Agak berbeda dengan Festival Kesenian Indonesia (FKI) sebelumnya, kali ini
lebih greget. Dengan mengangkat “identitas” sebagai tema utama, FKI VI di
Jakarta lebih dapat membasahi dirinya dengan bingkai tradisi yang pekat:
Mengangkat tradisi di Ibukota.
Hal yang cukup menonjol dapat dilihat dari ragam acara yang disuguhkan. Salah
satu acara yang cukup menarik adalah konser “gamelan langka,” yang digelar di
Graha Bakti Budaya-Taman Ismail Marzuki (TIM), 6 Oktober 2009, oleh tiga perguruan tinggi seni: Institut Seni
Indonesia (ISI) Surakarta, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, dan
ISI Denpasar. Malam itu mereka membawa dan seolah menempatkan kembali dirinya
sebagai satu pilar penyokong kebudayaan dengan mengangkat idiom tradisi sebagai
sebuah identitasnya.
Eksotisme
Sekaten
Sajian pembuka diisi Gamelan Sekaten dari ISI Surakarta. Gamelan yang tergolong
sebagai salah satu yang tertua di antara perangkat gamelan lainnya di Surakarta
ini termasuk dalam bingkai gamelan pakurmatan. Bermula dari asal katanya
“kurmat,” menunjukkan bahwa sebenarnya gamelan jenis ini dipergunakan sebagai
sarana untuk menghormat atau menyembah pada sesuatu. Gamelan ini dimiliki oleh
Keraton Kasunan Surakarta, dan hanya dibunyikan setahun sekali untuk
memperingati kelahiran Nabi Muhammad, tepatnya pada Nulan Maulud, lazim
disebut grebeg maulud.
Sekaten yang selama ini seolah terpenjara pada ruangnya yang “prestisius”, mencoba
dihadirkan kembali dengan format yang berbeda oleh Supardi dan AL Suwardi,
komponis dari ISI Surakarta. Dengan memakai kostum layaknya para pengrawit
(pemusik) keraton, abdidalem, dan kalung samir yang adi luhung, pemusik
dari ISI Surakarta seolah membawa kita menapaki jejak-jejak kejayaan keraton di
masa silam.
Komposisi musik diawali oleh ricikan bonang, kemudian menghantarkan
pada ruang orkestrasi musikal yang begitu kompleks. Empat pesinden yang
kehadirannya tidak lazim dalam komposisi musik sekaten, melagukan alunan melodi
vokal Jawa yang sesekali harus terbata-bata menyesuaikan dinamika tangga nada
gamelan. Memang semua masih dalam tahap eksperimentasi. Segala kemungkinan
dapat terjadi.
Gamelan Sekaten itu begitu anggun. Ukurannya lima kali lipat dari gamelan
biasa (ageng), dan suaranya begitu menggema, hingga mampu menerobos
sekat-sekat perhatian audiens. Sayangnya hal tersebut tidak diimbangi dengan ukuran-ukuran
musikal yang ketat. AL Suwardi dan Supardi nampak masih terikat cukup kencang
dengan tali ketradisiannya. Barangkali karena latar belakang kedua komposer
yang telah melakukan pengembaraan pada sistem pendidikan tradisi yang pekat.
Imbasnya, ketika mencoba kebaharuan sekaten, banyak metrum yang saling tumpang
tindih dalam komposisinya. Hal yang cukup terasa ketika pertemuan antara lima
rebana dengan gamelan carabalen dengan tempo yang saling tak mau mengalah,
alias kehilangan ketukan. Beruntung, komposisi ini diakhiri dengan babak yang
menggoda, dinamika yang mulai menghanggat cepat, jalinan permainan yang
atraktif namun rapi, cocok dengan nuansa Ibukota yang ramai.
Mengulang
Tradisi
Bingkai-bingkai tradisi dalam ruang kebudayaan terutama seni yang selama
ini kita anggap atau bahkan telah mati, ternyata hanya bersembunyi, dan
menunggu saat yang tepat untuk berani menampakkan wujudnya kembali. Mungkin,
malam itu adalah saat yang pas di mana Gong Renteng harus muncul. Gong Renteng
selama ini terpendam dalam bingkai kesakralannya, tanpa mampu menjadi bentuknya
yang lebih populis, yang konon katanya menghendaki takdirnya untuk mati,
ternyata membahana dalam panggung pertunjukan TIM yang megah. Begitu apa
adanya, tanpa resistensi, tanpa inovasi, dan bergeliat pasti di antara derasnya
gesekan nuansa metropolis ibukota.
STSI Bandung yang selama ini terkenal dalam kelincahan jaipongnya, ternyata
mampu membawa komposisi musik tradisi sakralnya dengan begitu fasih. Malam itu,
tanpa gubahan dan aransemen ulang, mereka menghidangkan komposisi Gamelan Renteng
pada warga ibukota. Dengan jalinan instrumen konkoang, cempres, peneteg dan
gong yang hampir tanpa cacat, malam itu aroma Sunda telah mengguyur TIM.
Tapi ada satu hal yang seolah terlewat: mereka menyuguhkan oncom pada
penggemar pizza. Tanpa dimasak dengan lebih matang dengan bumbu kreativitas
yang tinggi, komposisi gamelan renteng malam itu hanya menjadi makanan lama yang
seolah mulai “membasi”. Tanpa disadari bahwa seni memiliki sifatnya yang
nomadik, dapat dengan lentur bergerak menuruti laju peradaban. Kenapa harus
takut untuk memberi bumbu pada tradisi jika racikan bumbu yang lama terasa
kurang? Niscaya, Gamelan Renteng sudah selayaknya tidak hanya menjadi sekadar
mitos belaka. Dibutuhkan keberanian untuk memperpanjang denyut nadinya, dengan
sentuhan kreativitas dan rasa baru yang lebih menggairahkan.
Evolusi
Gamelan
Dalam terminologi Aristotheles, perkembangan sebuah peradaban itu dimulai
pada satu tingkatan yang paling sederhana dan hingga mencapai derajadnya yang
semakin kompleks. Kesenian termasuk gamelanpun demikian adanya. Para musisi
bali yang pada malam itu menutup pementasan, meyakini bahwa varian gamelan di
Bali sebenarnya bermuara pada satu spektrum yang sama. Dengan mengambil tema
evolusi gamelan, ISI Denpasar menyajikan empat varian gamelannya. Gamelan Slonding,
Gambuh, Semar Pagulingan, dan Gong Gede, kesemuanya saling bertautan, evolutif.
Penjelajahan ruang kreatif malam itu dimulai dengan gamelan yang paling
tua, Slonding. Disusul kemudian konser suling Gambuh, Semar Pagulingan dan
terakhir yang paling muda, Gong Gede. Layaknya musik Bali yang selama ini sering
kita lihat, malam itu begitu atraktif, interloking yang terjadi antar pemain
cukup membuat audiens terkesima. Dengan melakukan eksperimentasi yang ketat,
para pengrawit mencoba mengais kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan
dengan memanfaatkan medium tradisi sebagai jembatannya.
Terbukti, tak hanya permainan yang atraktif saja. ISI Denpasar malam itu
dapat mendudukkan empat gamelan dalam satu konstelasi kesepahaman rasa yang
sama. Tidak ada yang subdominan maupun yang dominan. Terlebih empat reportoar
gamelan tersebut terkadang dimainkan bersamaan dalam satu komposisi musik (gending)
yang indah. Made Kartawan, salah satu komposer mengatakan bahwa di Bali sendiri
sangat jarang dapat melihat dua, terlebih empat gamelan yang berbeda ditampilkan
pada satu tempat yang sama dalam bingkai instrumentasi musikal. Jadi
beruntunglah Jakarta pada malam itu. Hidangan yang mencoba disuguhkan ISI
Denpasar menjadi akhir yang manis untuk konser “gamelan langka” yang juga langka
terjadi di Ibukota.
Dengan menghadirkan sub wilayah kultur yang masih pekat bingkai
tradisinya, bisa jadi, FKI kali ini hendak menghadirkan sebuah stimulan,
merangsang Jakarta untuk kembali memperkuat habitus akar budayanya.