Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Selasa, 7 September 2010 | 07:03 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Anjungan - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  02  03  04  
Eksperimen Lintas Batas
Oleh: Faisal R Yeroushalaim, Mahasiswa Desain Interior ISI Yogyakarta, tinggal di Yogyakarta.

Satu pameran yang diikhtiarkan sebagai gerakan desain interior baru. Bisakah tetap berada di jalur eksperimen lintas batas nantinya?

Pintu merupakan sebuah akses dari suatu ruang menuju ruang lain, membuka pintu berarti membuka ruang baru atau bisa juga disebut membuka wawasan baru. Berangkat dari sinilah Komunitas Sarangsemut—sekumpulan mahasiswa angkatan 2007 desain interior Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta—menyelenggarakan sebuah pameran seni rupa desain bertajuk “Buka Pintu.” Acara ini berlangsung pada 13-19 Maret di Cafebale Gallery Yogyakarta yang dikuratori oleh Bapak Sumartono dan dibuka oleh ketua umum HDII Bapak Arjon.

Pembukaan berlangsung meriah dengan pertunjukan monolog dari Rocky  Marciano mahasiswa Teater ISI Yogyakarta. Penonton dihibur dengan aksi pertunjukannya yang fantastis—menyoal bagaimana perjuangan untuk membuka pintu yang selama ini tertutup memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Membuka pintu dapat diartikan membuka alur akulturasi dari suatu budaya dengan budaya lain, dapat pula diartikan dengan menembus batas, menembus pakem, di mana tidak semua orang berani melakukan hal ini.

 

Obsesi Eksperimental

Karya-karya yang dipamerkan tidak melulu karya desain interior, tapi banyak pula karya seni rupa semacam lukisan, patung, dan instalasi. Sumartono (kurator pameran) mengungkapkan bahwa karya-karya yang ditampilkan merupakan kegelisahan dalam mencari jati diri.

Secara keseluruhan karya karya itu sesungguhnya telah mengantarkan seniman pada sebuah jalan panjang menuju kreativitas sejati yang sering juga disebut kreativitas tinggi (high creativity). Jalan ini lah yang selama ini ditempuh oleh para seniman kontemporer atau seniman alternatif yang terus-terusan bereksperimen membuat karya dengan berbagai media (mixed media), tidak melulu cat minyak. Mereka adalah para desainer/seniman yang obsesi ekperimentalnya lebih kuat daripada obsesi komersialnya.

Leonardo Krisna selaku ketua pameran menyatakan pameran buka pintu ini merupakan gerakan desain interior baru—bentuk apresiasi untuk mendapatkan ruang baru yang secara bebas, “tidak” terpaku pada berbagai gaya yang umumnya dikenal, seperti gaya minimalis, klasik, pop, atau tropis. Krisna juga menyayangkan jika anak bangsa meninggalkan identitas keindonesiaan mereka dan sekarang lah saatnya mempopulerkan karakter Indonesia. “Saatnya desainer muda untuk bangkit, jangan takut pada konsep liar dalam berkarya dan jangan lupakan tanah airmu,” tandas pengagum Romo Mangunwijaya itu.

Sumartono, menambahkan bahwa karya yang ditampilkan di “Buka Pintu” menarik, karena telah keluar dari penjara spesialisasi desain interior. Ini adalah sebuah kelintasbatasan yang tidak membedakan kotak-kotak akademis. Bahkan, dengan tegas, Sumartono memberi nilaiA+++ akan gerakan lintas batas tersebut.

 

Identitas Indonesia

Pameran ini mengusung tujuan mempopulerkan identitas Indonesia dengan kekayaan dan keanekaragaman budaya, mulai dari kisah wayang, rumah adat, batik, jamu gendong, dangdut, dan sebagainya.

Ketika menginjakkan kaki kedalam galeri, pengunjung langsung disambut dengan karya kursi eksperimental dari Leonardo Krisna berjudul Awak Beras Kencur Balung Pasak Bumi. Berujud kursi dengan sandaran berbentuk wanita yang memiliki buah dada besar. Karya ini menceritakan realita kehidupan sosial seorang penjual jamu yang merangkap menjadi seorang pekerja seks komersial. Ketika pengunjung mencoba duduk, mereka berkomentar seperti bersandar pada wanita atau kondisi berkendara dengan pacarnya. Seorang pengunjung yang baru tiba dari Jepang,  Artbanu, berkomentar setelah duduk di kursi tersebut dia teringat masa Sekolah Menengah Atas.

Lain pula dengan Cething Kalindih karya Redhi Maha Sukmawan yang mengangkat masalah cething (tempat nasi tradisional) yang mulai terkalahkan oleh tempat nasi modern semacam magic jar. Redhi prihatin bahwa cething yang dahulu sangat berguna, sekarang sudah tak berarti dan terlupakan. Barang yang dialihfungsikan menjadi sebuah standing lamp dan table lamp ini akan terus hidup di hati Redhi sebagai ingatan akan masa kecilnya. Bapak Arjon (ketua umum HDII) nampak terkesan yang terungkap pada sesi diskusi kreatif.

Sementara Kamar Goyang Abang Ical, sebuah karya instalasi ruang, menampilkan instalasi kamar yang kental dengan unsur dangdut koplo, mulai dari kasur bersepraikan lukisan mural, lampu kelap-kelip, hingga aksesori seperti tamborin dan poster wanita wanita hot. Juga dilengkapi video art (stop motion) tentang kehidupan dangdut ditambah sound musik dagdut yang bergema kencang membuat semua orang yang berada di kamar tersebut ingin bergoyang. Menurut Ical, karya tersebut merupakan bentuk penggambaran realita sosial bahwa terdapat pergeseran persepsi terhadap musik dangdut, sehingga musik dangdut/koplo menjadi identik dengan hal porno dan erotis.

Karya eksperimental dengan material pasir pulau Lombok dengan judul Jangan Sepertiku ditorehkan Huri Arlika. Menurut Artbanu karya tersebut sangat menyatu dengan jiwa Huri disimak dari karya yang berbahan pasir pantai dan konsep kepiting yang terpenjara.

Agni Soekoco menampilkan Tekad Menggapai Asa berupa table lamp, Rio Loronkkosonk dengan karyanya Imagine the Immortality Lorongkkosonk s Character yang berupa kursi dilengkapi maket joglo fantasi yang monumental, lalu Yan Rahma “Warnojiwo” memajang karya berbentuk lampu dengan artistik poci terbang yang mencucurkan warna merah darah.

 

Diskusi Kreatif

Selain pameran, juga diselenggarakan diskusi kreatif dengan topik Identitas Indonesia dalam Berkarya dengan pembicara Sumartono (pengamat senirupa), Eko Prawoto (arsitek), dan Indie Guerillas (seniman/desainer). Diskusi mengerucut pada pemahaman bahwa kekayaan Indonesia yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Seniman dan masyarakat luas berhak dan wajib ambil bagian dalam menjaga, mengembangkan, dan mengenalkan kepada khayalak, hingga ke mata dunia.

Pameran “Buka Pintu” pada dasarnya merupakan kegiatan sebagai proses pembelajaran dan pendewasaan yang berguna untuk pengembangan karya yang mengarah pada kebudayaan Indonesia yang beragam dan terus berkembang. Karya-karya yang dihasilkan diharapkan memiliki struktur yang mampu bertahan terhadap penilaian lintas budaya. Pertanyaan reflektif pun mengemuka: bisakah peserta pameran ini tetap berada di jalur eksperimen lintas batas nantinya? Sebuah jalur yang dimiliki oleh mereka yang obsesi ekperimentalnya lebih kuat dari obsesi komersialnya!

  Artikel lainnya
Perspektif Identitas dalam Kelahi Piktografis
Seven Lights menyatukan identitas khas perupa dalam format kelahi piktografis. Berhasilkah mereka menampilkan konsistensi ideologi visual masing-masing?
Jejak Biografi yang Kabur
Pauh menggelar pameran tentang identitas. Sebuah kritik atas modernisme yang menghilangkan identitas menjadi, katakanlah, sekadar kartu nama.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com