Pintu merupakan sebuah akses dari
suatu ruang menuju ruang lain, membuka pintu berarti membuka ruang baru atau
bisa juga disebut membuka wawasan baru. Berangkat dari sinilah Komunitas
Sarangsemut—sekumpulan mahasiswa angkatan 2007 desain interior Institut Seni Indonesia
(ISI) Yogyakarta—menyelenggarakan sebuah pameran seni rupa desain bertajuk
“Buka Pintu.” Acara ini berlangsung pada 13-19 Maret di Cafebale Gallery Yogyakarta
yang dikuratori oleh Bapak Sumartono dan dibuka oleh ketua umum HDII Bapak
Arjon.
Pembukaan berlangsung meriah
dengan pertunjukan monolog dari Rocky Marciano
mahasiswa Teater ISI Yogyakarta. Penonton dihibur dengan aksi pertunjukannya
yang fantastis—menyoal bagaimana perjuangan untuk membuka pintu yang selama ini
tertutup memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Membuka pintu dapat
diartikan membuka alur akulturasi dari suatu budaya dengan budaya lain, dapat
pula diartikan dengan menembus batas, menembus pakem, di mana tidak semua orang
berani melakukan hal ini.
Obsesi Eksperimental
Karya-karya yang dipamerkan tidak
melulu karya desain interior, tapi banyak pula karya seni rupa semacam lukisan,
patung, dan instalasi. Sumartono (kurator pameran) mengungkapkan bahwa karya-karya
yang ditampilkan merupakan kegelisahan dalam mencari jati diri.
Secara keseluruhan karya karya
itu sesungguhnya telah mengantarkan seniman pada sebuah jalan panjang menuju
kreativitas sejati yang sering juga disebut kreativitas tinggi (high
creativity). Jalan ini lah yang selama ini ditempuh oleh para seniman
kontemporer atau seniman alternatif yang terus-terusan bereksperimen membuat
karya dengan berbagai media (mixed media), tidak melulu cat minyak.
Mereka adalah para desainer/seniman yang obsesi ekperimentalnya lebih kuat
daripada obsesi komersialnya.
Leonardo Krisna selaku ketua
pameran menyatakan pameran buka pintu ini merupakan gerakan desain interior
baru—bentuk apresiasi untuk mendapatkan ruang baru yang secara bebas, “tidak”
terpaku pada berbagai gaya yang umumnya dikenal, seperti gaya minimalis,
klasik, pop, atau tropis. Krisna juga menyayangkan jika anak bangsa
meninggalkan identitas keindonesiaan mereka dan sekarang lah saatnya
mempopulerkan karakter Indonesia. “Saatnya desainer muda untuk bangkit, jangan
takut pada konsep liar dalam berkarya dan jangan lupakan tanah airmu,” tandas
pengagum Romo Mangunwijaya itu.
Sumartono, menambahkan bahwa karya
yang ditampilkan di “Buka Pintu” menarik, karena telah keluar dari penjara
spesialisasi desain interior. Ini adalah sebuah kelintasbatasan yang tidak
membedakan kotak-kotak akademis. Bahkan, dengan tegas, Sumartono memberi “nilai” A+++
akan gerakan lintas batas tersebut.
Identitas Indonesia
Pameran ini mengusung tujuan mempopulerkan
identitas Indonesia dengan kekayaan dan keanekaragaman budaya, mulai dari kisah
wayang, rumah adat, batik, jamu gendong, dangdut, dan sebagainya.
Ketika menginjakkan kaki kedalam
galeri, pengunjung langsung disambut dengan karya kursi eksperimental dari
Leonardo Krisna berjudul Awak Beras Kencur Balung Pasak Bumi. Berujud
kursi dengan sandaran berbentuk wanita yang memiliki buah dada besar. Karya ini
menceritakan realita kehidupan sosial seorang penjual jamu yang merangkap
menjadi seorang pekerja seks komersial. Ketika pengunjung mencoba duduk, mereka
berkomentar seperti bersandar pada wanita atau kondisi berkendara dengan
pacarnya. Seorang pengunjung yang baru tiba dari Jepang, Artbanu, berkomentar setelah duduk di kursi
tersebut dia teringat masa Sekolah Menengah Atas.
Lain pula dengan Cething Kalindih
karya Redhi Maha Sukmawan yang mengangkat masalah cething (tempat nasi
tradisional) yang mulai terkalahkan oleh tempat nasi modern semacam magic
jar. Redhi prihatin bahwa cething yang dahulu sangat berguna,
sekarang sudah tak berarti dan terlupakan. Barang yang dialihfungsikan menjadi
sebuah standing lamp dan table lamp ini akan terus hidup di hati
Redhi sebagai ingatan akan masa kecilnya. Bapak Arjon (ketua umum HDII) nampak
terkesan yang terungkap pada sesi diskusi kreatif.
Sementara Kamar Goyang
Abang Ical, sebuah karya instalasi ruang, menampilkan instalasi kamar yang
kental dengan unsur dangdut koplo, mulai dari kasur bersepraikan lukisan
mural, lampu kelap-kelip, hingga aksesori seperti tamborin dan poster wanita
wanita hot. Juga dilengkapi video art (stop motion) tentang kehidupan
dangdut ditambah sound musik dagdut yang bergema kencang membuat semua
orang yang berada di kamar tersebut ingin bergoyang. Menurut Ical, karya
tersebut merupakan bentuk penggambaran realita sosial bahwa terdapat pergeseran
persepsi terhadap musik dangdut, sehingga musik dangdut/koplo menjadi identik
dengan hal porno dan erotis.
Karya eksperimental dengan
material pasir pulau Lombok dengan judul Jangan Sepertiku ditorehkan
Huri Arlika. Menurut Artbanu karya tersebut sangat menyatu dengan jiwa Huri
disimak dari karya yang berbahan pasir pantai dan konsep kepiting yang
terpenjara.
Agni Soekoco menampilkan Tekad
Menggapai Asa berupa table lamp, Rio Loronkkosonk dengan karyanya Imagine
the Immortality Lorongkkosonk s
Character
yang berupa kursi dilengkapi maket joglo fantasi yang monumental, lalu Yan Rahma
“Warnojiwo” memajang karya berbentuk lampu dengan artistik poci terbang yang
mencucurkan warna merah darah.
Diskusi Kreatif
Selain pameran, juga
diselenggarakan diskusi kreatif dengan topik Identitas Indonesia dalam
Berkarya dengan pembicara Sumartono (pengamat senirupa), Eko Prawoto (arsitek),
dan Indie Guerillas (seniman/desainer). Diskusi mengerucut pada pemahaman bahwa
kekayaan Indonesia yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Seniman dan
masyarakat luas berhak dan wajib ambil bagian dalam menjaga, mengembangkan, dan
mengenalkan kepada khayalak, hingga ke mata dunia.
Pameran “Buka Pintu” pada dasarnya merupakan kegiatan
sebagai proses pembelajaran dan pendewasaan yang berguna untuk pengembangan
karya yang mengarah pada kebudayaan Indonesia yang beragam dan terus berkembang.
Karya-karya yang dihasilkan diharapkan memiliki struktur yang mampu bertahan
terhadap penilaian lintas budaya. Pertanyaan reflektif pun mengemuka: bisakah
peserta pameran ini tetap berada di jalur eksperimen lintas batas nantinya? Sebuah
jalur yang dimiliki oleh mereka yang obsesi ekperimentalnya lebih kuat dari
obsesi komersialnya!