Menyaksikan
Sie Jin Kwie berarti membaca sejarah. Khususnya sejarah bangsa Cina di zaman
kerajaan. Sie Jin Kwie adalah seorang jendral perang paling terkenal dari
Dinasti Tang (618-907). Kisah tentangnya sudah menjadi cerita klasik di
Tiongkok, yang ditulis Tio Keng Jian. Sie Jin Kwie dalam dialek Mandarin
dilafal Xue Ren Gui.
Sampainya
kisah ini ke Indonesia antara lain karena jasa penerbit Kho Tjeng Bie. Ada pula
sosok Siauw Tik Kwie (Ki Oto Swastika) lewat komik Sie Djin Koei yang kala itu
(1950-an) dimuat secara bersambung di Majalah Star Weekly. Dekade 90-an, Markus
Aceng Setiawan mengangkat kembali kisah itu. Sementara di tangan N. Riantiarno,
cerita tersebut ditulis ulang, kemudian ia sutradarai.
Lakon Sie Jien
Kwie menjadi pilihan cerita yang menggembirakan di tengah berlangsungnya
euforia perayaan “kembalinya” masyarakat Cina di Indonesia. Pemerintah mencabut
Inpres 14/1967 tentang pelarangan hal-hal yang berbau Cina, tepatnya di tahun
2000. Tahun ini sekaligus menandai eksistensi etnis Cina sebagai salah satu
elemen yang turut membentuk dan mewarnai Indonesia. Teater Koma menggelar lakon
ini di Graha Bhakti Budaya pada 5-21 Februari 2010. Produksi ke-119 dalam
usianya yang ke-33 tahun.
Namun, bukan
mencari-cari penyakit kalau tulisan ini mengambil sikap berbeda dibanding
ulasan-ulasan media lain yang bergenit pujian. Pasalnya, di samping banyak hal
positif (konsistensi berteater, manajemen kelompok, regenerasi, kemampuan
mengembangkan penonton, dan produktivitas), pementasan ini memperlihatkan
Teater Koma yang kehabisan energi artistik. Inilah pementasan Teater Koma yang
usang dan tampak kelelahan.
Trilogi Kedua
Pementasan ini
adalah salah satu bagian dari trilogi yang kedua. Bagian lainnya akan
dipentaskan pada tahun-tahun pementasan berikutnya. Lakon berdurasi sekitar 4
jam itu mengisahkan Sie Jin Kwie (Rangga Riantiarno), seorang pemuda dari
keluarga miskin yang akhirnya termahsyur menjadi panglima perang dari Dinasti
Tang.
Dinasti Tang
yang dipimpin oleh Kaisar Lisibin (Prijo S. Winardi) ditantang perang oleh
Kerajaan Kolekok—salah satu daerah kekuasaan Dinasti Tang. Tantangan perang dipimpin
Jendral Kaesobun (Paulus Simangunsong). Sebelumnya, Jendral Kaesobun telah
melakukan kudeta terhadap Raja Kolekok (Budi Suryadi). Dalam mimpi Lesibin
(sang kaisar) Sie Jin Kwie hadir sebagai pahlawan penyelamat, maka ia menempuh segala
cara untuk bertemu dengan Sie Jin Kwie. Dari sinilah lika-liku perjalanan Sie
Jin Kwie memasuki istana menjadi pokok cerita.
Usang dan Lelah
Lakon
disajikan dengan alur yang lambat dan bertele-tele. Ada kesan ingin menampilkan
semua bagian cerita secara lengkap, sehingga sungkan membuang adegan-adegan
yang tidak perlu. Namun, pilihan ini rupanya justru menampakkan sajian lakon
yang terengah-engah. Banyak adegan yang hanya memanjangkan durasi, tapi tidak
menambah esensi cerita. Pun bila dimaksudkan untuk memperkaya cerita, strategi
bertuturnya kurang berhasil.
Keterengahan
itu, misalnya tampak dari pilihan plot yang dibawakan dalam alur maju yang
sangat kronologis. Penguasaan akan cerita baru hadir ketika Sie Jin Kwie, sang
tokoh utama, masuk panggung. Namun, Sie Jin Kwie justru baru masuk belakangan
setelah penonton diombang-ambingkan pada penceritaan awal yang bertele-tele.
Strategi bertutur ini sebenarnya bisa lebih luwes, misalnya dengan alur maju mundur, atau mengetengahkan Sie Jin
Kwie secara lebih personal dan ditempatkan lebih awal pada permulaan cerita.
Tawaran
bertutur cukup relevan sebab dalam lakon ini terdapat dua peristiwa yang
berjalan (seakan) bersamaan: kisah kehidupan istana Dinasti Tang dengan tetek-bengeknya
ditambah mimpi Lisibin, dan kisah hidup Sie Jin Kwie sejak kelahirannya menuju
dewasa hingga kemudian bersinggungan dengan spektrum kisah Dinasti Tang. Ada
dua garis yang lantas bertemu pada satu titik. Masalahnya, peristiwa bertemunya
dua garis tersebut diketengahkan terlalu larut.
Sebenarnya ada
usaha untuk mengantisipasi masalah bercerita atau bertutur tadi. Salah satunya
adalah dengan melibatkan narasi dalang yang diaktori oleh Budi Ros dan juga
melalui media wayang yang dinamai Wayang Tavip—karena nama pencipta dan
dalangnya adalah Tavip. Strategi itu cukup berhasil meringkas cerita,
merekatkan potongan-potongan kisah yang tercecer, dan memberi kesegaran di
tengah-tengah kesesakan adegan-adegan yang monoton. Tapi entah mengapa,
konsistensi ini tidak terjaga hingga ujung cerita. Tugas penceritaan yang
semulanya diemban dalang, malah berpindah ke pemain-pemain lain, seakan
tergesa-gesa dan kikuk menghadapi durasi. Yang terlihat jelas terutama pada adegan-adegan
akhir di mana sesekali Sie Jin Kwie atau pemain lain menjadi narator baru.
Keusangan terlihat
dari sisi keaktorannya. Tidak ada greget yang cukup menonjol dari pemain-pemain
yang ada, kecuali Prijo S. Winardi dan Paulus Simangunsong yang berperan
sebagai Lisibin dan Kaesobun. Prijo tampil sangat kharismatik di atas panggung.
Pemain yang lain seperti menjadi karakter usang yang hanya berganti baju dan
judul lakon. Penonton yang setia mengamati pementasan Teater Koma beberapa
tahun terakhir bisa jadi hanya mendapati karakter akting yang sudah-sudah dan
tak berkembang.
Seperti
beberapa produksi sebelumnya, Teater Koma dikenal “royal” dalam mengolah sisi
artistik panggung. Poin ini pun tetap hadir dalam pementasan Sie Jin Kwie. Mata
penonton dimanjakan dengan visualisasi kehidupan Cina di zaman lampau. Dari
tata panggung yang detil nan megah, properti yang esensial, hingga kostum dan
tata rias. Terlihat ada usaha berbasis riset terhadap gaya Opera Cina yang
dilakukan Rima Ananda dan Sena Sukarya, penata busana dan penata rias.
Begitupun penggarapan
musik yang dikomandani Idrus Madani. Pendalaman akan musik tradisi Cina hanya
menyentuh kulit-kulitnya saja—diwakili oleh tangga nada pentatonik Cina (dalam
teori musik barat: la-do-re-mi-sol) atau bunyi perkusi berbahan logam khas
Opera Cina atau pola tabuhan beduk. Itu pun tidak membalur sepenuhnya karena
sebagian besar musik lainnya ditampilkan secara biasa saja, padahal Idrus
sangat piawai dalam mengisi ilustrasi musik yang bukan lagu. Dengan beragam
senjatanya yang bersifat perkusif, ia mampu mengisi ruang yang meningkahi gerak
lakon para pemain. Idrus pun peka untuk mengurangi atau menambal porsinya
dengan sigap.
Catatan kritis
ini semoga menjadi masukan yang membangun bagi Teater Koma mengingat nama besar
kelompok teater ini. Teater Koma adalah teater penuh kejutan. Pada beberapa pementasannya
yang kritis terhadap pemerintah, mereka harus berurusan dengan pihak berwajib.
Teater ini juga memiliki basis penonton yang loyal dengan daftar penggemar yang
terus bertambah.
Alangkah menyedihkan sebab pementasan kali ini
memampangkan potret lelahnya mengolah teater. Yakni sebuah jalan budaya yang
berliku, tapi penuh kedalaman ketika berhasil sampai di ujung sana.