Delapan
orang pemuda gagah bertelanjang dada sambil memegang tombak merah (kalait)
memasuki panggung. Dengan berkalung manik-manik (inong) dan hanya
beralaskan rumbai-rumbai yang sederhana (kombutok) untuk menutupi bagian
bawah tubuhnya, mereka berjalan membuat lingkaran. Di tengah panggung teronggok
batang pohon pisang kecil yang telah ditusuk oleh sebuah tombak putih. Terkadang
mereka membuat gerakan kaki dan tangan yang sama sambil sesekali berteriak
untuk membangkitkan semangat sesama mereka. Musik dari beberapa gong dan
gendang membuat gerakan mereka terasa semakin kuat.
Mereka
adalah rombongan pemburu atau topidau suku Sea-Sea yang sedang mencari hewan
buruan. Dengan tombak digenggam di atas kepala, lingkaran itu mencari, membidik,
dan mengepung pusat lingkaran yang diandaikan menjadi hewan buruan. Beberapa
saat kemudian mereka menancapkan tombak mereka secara serentak ke batang pohon pisang
tadi. Segera terbentuk delapan tombak merah yang mengitari “hasil buran”.
Kedelapan
pemuda tadi sesaat bersuka ria dengan menari melingkari hasil buruan. Kemudian
mereka duduk dan membaca mantra yang semakin lama semakin keras dan mencapai
puncaknya ketika mereka terbaring dalam keadaan trance. Mantra itu ternyata
berisi doa kepada dewa agar hasil buruan mereka menjadi makanan yang berguna
buat mereka, bukan malah menjadi bencana buat mereka.
Adegan pemujaan atas rasa syukur
yang disebut talapu ini kemudian diikuti gerakan-gerakan Toluni
dan Osulen yang sepertinya nampak sebagai ungkapan kegembiraan. Ternyata
gerakan itu adalah gerakan untuk memasukkan roh-roh gaib yang disebut Talapu
ke dalam tubuh mereka.
Aksi Turunan
Pemburu
Demikian
gambaran tari Ulap atau tari berburu yang dimainkan Sanggar Budaya Lipuadino
Kecamatan Bulagi Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Propinsi Sulawesi Tengah.
Tari ini dimainkan pada malam pertama Festival Banggai yang diselenggarakan di Kota
Luwuk untuk menyambut hari jadi Kerajaan Banggai yang ke 410. Perayaan berlangsung
pada 10 hingga 16 Mei lalu.
Tari
ini dimainkan oleh anak-anak SMA Kecamatan Bulagi Selatan, salah satu kecamatan
di Kabupaten Banggai Kepulauan. Mereka bukan orang yang belajar tari di akademi
atau kursus dalam waktu yang menahun. Namun, baru saja bergabung pada satu-satunya
sanggar di kecamatan yang cukup jauh dari pusat kota Luwuk.
Mereka
adalah anak keturunan suku Sea-Sea, suku pedalaman yang menempati pegunungan Pipikemo
di Banggai Kepulauan sekitar 1000 meter lebih di atas permukaan laut. Mereka
bukan lagi pemburu, namun telah menjadi pelajar. Tetapi di tubuh mereka
mengalir “darah” pemburu atau mangalus yang mereka dapat dari orang tua
mereka yang masih tinggal di Desa Osan Lemelu. Berjarak 50 kilometer dari
Lolantak, ibu Kota Kecamatan Bulagi Selatan, desa ini harus ditempuh lagi
dengan 8 kilo mendaki gunung.
Menurut
Ahas Weros, “koreografer” tari Ulap yang sebenarnya seorang pegawai Tata
Usaha SMP di Bulagi Selatan, anak-anak itu hanya berlatih seminggu. Dengan mencontohkan
gerak dan membangkitkan memori mereka pada orang-orang tua mereka di kampung,
Ahas Weros yang juga anak keturunan suku Sea-Sea, menyulap anak-anak sekolah itu
seolah-olah menjadi “penari professional” yang paham betul makna gerak yang
mereka bawakan. Bila mereka menjadi “bintang” pada malam hari itu, tidak ada
yang perlu diherankan. Anak-anak suku Sea-Sea yang sudah sekolah itu, “hanya”
menampilkan sekelumit kehidupan keseharian orang tua mereka yang dikemas dalam
tari berburu—sesuatu yang dekat dalam memori mereka.
Ahas
Weros pun senang. Penampilan anak asuhnya melebihi dari apa yang dia harapkan.
“Karya” tarinya mampu menyedot perhatian penonton karena unik di tengah penampilan
tari kreasi baru lainnya pada malam itu. Kesederhanaan penampilan, tanpa baju serta
aksesoris apa adanya, memang menjadi kontras dengan rata-rata penampilan
kesenian kreasi baru lainnya yang ditampilkan. Mereka berada di tengah lautan
busana daerah yang berwarna menyala, kemilau aksesoris dan make up wajah
keluaran salon kecantikan.
Mudah dan
Murah
Ibu
Rusmani, pembina sanggar sekaligus penata busana tari ini, memang sengaja menginginkan
penampilan yang sedapat mungkin mendekati keseharian orang Sea-Sea. Guru SMA
yang juga masih berdarah Sea-Sea ini mempunyai beberapa alasan untuk hal ini: di
sanggarnya tidak mempunyai ahli penata tari, penata musik ataupun penata busana
yang mampu membuat karya-karya kreasi baru. Sehingga, apa yang ada pada mereka,
terutama kebudayaan masyarakat adat terpencil suku Sea-Sea menjadi sumber
penciptaan seni mereka.
Sanggar
ibu Rusmani tidak lagi kebingungan mencari materi bila ada undangan festival
baik mewakili kecamatan Bulagi Selatan di tingkat Kabupaten maupun mewakili Kabupaten
Banggai Kepulauan di tingkat Propinsi Sulawesi Tengah. Kebudayaan Suku Sea-Sea
adalah tambang budaya yang tidak akan habis untuk digali.
Selain
itu, menurutnya, dengan menjadikan kehidupan keseharian orang Sea-Sea sebagai
sumber inspirasi produk sanggarnya, dia terbantu untuk menekan biaya produksi. Busana,
aksesoris, property, alat musik sudah ada, sederhana dan mudah dibuat
atau didapatkan. Penarinya tidak perlu ke salon, karena mereka mempunyai konsep
sendiri tentang make up wajah dengan bahan yang di dapat di hutan. Mereka
tidak perlu menyewa kostum di tempat penyewaan atau membuatnya dari bahan yang
mahal. Hutan di desa Osan Lemelu menyediakan bahan yang tidak akan habis
untuk dibentuk sendiri menjadi busana dan perlengkapan tarian.
Cita-cita
Ahas Weros dan Ibu Rusmani tentang sanggar mereka sekaligus sebagai anak
keturunan Sea-Sea cukup sederhana: mereka ingin agar budaya nenek moyangnya
dapat dikenal orang banyak. Mereka ingin pergi ke beberapa tempat di Kabupaten
Banggai Kepulauan dan di Propinsi Sulawesi Tengah untuk menampilkan kesenian
mereka.
Adapun anak keturunan Suku Sea-Sea yang sekarang
menjadi anak sekolahan itu, sangat senang dengan mempunyai profesi tambahan
sebagai “penari”. Mereka akhirnya, untuk pertama kalinya, dapat melihat kota
Luwuk, ibu kota Kabupaten Banggai secara gratis. Hal yang sulit mereka lakukan
bila harus membiayai perjalanannya sendiri, karena ongkosnya yang terlalu mahal
untuk ukuran kantong mereka.