Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Sabtu, 11 September 2010 | 06:00 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: News - Edisi: 119/XI/2010

Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
01-06-2010 17:35:03

Foto Dok. I Wayan Rai
Setiap manusia pada prinsipnya ingin membangun eksistensi kehidupannya. Karenanya, tak jarang manusia melakukan aktivitas sosial demi merealisasikan keinginan tersebut. Salah satu di antaranya adalah mengorbankan pikiran dan tenaga (bahkan juga harta benda) agar apa yang dilakukan bermanfaat untuk pribadi, lingkungan masyarakat, dan Negara.
Namun demikian, sekalipun mendedikasikan pikiran dan tenaga adalah citraan rasa tanggung jawab manusia sebagai mahluk sosial, tapi tidak sedikit yang memiliki pandangan berbeda. Dedikasi dianggap pengorbanan yang layak untuk diri sendiri atau kelompok, dari pada untuk kepentingan universal. Indikasi ini bisa dicermati dari serangkaian kejadian yang kian marak. Misalnya, korupsi, mafia hukum, separatisme, kekerasan yang dilatari ideologi agama dan lain-lain.
Wayan Rai menyampaikan pandangan kritis tentang makna dedikaksi dari perspektif budaya, serta peranannya dalam pembangunan mental bangsa. Di kediamannya yang sederhana, tapi representatif untuk menimba ilmu dan kesenian—selain perpustakaan, di rumah ini juga terdapat tempat latihan seni tradisional Bali—Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini mengingatkan, ”Dedikasi sejatinya tak hanya menyangkut hubungan antarmanusia. Tapi, juga antara manusia dengan alam, maupun manusia dengan Tuhan. Pandangan ini tak lepas dari konsep Tri Hita Karana yang pada hakekatnya mengajarkan keselarasan hidup. Berangkat dari sosiokultural Bali yang agamis, egaliter, dan adaptif inilah, maka dalam memahami semua persoalan, yang diutamakan tidak hanya nilai-nilai moralitas, tapi juga nilai-nilai spiritualitas. Ini harus diyakini. Karena hal ini tak sekadar tuntunan, melainkan suatu keyakinan.”
Lebih jauh, master enomusikologi lulusan San Diego State University, California, (USA) serta doctor enomusikologi dari University of Maryland, Baltimore County,(USA) ini memaparkan, sesungguhnya konsep Tri Hita Karana tidak hanya milik Bali semata. Seluruh tempat sebenarya juga ada konsep spiritualitas Hindu yang mengajarkan keselarasan hidup tersebut. Hanya, karena telah bermunculan konsep-konsep baru yang pragmatis dan up to date, maka ajaran arif ini mulai ditinggalkan.
Berpijak dari pemikiran ini, I Wayan Rai S berasumsi: terjadinya degradasi moral bangsa adalah tak lepas dari menipisnya nilai-nilai budi pekerti. Oleh karena itu, dalam kapasitasnya sebagai nahkoda institusi yang bertangung jawab atas keberlangsungan seni tradisi, ia ingin membangun pondasi mental bangsa dengan pendekatan kearifan lokal. Baik kearifan lokal yang bersumber dari pendidikan keluarga maupun kearifan lokal yang diajarkan dalam pendidikan formal. Mengapa? Karena keluarga adalah sumber pembentukan kepribadian, sementara pendidikan formal adalah wahana pembelajaran ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Keduanya punya peran menciptakan pondasi yang kokoh demi membangun kembali nilai-nilai kebersamaan, keberagaman, juga sikap toleransi yang kini kian pupus.

Bermula dari Keluarga
Secara umum makna keluarga adalah tali persaudaraan yang terikat dalam garis keturunan. Namun, bagi I Wayan Rai, lebih dari itu. Keluarga menurutnya adalah sistem kehidupan yang terakumulasi dalam nilai-nilai: keluarga inti, lingkungan, masyarakat, budaya, serta agama yang diyakini. Fenomena keluarga yang demikian akan mempengaruhi perilaku individu maupun kelompok sosial dalam menapaki kehidupan selanjutnya. Bermula dari keluarga yang dibentuk secara kultur inilah I Wayan Rai S tumbuh menjadi pribadi yang penuh dedikasi, setia, dan patuh terhadap simbol-simbol tradisi. Ini rupanya yang mengantarkannya menemukan kebahagiaan hidup. Ia mengisahkan, di tengah kesulitan hidup—neneknya jualan kayu bakar, ibunya jualan nasi, dan ia sendiri jualan pisang goreng atau mencari tumbuhan paku untuk di jadikan makanan—ia tidak pernah pasrah, tapi justru semakin tekun, dan giat belajar. Ketika anak-anak sebayanya menyerah pada keadaan, sampai tidak bersekolah, ia justru terus berusaha menimba ilmu sampai akhirnya mendapatkan apa yang di cita-citakan.
Dari pengabdian yang ikhlas tanpa pamrih inilah, akhirnya sampai menggiringnya pada strata kehidupan yang cukup mapan: dua kali terpilih jadi Rektor ISI Denpasar. Namun, sekalipun apa yang dicita citakan sudah tercapai, ini bukanlah akhir dari suatu perjuangan. Justru sebaliknya, ia menghadapi tantangan jauh lebih besar seiring meningkatnya persaingan yang semakin kompetitif. Oleh karena itu, agar apa yang dihadapi bisa membuahkan prestasi, ia pun berusaha membuat kebijakan-kabijakan yang berdampak pada kemajuan institusinya.

Kampus Sebagai Lahan Pengabdian
Akhirnya, pelajaran hidup penuh keniscayaan tersebut tidak hanya diajarkan pada keluarganya, tapi juga pada mahasiswa, maupun masyarakat umum. Dengan harapan, akan tumbuh kesadaran bahwa eksistensi keluarga dan budaya pada dasarnya sangat berpengaruh dalam pembentukan jati diri.
”Saya sangat kaget ketika melihat murid-murid saya di Amerika menunjuk pakai kaki. Bukan pakai tangan sebagaimana sering kita lakukan. Barangkali hal itu memang biasa bagi orang Amerika. Tapi apakah hal tersebut juga boleh dilakukan di negara kita? Ini yang perlu kita pikirakan. Jangan sampai tradisi bangsa sendiri malah tergeser oleh tradisi bangsa lain. Oleh karena itu sejak kecil saya selalu menanamkan pelajaran budi pekerti terhadap kedua anak saya malalui pendekatan budaya. Misalnya, saat menjelang tidur, saya selalu mendongengkan kisah pewayangan, agar selain mereka bisa belajar seni tradisional, juga bisa memetik pelajaran dari ceritacerita yang saya dongengan,” tutur Ketua Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS PTSI) itu.
Ia berharap, institusi kesenian yang dipimpinnya tak sekadar jadi laboratorium ilmu dan tempat pelatihan kreativitas, tapi juga berfungsi sebagai ruang pembelajaran kehidupan. Maka, setiap mahasiswa, selain wajib belajar ilmu pengetahuan dan ketrampilan berolah seni, juga wajib belajar kearifan lokal. Misalnya, memahami: mengapa Tri Hita Karana mengajarkan manusia harus menghormati alam dan Tuhan. Mengapa manusia selalu diidentikan dengan lingkungan: Tumpak Krunut (untuk tumbuh-tumbuhan), tumpak kandang (untuk binatang), tumpak.....dan lainlain. Mengapa pohon-pohon di Bali selalu dihormati, dan kalau menebang harus digati. Dan yang tidak kalah penting, mengapa masyarakat Bali selalu menyebut menyame braye atau ”saudara” pada semua masyarakat yang bukan Bali: Nyame Slam (saudara Islam), Nyame Kristen (saudara Kristen), Nyame Bhuda (saudara Bhuda) dan lain-lain.
Sesuai dengan spirit Tri Darma Perguruan Tinggi, lembaga kesenian ini diharapkan tak hanya mampu mencetak generasi cerdas, pandai, trampil, dan kreatif, tapi juga memiliki nilai-nilai budi pekerti. Apalagi, dengan maraknya kehadirian lembaga pendidikan yang pengajarannya lebih ke budaya luar. ”ISI Denpasar harus benar-benar mampu menghadapi tantangan itu,” tegasnya.
Adapun dalam kerangka mencetak generasi cerdas itu, ISI Denpasar memberikan ruang pada peneliti peneliti muda—tak hanya dosen tapi juga mahasiswa—untuk mengembangkan wawasannya di bidang pengetahuan. Upaya ini dimaksudkan agar tercipta suatu keseimbangan antara kemampuan motortik dan koknitif civitas akademik di sana. Sudah semestinya seorang seniman tidak hanya dituntut untuk mahir mengolah daya krerativitasnya, tapi juga harus mampu merumuskan gagasan konseptualnya. Selanjutnya, ISI Denpasar juga aktif mengadakan kegiatan-kegiatan ilmiah seperti diskusi, seminar, sarasehan workshop komprehensif dan lain-lain yang, antara lain, untuk mengatahui hubungan kontekstual antara warisan budaya masa lalu dengan kehidupan saat ini.

Pusat Konservasi dan Pengembangan Seni Tradisi
Sebagai pemikir yang juga memiliki latar belakang Kreator musik—komposisinya yang berjudul Terompong Beruk pernah ditampilkan di Pekan Komponis Muda Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 1982 Wayan Rai sangat menyadari bahwa untuk menghadapi tantangan zaman, selain harus berfikir mengenai pemeliharaan seni tradisi, Bali khususnya, juga wajib berfikir ke arah pengembangannya. Sekalipun pada tataran implementasi hal ini tidak mudah. Sebab, selain harus memiliki kapabilitas dari segi teori dan konsep, ia juga harus berhadapan dengan adat dan keyakinan masyarakat.
Oleh karena itu, Wayan Rai menawarkan beberapa konsep. Antara lain, setiap mahasiswa atau dosen yang berkarya dengan pendekatan kekinian, konsepnya harus jelas. Identitas, landasan teoritiknya, pemahaman sejarah, serta bekal ketrampilan yang dimiliki harus memadai. Upaya ini diberlakukan kirakira untuk mengeliminasi penyimpangan dalam hal penggunaan materi-materi kesenian. Agar jangan sampai, maunya mencipta kontemporer tapi ternyata para empu karawitan zaman dulu sudah melakukan hal seperti itu.
”Ini bukan persoalan boleh atau tidak. Hanya supaya pondasinya kuat, dan jelas apa landasan kosepualnya. Karena, dalam mencipta suatu komposisi kita harus tahu, yang dikembangkan itu apakah keidahan bentuk wujud atau keindahan isi. Selain itu, pendalaman konsep juga harus jelas. Karena konsep, dalam perspektif kontemporer tidak bisa dipisahkan dari seni itu sendiri,” terangnya.
Apa yang dikemukakan tersebut, menurutnya, adalah ilmu abadi yang ia terima dari guru idolanya, Gusti Putu Geria—guru karawitan legendaris yang pernah mengajar di Konservatori Karawitan (KOKAR), Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), dan terakhir bekerja sebagai pegawai Radio Republik Indonesia (RRI) Denpasar. Dari gurunya itu ia memahami bahwa seorang pemain karawitan sebaiknya tak hanya cakap memainkan gamelan, tapi juga harus pintar membuat lagu dan setelah itu mendiskusikan konsepnya.
Selain berupaya menjadikan ISI Denpasar sebagai laboratorium pengembangan seni modern atau kontemporer, penguatan terhadap seni tradisi pun juga terus digalakkan. Dengan cara: aktif mengikuti event-event skala nasional maupun internasional, juga aktif melakukan pembinaan terhadap generasi muda agar tidak meninggalkan akar tradisinya. Upaya ini, menurut Wayan Rai, adalah untuk menciptakan keseimbangan agar target lembaga pendidikan ISI Denpasar bisa terpenuhi. Yakni, menjadi salah satu lembaga pendidikan seni berbasis keunggulan lokal berwawasan internasional.

Pondasi ”Maya” untuk Bangsa Negara
Pada akhirnya, gugus pemikiran I Wayan Rai ini bisa dijadikan pembelajaran bahwa dedikasi dengan kearifan lokal mesti dipahami sebagai sistem kehidupan yang tak bisa dipisahkan dari keluarga, budaya, alam lingkungan, masyarakat, dan keyakinan. Dari sini, ia sangat berharap bahwa nilainilai budi pekerti kembali digali dan di ajarkan.
”Apakah anak-anak sekarang mau dengan sukarela mengikuti upacara bendera? Coba cek berapa banyak siswa yang hafal lagu kebangsaan kita? Tapi coba kalau kita ajak berdangdut ria, wah, pasti luar biasa senangnya! Sedikit-sedikit demo, segel kantor, kampus. Makanya demokrasi itu harus jelas maknanya. Demokrasi mana yang cocok dan wajib diterapkan di Indonesia.” Ia mempertanyakan wawasan kebangsaan dan demokratisasi pada generasi muda.
Bagaikan arus air yang meyusuri tubuh sungai: tenang tapi menghanyutkan. Kata-kata satir yang diujarkan suami I Gusti Ayu Srinatih serta bapak dua putra I Gde Agus Jaya Sadguna dan I Gde Made Indra Sadguna tersebut, tidak saja mengantar pada hulu kecerdasan, tapi juga pada dermaga pencerahan. Karena, di tengah situasi bangsa yang carut marut ini—para pemimpin mulai enggan membicarakan pengabdian, kecuali hanya gemar berbicara strategi meraih kekuasaan—ia justru merancang suatu gagasan menciptakan “pondasi” demi pembangunan mentalitas anak negeri.
Telaah kritisnya terhadap nasib bangsa itu akan diwujudkan dalam sebuah buku berjudul: Membangun Pondasi ”Maya” Lewat Seni. Secara kompilatif, narasi pokok buku ini sudah disampaikan dalam forum-forum penting, semacam Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 di Bogor—dalam kaitan ini ia didaulat sebagai pembicara dengan makalah: Pemberdayaan Seni Pertunjukan Indonesia Di Era Gelombang Keempat—atau dalam pertemuan Forum Guru Besar di Jakarta pada Januari 2010, serta ceramah ilmiah di hadapan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Kabupaten Giayar. Intinya buku ini ingin mengingatkan arti penting membanggun moral bangsa, ditelaah dari sudut pandang kesenian—Sebuah apresiasinya terhadap kekisruhan yang terjadi dalam konstelasi kehidupan berbangsa dan bernegara, yang dipicu ulah penguasa atau elit politik yang saat menerapkan kebijakan, tak lagi mengedepankan asas persatuan dan kesatuan tapi berpihak pada kepentingan pribadi dan golongannya sendiri.
Namun, sekalipun nasibnya ibarat karang yang lantah ditiup angin—tersebar hingga serpihanya musnah tak membuahkan jawab, kecuali hanya menyisahkan narasi besar tentang negeri gemah ripah loh jinawi yang saban hari harus menumpahkan air mata di buminya sendiri—buku ini tetap penting diterbitkan. (*)

(Agus Bing)


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com