Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Sabtu, 11 September 2010 | 08:00 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Panggung - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  02  03  
Festival Kesenian Indonesia 2009
Fluiditas Seni Melesap Tanpa Batas
Oleh: Samsara Gupta, Penikmat seni, tinggal di Jakarta.

Untuk kesekian kalinya FKI digelar. Berharap para penyaji menjadi pelopor pasukan kreatif Indonesia.

Malam itu, Kamis 8 Oktober 2009. Udara masih hangat, banyak orang berkumpul di depan gedung Graha Bhakti Budaya–Taman Ismail Marzuki (TIM), menanti pentas kolaborasi musik kontemporer dan animasi. Beberapa orang mencoba menarik perhatian calon penonton, mungkin juga untuk mengalihkan perhatian: pertunjukan pantomim, di-screening dengan alat mainan, orang berbaju lurik Jawa dengan sepeda kumbangnya yang mondar mandir dan bahkan, lelaki bertelanjang dada, dengan handuk melilit di pinggang dan membawa gayung air, menanyakan di mana letak kamar mandi pada orang yang sedang asyik bercengkerama. Hadirin tergelak dengan tingkah mereka.

Lalu terdengar bunyi gong dipukul sekali. Penonton pun mulai memasuki gedung pertunjukan. Lampu temaram dengan lampu spot bercahaya minimalis menerpa piano Steinway & Sons buatan Jerman dan Amerika yang bertengger di atas panggung. Ia terlihat gagah dengan warna hitamnya yang pekat. Kelak ia akan dimainkan oleh David Rosenboom, seorang komponis dari Amerika. Sementara di bawahnya, terjajar rapi seperangkat gamelan Bali: pemade, jegog, calung, kantilan, ceng-ceng calung, kempi dan gong. Membayangkan ditabuh membuat dada berdesir karena akan membawa kepada sebuah keriangan musik khas Bali.

 

Exploring Root of Identity

I Nyoman Wenten memainkan pemade ketika David Rosenboom memainkan komposisi berjudul Impression dari album “How Much Better if Playmouth Rock Had Landed on The Pilgrim”. Karya ini disertai visualiasi karya Maureen Selwood pada layar besar persis di bagian belakang. Baik Selwood, Rosenboom dan Wenten, ketiganya merupakan doktor/master musik dan visual art lulusan California Institute of The Arts. Usai komposisi itu mereka membawakan dua repertoar berikutnya: Titi Alit (Small Bridge) karya I Nyoman Wenten dan Humanity karya Rosenboom.

Kedatangan mahasiswa California Institute of The Arts bukan saja untuk sebuah pertunjukan tunggal yang memang sengaja menampilkan mereka. Mereka berpentas sekaligus unjuk gigi dalam festival dua tahunan bertajuk Festival Kesenian Indonesia VI. Sebuah festival yang dimulai pada tahun 1999 dan melibatkan Perguruan Tinggi Seni di Indonesia dan menjadi pesta akbar bagi 750 peserta tahun ini.

Dari sebelas perguruan tinggi yang turut serta, lima di antaranya merupakan perwakilan dari universitas seni di California, Taiwan, Malaysia, Filipina dan Singapura. Sementara tujuh perguruan tinggi seni Indonesia yang turut ambil bagian dalam festival ini adalah: Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ISI Denpasar, ISI Surakarta, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, STSI Bandung, dan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatika (STKW) Surabaya.

Festival bertema Exploring Root of Identity ini berlangsung tanggal 5 hingga 24 Oktober 2009. Musik, teater, tari, seni rupa hingga film disajikan melalui beragam kegiatan, seperti seminar, pertunjukan, pameran dan film festival, karnaval hingga workshop.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS-PTSI) dengan pelaksana Institut Kesenian Jakarta (IKJ) bertujuan untuk menjalin kerjasama antar Perguruan Tinggi Seni Indonesia. “Festival ini juga diharapkan bisa menjadi forum dialog intercultural, forum kerjasama menuju world class university, forum pengembangan wacana akademik sekaligus barometer BKS-PTSI dalam inovasi dan penciptaan seni,” ungkap Melina Surya Dewi dalam sambutannya. Sementara Wagiono Sunarto, Rektor Institut Kesenian Jakarta sekaligus Ketua Umum FKI ke-6, mengatakan, kegiatan seperti ini diharapkan dapat menciptakan karya dan kreasi baru yang dapat memperkaya seni budaya Indonesia.

Pengambilan tema Exploring Root of Identity menangkap perkembangan seni yang telah luas bergerak melebur batas-batas media ungkap dan kebebasan berekspresi. Para seniman pun menjadi mampu melakukan penjelajahan estetik dan ruang-ruang baru yang tercipta tersebut.

Sebagai konsep dasar penyelenggaraan festival dan prinsip kuratorial, tema ini tidak diartikan secara terbatas sebagai upaya penciptaan kreasi seni baru atau seni kontemporer berdasarkan inspirasi dari budaya tradisional yang telah mengakar. Tema ini justru lebih menekankan pada dialog lintas budaya dan lintas disiplin. Di sisi yang sama, tema ini juga mengandung makna suatu upaya bersama untuk menjelajah dan mencari gagasan-gagasan baru sambil tetap mendasarkannya pada pertanyaan hakiki dan konteks kultural yang ada pada setiap seniman.

 

Pasukan Kreatif

Akhirnya, festival yang berlangsung dari 5-24 Oktober 2009 ini diharapkan bisa dilangsungkan lebih intensif dalam format tahunan, dan memiliki kontribusi dalam pemberdayaan industri kreatif. Direktur Jenderal Pendidikan Indonesia, Fasli Jalal, mengatakan, pelaksanaan ini tidak boleh berhenti sebagai festival, namun menjadi pendorong untuk pemikiran dalam pengembangan sumber daya manusia kesenian sebagai pelopor pasukan kreatif.

Tak heran jika pada saat pembukaannya mereka menggelar karnaval yang mengangkat masalah kehidupan tradisi dalam lingkungan urban serta masalah lingkungan hidup dan plastik. Tema ini kemudian diejawantahkan dalam berbagai kreasi kostum, gerak dan musik.

Selanjutnya terdapat konser gamelan yang menampilkan tiga jenis gamelan yang jarang dimainkan yaitu; Gamelan Slonding (Bali), Gamelan Sekaten (Solo), dan Gong Renteng (Jawa Barat). Sehari setelahnya digelar pula orkes simfoni yang dipersembahkan oleh 83 pemusik yang terdiri dari dosen, alumni dan mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang mempersembahkan komposisi musik Barat dan musik Nusantara.

Tak hanya musik, Festival Kesenian Indonesia kali ini juga mempertontonkan kolaborasi tari kontemporer, workshop pantomime mahasiswa, workshop tari internasional, festival film internasional dan pameran seni rupa.

  Artikel lainnya
Tari Pemburu dari Sea-Sea
Sebuah rekonstruksi tarian perburuan oleh siswa sekolah. Tak latah untuk memoles diri ala salon kecantikan.
Menggugat Indonesia Lewat MCAF
Medan menyuguhkan festival seni kontemporer. Usaha untuk menghadirkan keindonesiaan dalam kreasi seni cukup terasa.
Hari Tari dan Semangat Noverre
Hari kelahiran Noverre ditahbiskan sebagai hari tari dunia. Jangan terhenti pada sorak sorai pesta.
Ketidakselesaian Rahwana Sinta
Rahwana sang antagonis mengajukan gugatan. Melawan tafsir dominan yang tersakralisasi.
Laku Kontemplatif Menuju Keseimbangan
Tarian yang menyentak pentingnya kontemplasi. Koreografer Iskandar Muda mengajak meretas kekang nafsu.
Tambora Art Moment
Sentuhan Pertama di Dusun Terpencil
Sebuah pesta seni digelar di dusun kaki Gunung Tambora, Dompu. Seorang individu, Naniek I Taufan, tergopoh menyiapkan seluruh ubo rampenya.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com