Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Selasa, 7 September 2010 | 06:43 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Panggung - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  02  
Sie Jien Kwie
Potret Lelahnya Mengolah Teater
Oleh: Roy Thaniago, Peminat seni dan budaya, bergiat di Agenda 18, tinggal di Jakarta.

Teater Koma rupanya mulai kehabisan energi artistik. Perlu strategi dan kejutan baru.

Menyaksikan Sie Jin Kwie berarti membaca sejarah. Khususnya sejarah bangsa Cina di zaman kerajaan. Sie Jin Kwie adalah seorang jendral perang paling terkenal dari Dinasti Tang (618-907). Kisah tentangnya sudah menjadi cerita klasik di Tiongkok, yang ditulis Tio Keng Jian. Sie Jin Kwie dalam dialek Mandarin dilafal Xue Ren Gui.

Sampainya kisah ini ke Indonesia antara lain karena jasa penerbit Kho Tjeng Bie. Ada pula sosok Siauw Tik Kwie (Ki Oto Swastika) lewat komik Sie Djin Koei yang kala itu (1950-an) dimuat secara bersambung di Majalah Star Weekly. Dekade 90-an, Markus Aceng Setiawan mengangkat kembali kisah itu. Sementara di tangan N. Riantiarno, cerita tersebut ditulis ulang, kemudian ia sutradarai.

Lakon Sie Jien Kwie menjadi pilihan cerita yang menggembirakan di tengah berlangsungnya euforia perayaan “kembalinya” masyarakat Cina di Indonesia. Pemerintah mencabut Inpres 14/1967 tentang pelarangan hal-hal yang berbau Cina, tepatnya di tahun 2000. Tahun ini sekaligus menandai eksistensi etnis Cina sebagai salah satu elemen yang turut membentuk dan mewarnai Indonesia. Teater Koma menggelar lakon ini di Graha Bhakti Budaya pada 5-21 Februari 2010. Produksi ke-119 dalam usianya yang ke-33 tahun.

Namun, bukan mencari-cari penyakit kalau tulisan ini mengambil sikap berbeda dibanding ulasan-ulasan media lain yang bergenit pujian. Pasalnya, di samping banyak hal positif (konsistensi berteater, manajemen kelompok, regenerasi, kemampuan mengembangkan penonton, dan produktivitas), pementasan ini memperlihatkan Teater Koma yang kehabisan energi artistik. Inilah pementasan Teater Koma yang usang dan tampak kelelahan.

 

Trilogi Kedua

Pementasan ini adalah salah satu bagian dari trilogi yang kedua. Bagian lainnya akan dipentaskan pada tahun-tahun pementasan berikutnya. Lakon berdurasi sekitar 4 jam itu mengisahkan Sie Jin Kwie (Rangga Riantiarno), seorang pemuda dari keluarga miskin yang akhirnya termahsyur menjadi panglima perang dari Dinasti Tang.

Dinasti Tang yang dipimpin oleh Kaisar Lisibin (Prijo S. Winardi) ditantang perang oleh Kerajaan Kolekok—salah satu daerah kekuasaan Dinasti Tang. Tantangan perang dipimpin Jendral Kaesobun (Paulus Simangunsong). Sebelumnya, Jendral Kaesobun telah melakukan kudeta terhadap Raja Kolekok (Budi Suryadi). Dalam mimpi Lesibin (sang kaisar) Sie Jin Kwie hadir sebagai pahlawan penyelamat, maka ia menempuh segala cara untuk bertemu dengan Sie Jin Kwie. Dari sinilah lika-liku perjalanan Sie Jin Kwie memasuki istana menjadi pokok cerita.

 

Usang dan Lelah

Lakon disajikan dengan alur yang lambat dan bertele-tele. Ada kesan ingin menampilkan semua bagian cerita secara lengkap, sehingga sungkan membuang adegan-adegan yang tidak perlu. Namun, pilihan ini rupanya justru menampakkan sajian lakon yang terengah-engah. Banyak adegan yang hanya memanjangkan durasi, tapi tidak menambah esensi cerita. Pun bila dimaksudkan untuk memperkaya cerita, strategi bertuturnya kurang berhasil.

Keterengahan itu, misalnya tampak dari pilihan plot yang dibawakan dalam alur maju yang sangat kronologis. Penguasaan akan cerita baru hadir ketika Sie Jin Kwie, sang tokoh utama, masuk panggung. Namun, Sie Jin Kwie justru baru masuk belakangan setelah penonton diombang-ambingkan pada penceritaan awal yang bertele-tele. Strategi bertutur ini sebenarnya bisa lebih luwes, misalnya dengan  alur maju mundur, atau mengetengahkan Sie Jin Kwie secara lebih personal dan ditempatkan lebih awal pada permulaan cerita.

Tawaran bertutur cukup relevan sebab dalam lakon ini terdapat dua peristiwa yang berjalan (seakan) bersamaan: kisah kehidupan istana Dinasti Tang dengan tetek-bengeknya ditambah mimpi Lisibin, dan kisah hidup Sie Jin Kwie sejak kelahirannya menuju dewasa hingga kemudian bersinggungan dengan spektrum kisah Dinasti Tang. Ada dua garis yang lantas bertemu pada satu titik. Masalahnya, peristiwa bertemunya dua garis tersebut diketengahkan terlalu larut.

Sebenarnya ada usaha untuk mengantisipasi masalah bercerita atau bertutur tadi. Salah satunya adalah dengan melibatkan narasi dalang yang diaktori oleh Budi Ros dan juga melalui media wayang yang dinamai Wayang Tavip—karena nama pencipta dan dalangnya adalah Tavip. Strategi itu cukup berhasil meringkas cerita, merekatkan potongan-potongan kisah yang tercecer, dan memberi kesegaran di tengah-tengah kesesakan adegan-adegan yang monoton. Tapi entah mengapa, konsistensi ini tidak terjaga hingga ujung cerita. Tugas penceritaan yang semulanya diemban dalang, malah berpindah ke pemain-pemain lain, seakan tergesa-gesa dan kikuk menghadapi durasi. Yang terlihat jelas terutama pada adegan-adegan akhir di mana sesekali Sie Jin Kwie atau pemain lain menjadi narator baru.

Keusangan terlihat dari sisi keaktorannya. Tidak ada greget yang cukup menonjol dari pemain-pemain yang ada, kecuali Prijo S. Winardi dan Paulus Simangunsong yang berperan sebagai Lisibin dan Kaesobun. Prijo tampil sangat kharismatik di atas panggung. Pemain yang lain seperti menjadi karakter usang yang hanya berganti baju dan judul lakon. Penonton yang setia mengamati pementasan Teater Koma beberapa tahun terakhir bisa jadi hanya mendapati karakter akting yang sudah-sudah dan tak berkembang.

Seperti beberapa produksi sebelumnya, Teater Koma dikenal “royal” dalam mengolah sisi artistik panggung. Poin ini pun tetap hadir dalam pementasan Sie Jin Kwie. Mata penonton dimanjakan dengan visualisasi kehidupan Cina di zaman lampau. Dari tata panggung yang detil nan megah, properti yang esensial, hingga kostum dan tata rias. Terlihat ada usaha berbasis riset terhadap gaya Opera Cina yang dilakukan Rima Ananda dan Sena Sukarya, penata busana dan penata rias.

Begitupun penggarapan musik yang dikomandani Idrus Madani. Pendalaman akan musik tradisi Cina hanya menyentuh kulit-kulitnya saja—diwakili oleh tangga nada pentatonik Cina (dalam teori musik barat: la-do-re-mi-sol) atau bunyi perkusi berbahan logam khas Opera Cina atau pola tabuhan beduk. Itu pun tidak membalur sepenuhnya karena sebagian besar musik lainnya ditampilkan secara biasa saja, padahal Idrus sangat piawai dalam mengisi ilustrasi musik yang bukan lagu. Dengan beragam senjatanya yang bersifat perkusif, ia mampu mengisi ruang yang meningkahi gerak lakon para pemain. Idrus pun peka untuk mengurangi atau menambal porsinya dengan sigap.

Catatan kritis ini semoga menjadi masukan yang membangun bagi Teater Koma mengingat nama besar kelompok teater ini. Teater Koma adalah teater penuh kejutan. Pada beberapa pementasannya yang kritis terhadap pemerintah, mereka harus berurusan dengan pihak berwajib. Teater ini juga memiliki basis penonton yang loyal dengan daftar penggemar yang terus bertambah.

Alangkah menyedihkan sebab pementasan kali ini memampangkan potret lelahnya mengolah teater. Yakni sebuah jalan budaya yang berliku, tapi penuh kedalaman ketika berhasil sampai di ujung sana.