dan tatkala pendulum waktu jatuh di zaman modern, represi terhadap tubuh semakin canggih. Tanpa disadari, warisan pandangan dualistik tubuh-jiwa  rupanya telah menjadi jalan yang memudahkan sekian banyak sistem kekuasaan untuk mengeksploitasi tubuh. Sebab, dengan memisahkan tubuh dari jiwa-lah sistem penguasaan diskursif atas tubuh menjadi lebih terfokus dan terorientasikan. Dan pada titik waktu inilah karya Prayitno berdiri membaca dan merefleksikan budaya tubuh yang kita alami saat ini.

 

Psikosis Tubuh Industrial

Dalam konsep karya grafis Prayitno, tubuh adalah keberadaan manusia itu sendiri. Tidak ada jurang pemisah antara tubuh jiwa. Keduanya adalah suatu kesatuan siklikal, sebab dalam setiap ruang dan waktu, tubuh selalu sudah menginteriorisasikan diri ke dalam jiwa, dan jiwa selalu sudah mengeksteriorisasikan diri ke dalam tubuh. Visualitas yang dihadirkan Prayitno adalah tubuh dan jiwa saling menandai dalam kehadiran serentak mereka. Tubuh adalah subjek dan subjek adalah tubuh. Saat tubuh terepresi, maka demikian halnya dengan jiwa.

Tubuh-tubuh itu adalah tubuh yang tereksploitasi dalam lingkaran represi kekuasaan dunia modern. Salah satu basis paling fundamental dari dunia modern adalah industrialisme. Tidak hanya sekadar berdiri sebagai lembaga sosial fisik, industri juga adalah sesuatu kuasa pengetahuan yang sudah hidup dalam kesadaran kolektif publik sebagai objek kekuasaannya. Dalam arus penguasaan itu, sistem industri dan kapitalisme  mengeksploitasi tubuh untuk mengakumulasi keuntungan.

Kekuasaan selalu berusaha membuat tubuh tidak bisa bergerak keluar darinya dan memaksa ia untuk bergerak hanya dalam dirinya. Maka kemudian kekuasaan industrial menciptakan politik penikmatan yang berupa permainan hasrat yang mengikat dan membelenggu subjek untuk selalu bergantung pada sistem. Hasrat itu memang memberikan pemenuhan pada subjek, tetapi sekaligus juga memberikan efek adiktif yang pada ujungnya setiap subjek rentan terhadap berbagai patologi kejiwaan. Maka tampaklah tubuh-tubuh dalam lukisan itu seperti menggeliat berat menggapai-gapai yang-dihasrati. Ilusi hasrat itu adalah suatu hal yang mustahil terpuaskan, dan tubuh-tubuh ini tampak sekarat dalam gerakan yang terhenti dari ketaksanggupan mereka untuk memenuhi hasrat ilusif itu.

Hasrat ilusif yang mustahil terpuaskan inilah akar dari segala bentuk patologis yang kemudian lahir entah itu skizophrenia, histeria, atau kerancuan identitas (dissosiatif identity disorder/multipersonalitry disorder). Kekuasaan industri dan ekonomi banal juga menawarkan pseudo-penyembuhan terhadap para subjek, yakni dengan menawarkan lebih banyak lagi tawaran pemenuhan hasrat libidinal bagi para subjek.

 

Identitas Jamak yang Patologis

Manifestasi ruang yang paling konkrit dari modernitas adalah kota. Kota adalah medan pertemuan-pertemuan identitas dari berbagai kultur yang bersaing dalam berebut ruang publik. Di kota, tubuh menjadi sesuatu mediasi dimana identitas diartikulasikan. Namun, nampaknya identitas untuk tubuh adalah seperti ”rumah yang diberikan” atau sesuatu pelabelan yang diberikan oleh sesuatu sistem kekuasaan dari luar, entah itu agama, norma, ilmu, ataupun banalitas ekonomi.

Selanjutnya berbagai kekuasaan merepresentasikan dirinya ke dalam identitas yang dibawakan tubuh yang telah mereka beri label sebagai suatu pelebaran sayap hegemoni dalam mengukuhkan dirinya terhadap sistem kekuasaan yang lain. Dengan logika konflik ini, kita bisa melihat bahwa tubuh juga menjadi medan persaingan berbagai kekuasaan untuk meraih suatu totalitas identitas. Sebuah sistem kekuasaan yang paling dominan dalam lubuk kesadaran tubuh pada akhirnya juga memberikan bentuk kepribadian atau personalitas akan suatu subjek.

Diskursus multikulturalisme humanis selalu memiliki harapan yang positif akan hal ini. Pertarungan berbagai identitas kebudayaan justru akan semakin membuat subjek atau suatu masyarakat semakin maju dan canggih. Logikanya, semakin banyak kultur yang bermain, maka semakin mudah modernisme mendapatkan objek materialnya untuk mendinamisasikan diri. Itu artinya pula bahwa semakin banyak domain kekuasaan yang bermain dalam subjek, maka kepribadian subjek dan masyarakat akan semakin lengkap terbentuk dan itu memungkinkan untuk kemenjadian subjek kosmopolitan yang dalam level kolektif menjadi masyarakat terbuka ala Popperian.

Tetapi grafis cukilan Prayitno justru mendeformasi semua asumsi konstruktivisme multi-identitas itu. Jamaknya pertarungan anasir kekuasaan dalam representasi identitas tubuh tidaklah memberikan bentuk-bentuk sintesis yang konstruktif dan terarah, melainkan justru sebaliknya, yakni membuat subjek rentan terjerembab pada kekacauan multipersonal, suatu kondisi dimana subjek terpecah dalam serpihan-serpihan identitas yang tak mengarah kemanapun. Keterpecahan secara kolektif ini jugalah yang sesungguhnya menjadi salah satu faktor dari timbulnya patologi-patologi anti-sosial seperti kepribadian psikopatik agresif.

Semua ini pada ujungnya menyiratkan pada kita suatu imperasi kultural, yakni bagaimana mencari strategi dan epistemologi baru untuk membentuk budaya kebertubuhan yang lebih konstruktif, harmonis dan membebaskan.

  Artikel lainnya
Perspektif Identitas dalam Kelahi Piktografis
Seven Lights menyatukan identitas khas perupa dalam format kelahi piktografis. Berhasilkah mereka menampilkan konsistensi ideologi visual masing-masing?
Jejak Biografi yang Kabur
Pauh menggelar pameran tentang identitas. Sebuah kritik atas modernisme yang menghilangkan identitas menjadi, katakanlah, sekadar kartu nama.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com