Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Sabtu, 11 September 2010 | 07:58 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Panggung - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  02  03  
Gamelan Langka di FKI
Oleh: Aris Setiawan, Etnomusikolog, tinggal di Solo.

Konser gamelan tua meramaikan FKI kali ini. Merangsang Jakarta untuk memperkuat habitus akar budayanya.

Agak berbeda dengan Festival Kesenian Indonesia (FKI) sebelumnya, kali ini lebih greget. Dengan mengangkat “identitas” sebagai tema utama, FKI VI di Jakarta lebih dapat membasahi dirinya dengan bingkai tradisi yang pekat: Mengangkat tradisi di Ibukota.

Hal yang cukup menonjol dapat dilihat dari ragam acara yang disuguhkan. Salah satu acara yang cukup menarik adalah konser “gamelan langka,” yang digelar di Graha Bakti Budaya-Taman Ismail Marzuki (TIM), 6 Oktober 2009, oleh tiga perguruan tinggi seni: Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, dan ISI Denpasar. Malam itu mereka membawa dan seolah menempatkan kembali dirinya sebagai satu pilar penyokong kebudayaan dengan mengangkat idiom tradisi sebagai sebuah identitasnya.

 

Eksotisme Sekaten

Sajian pembuka diisi Gamelan Sekaten dari ISI Surakarta. Gamelan yang tergolong sebagai salah satu yang tertua di antara perangkat gamelan lainnya di Surakarta ini termasuk dalam bingkai gamelan pakurmatan. Bermula dari asal katanya “kurmat,” menunjukkan bahwa sebenarnya gamelan jenis ini dipergunakan sebagai sarana untuk menghormat atau menyembah pada sesuatu. Gamelan ini dimiliki oleh Keraton Kasunan Surakarta, dan hanya dibunyikan setahun sekali untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad, tepatnya pada Nulan Maulud, lazim disebut grebeg maulud.

Sekaten yang selama ini seolah terpenjara pada ruangnya yang “prestisius”, mencoba dihadirkan kembali dengan format yang berbeda oleh Supardi dan AL Suwardi, komponis dari ISI Surakarta. Dengan memakai kostum layaknya para pengrawit (pemusik) keraton, abdidalem, dan kalung samir yang adi luhung, pemusik dari ISI Surakarta seolah membawa kita menapaki jejak-jejak kejayaan keraton di masa silam.

Komposisi musik diawali oleh ricikan bonang, kemudian menghantarkan pada ruang orkestrasi musikal yang begitu kompleks. Empat pesinden yang kehadirannya tidak lazim dalam komposisi musik sekaten, melagukan alunan melodi vokal Jawa yang sesekali harus terbata-bata menyesuaikan dinamika tangga nada gamelan. Memang semua masih dalam tahap eksperimentasi. Segala kemungkinan dapat terjadi.

Gamelan Sekaten itu begitu anggun. Ukurannya lima kali lipat dari gamelan biasa (ageng), dan suaranya begitu menggema, hingga mampu menerobos sekat-sekat perhatian audiens. Sayangnya hal tersebut tidak diimbangi dengan ukuran-ukuran musikal yang ketat. AL Suwardi dan Supardi nampak masih terikat cukup kencang dengan tali ketradisiannya. Barangkali karena latar belakang kedua komposer yang telah melakukan pengembaraan pada sistem pendidikan tradisi yang pekat.

Imbasnya, ketika mencoba kebaharuan sekaten, banyak metrum yang saling tumpang tindih dalam komposisinya. Hal yang cukup terasa ketika pertemuan antara lima rebana dengan gamelan carabalen dengan tempo yang saling tak mau mengalah, alias kehilangan ketukan. Beruntung, komposisi ini diakhiri dengan babak yang menggoda, dinamika yang mulai menghanggat cepat, jalinan permainan yang atraktif namun rapi, cocok dengan nuansa Ibukota yang ramai.

 

Mengulang Tradisi

Bingkai-bingkai tradisi dalam ruang kebudayaan terutama seni yang selama ini kita anggap atau bahkan telah mati, ternyata hanya bersembunyi, dan menunggu saat yang tepat untuk berani menampakkan wujudnya kembali. Mungkin, malam itu adalah saat yang pas di mana Gong Renteng harus muncul. Gong Renteng selama ini terpendam dalam bingkai kesakralannya, tanpa mampu menjadi bentuknya yang lebih populis, yang konon katanya menghendaki takdirnya untuk mati, ternyata membahana dalam panggung pertunjukan TIM yang megah. Begitu apa adanya, tanpa resistensi, tanpa inovasi, dan bergeliat pasti di antara derasnya gesekan nuansa metropolis ibukota.

STSI Bandung yang selama ini terkenal dalam kelincahan jaipongnya, ternyata mampu membawa komposisi musik tradisi sakralnya dengan begitu fasih. Malam itu, tanpa gubahan dan aransemen ulang, mereka menghidangkan komposisi Gamelan Renteng pada warga ibukota. Dengan jalinan instrumen konkoang, cempres, peneteg dan gong yang hampir tanpa cacat, malam itu aroma Sunda telah mengguyur TIM.

Tapi ada satu hal yang seolah terlewat: mereka menyuguhkan oncom pada penggemar pizza. Tanpa dimasak dengan lebih matang dengan bumbu kreativitas yang tinggi, komposisi gamelan renteng malam itu hanya menjadi makanan lama yang seolah mulai “membasi”. Tanpa disadari bahwa seni memiliki sifatnya yang nomadik, dapat dengan lentur bergerak menuruti laju peradaban. Kenapa harus takut untuk memberi bumbu pada tradisi jika racikan bumbu yang lama terasa kurang? Niscaya, Gamelan Renteng sudah selayaknya tidak hanya menjadi sekadar mitos belaka. Dibutuhkan keberanian untuk memperpanjang denyut nadinya, dengan sentuhan kreativitas dan rasa baru yang lebih menggairahkan.

 

Evolusi Gamelan

Dalam terminologi Aristotheles, perkembangan sebuah peradaban itu dimulai pada satu tingkatan yang paling sederhana dan hingga mencapai derajadnya yang semakin kompleks. Kesenian termasuk gamelanpun demikian adanya. Para musisi bali yang pada malam itu menutup pementasan, meyakini bahwa varian gamelan di Bali sebenarnya bermuara pada satu spektrum yang sama. Dengan mengambil tema evolusi gamelan, ISI Denpasar menyajikan empat varian gamelannya. Gamelan Slonding, Gambuh, Semar Pagulingan, dan Gong Gede, kesemuanya saling bertautan, evolutif.

Penjelajahan ruang kreatif malam itu dimulai dengan gamelan yang paling tua, Slonding. Disusul kemudian konser suling Gambuh, Semar Pagulingan dan terakhir yang paling muda, Gong Gede. Layaknya musik Bali yang selama ini sering kita lihat, malam itu begitu atraktif, interloking yang terjadi antar pemain cukup membuat audiens terkesima. Dengan melakukan eksperimentasi yang ketat, para pengrawit mencoba mengais kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan medium tradisi sebagai jembatannya.

Terbukti, tak hanya permainan yang atraktif saja. ISI Denpasar malam itu dapat mendudukkan empat gamelan dalam satu konstelasi kesepahaman rasa yang sama. Tidak ada yang subdominan maupun yang dominan. Terlebih empat reportoar gamelan tersebut terkadang dimainkan bersamaan dalam satu komposisi musik (gending) yang indah. Made Kartawan, salah satu komposer mengatakan bahwa di Bali sendiri sangat jarang dapat melihat dua, terlebih empat gamelan yang berbeda ditampilkan pada satu tempat yang sama dalam bingkai instrumentasi musikal. Jadi beruntunglah Jakarta pada malam itu. Hidangan yang mencoba disuguhkan ISI Denpasar menjadi akhir yang manis untuk konser “gamelan langka” yang juga langka terjadi di Ibukota.

Dengan menghadirkan sub wilayah kultur yang masih pekat bingkai tradisinya, bisa jadi, FKI kali ini hendak menghadirkan sebuah stimulan, merangsang Jakarta untuk kembali memperkuat habitus akar budayanya.

  Artikel lainnya
Tari Pemburu dari Sea-Sea
Sebuah rekonstruksi tarian perburuan oleh siswa sekolah. Tak latah untuk memoles diri ala salon kecantikan.
Menggugat Indonesia Lewat MCAF
Medan menyuguhkan festival seni kontemporer. Usaha untuk menghadirkan keindonesiaan dalam kreasi seni cukup terasa.
Hari Tari dan Semangat Noverre
Hari kelahiran Noverre ditahbiskan sebagai hari tari dunia. Jangan terhenti pada sorak sorai pesta.
Ketidakselesaian Rahwana Sinta
Rahwana sang antagonis mengajukan gugatan. Melawan tafsir dominan yang tersakralisasi.
Laku Kontemplatif Menuju Keseimbangan
Tarian yang menyentak pentingnya kontemplasi. Koreografer Iskandar Muda mengajak meretas kekang nafsu.
Tambora Art Moment
Sentuhan Pertama di Dusun Terpencil
Sebuah pesta seni digelar di dusun kaki Gunung Tambora, Dompu. Seorang individu, Naniek I Taufan, tergopoh menyiapkan seluruh ubo rampenya.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com