Malam itu, Kamis 8 Oktober 2009.
Udara masih hangat, banyak orang berkumpul di depan gedung Graha Bhakti
Budaya–Taman Ismail Marzuki (TIM), menanti pentas kolaborasi musik kontemporer
dan animasi. Beberapa orang mencoba menarik perhatian calon penonton, mungkin
juga untuk mengalihkan perhatian: pertunjukan pantomim, di-screening
dengan alat mainan, orang berbaju lurik Jawa dengan sepeda kumbangnya yang
mondar mandir dan bahkan, lelaki bertelanjang dada, dengan handuk melilit di
pinggang dan membawa gayung air, menanyakan di mana letak kamar mandi pada
orang yang sedang asyik bercengkerama. Hadirin tergelak dengan tingkah mereka.
Lalu terdengar bunyi gong dipukul
sekali. Penonton pun mulai memasuki gedung pertunjukan. Lampu temaram dengan
lampu spot bercahaya minimalis menerpa piano Steinway & Sons buatan Jerman
dan Amerika yang bertengger di atas panggung. Ia terlihat gagah dengan warna
hitamnya yang pekat. Kelak ia akan dimainkan oleh David Rosenboom, seorang
komponis dari Amerika. Sementara di bawahnya, terjajar rapi seperangkat gamelan
Bali: pemade, jegog, calung, kantilan,
ceng-ceng calung, kempi dan gong. Membayangkan ditabuh membuat dada
berdesir karena akan membawa kepada sebuah keriangan musik khas Bali.
Exploring Root of Identity
I Nyoman Wenten memainkan pemade ketika
David Rosenboom memainkan komposisi berjudul Impression dari album “How
Much Better if Playmouth Rock Had Landed on The Pilgrim”. Karya ini disertai
visualiasi karya Maureen Selwood pada layar besar persis di bagian belakang. Baik
Selwood, Rosenboom dan Wenten, ketiganya merupakan doktor/master musik dan visual
art lulusan California Institute of The Arts. Usai komposisi itu mereka
membawakan dua repertoar berikutnya: Titi Alit (Small Bridge)
karya I Nyoman Wenten dan Humanity karya Rosenboom.
Kedatangan mahasiswa California
Institute of The Arts bukan saja untuk sebuah pertunjukan tunggal yang memang
sengaja menampilkan mereka. Mereka berpentas sekaligus unjuk gigi dalam festival
dua tahunan bertajuk Festival Kesenian Indonesia VI. Sebuah festival yang dimulai
pada tahun 1999 dan melibatkan Perguruan Tinggi Seni di Indonesia dan menjadi pesta
akbar bagi 750 peserta tahun ini.
Dari sebelas perguruan tinggi
yang turut serta, lima di antaranya merupakan
perwakilan dari universitas seni di California,
Taiwan, Malaysia, Filipina dan Singapura.
Sementara tujuh perguruan tinggi seni Indonesia yang turut ambil bagian dalam
festival ini adalah: Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Institut Seni Indonesia
(ISI) Yogyakarta, ISI Denpasar, ISI Surakarta, Sekolah Tinggi Seni Indonesia
(STSI) Padangpanjang, STSI Bandung, dan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatika
(STKW) Surabaya.
Festival bertema Exploring
Root of Identity ini berlangsung tanggal 5 hingga 24 Oktober 2009. Musik,
teater, tari, seni rupa hingga film disajikan melalui beragam kegiatan, seperti
seminar, pertunjukan, pameran dan film festival, karnaval hingga workshop.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Kerjasama Perguruan
Tinggi Seni Indonesia
(BKS-PTSI) dengan pelaksana Institut Kesenian Jakarta (IKJ) bertujuan untuk
menjalin kerjasama antar Perguruan Tinggi Seni Indonesia. “Festival ini juga
diharapkan bisa menjadi forum dialog intercultural, forum kerjasama
menuju world class university, forum pengembangan wacana akademik
sekaligus barometer BKS-PTSI dalam inovasi dan penciptaan seni,” ungkap Melina
Surya Dewi dalam sambutannya. Sementara Wagiono Sunarto, Rektor Institut
Kesenian Jakarta sekaligus Ketua Umum FKI ke-6, mengatakan, kegiatan seperti
ini diharapkan dapat menciptakan karya dan kreasi baru yang dapat memperkaya
seni budaya Indonesia.
Pengambilan tema Exploring Root
of Identity menangkap perkembangan seni yang telah luas bergerak melebur
batas-batas media ungkap dan kebebasan berekspresi. Para
seniman pun menjadi mampu melakukan penjelajahan estetik dan ruang-ruang baru
yang tercipta tersebut.
Sebagai konsep dasar penyelenggaraan
festival dan prinsip kuratorial, tema ini tidak diartikan secara terbatas
sebagai upaya penciptaan kreasi seni baru atau seni kontemporer berdasarkan
inspirasi dari budaya tradisional yang telah mengakar. Tema ini justru lebih
menekankan pada dialog lintas budaya dan lintas disiplin. Di sisi yang sama,
tema ini juga mengandung makna suatu upaya bersama untuk menjelajah dan mencari
gagasan-gagasan baru sambil tetap mendasarkannya pada pertanyaan hakiki dan
konteks kultural yang ada pada setiap seniman.
Pasukan Kreatif
Akhirnya, festival yang
berlangsung dari 5-24 Oktober 2009 ini diharapkan bisa dilangsungkan lebih
intensif dalam format tahunan, dan memiliki kontribusi dalam pemberdayaan
industri kreatif. Direktur Jenderal Pendidikan Indonesia, Fasli Jalal, mengatakan,
pelaksanaan ini tidak boleh berhenti sebagai festival, namun menjadi pendorong
untuk pemikiran dalam pengembangan sumber daya manusia kesenian sebagai pelopor
pasukan kreatif.
Tak heran jika pada saat
pembukaannya mereka menggelar karnaval yang mengangkat masalah kehidupan
tradisi dalam lingkungan urban serta masalah lingkungan hidup dan plastik. Tema
ini kemudian diejawantahkan dalam berbagai kreasi kostum, gerak dan musik.
Selanjutnya terdapat konser
gamelan yang menampilkan tiga jenis gamelan yang jarang dimainkan yaitu; Gamelan
Slonding (Bali), Gamelan Sekaten (Solo), dan Gong
Renteng (Jawa Barat). Sehari setelahnya digelar pula orkes simfoni yang
dipersembahkan oleh 83 pemusik yang terdiri dari dosen, alumni dan mahasiswa
Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang mempersembahkan komposisi musik Barat
dan musik Nusantara.
Tak hanya musik, Festival Kesenian Indonesia kali
ini juga mempertontonkan kolaborasi tari kontemporer, workshop pantomime
mahasiswa, workshop tari internasional, festival film internasional dan
pameran seni rupa.