Himpunan
Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teater STSI Padangpanjang, menggelar festival teater
realisme, Desember 2009 silam. Ada kejutan sekaligus kekecewaan bagi diri
penulis dalam merespon lima sutradara yang tampil dalam festival. Betapa tidak,
secara keseluruhan, seharusnya para sutradara (Susandro, Kristian Padmasari,
Daniel Martin, Indah Lestari, Dewi Sartika) siap untuk melakukan pertaruhan
estetis terhadap kemajuan teater modern di Sumatera secara akademis. Tetapi,
sungguh disayangkan, para sutradara muda ini sangat minim pemahamannya terhadap
konsepsi realisme, jika tidak mau dikatakan tidak menguasai realisme sama
sekali.
Kita mulai
malam pertama (14/12), Norma, naskah
karya Alun Owen yang disutradarai Dewi Sartika. Walaupun pertunjukan ini
mendapatkan juara tiga, namun sesungguhnya belumlah maksimal pengarapannya, baik
secara konsepsi penyutradaraan, akting realis, serta artistik realismenya. Hal
yang paling mendasar adalah realis tidak dapat dipentaskan di panggung arena,
tapi selayaknya di panggung prosenium. Sementara, Dewi Sartika sengaja bermain
di panggung arena.
Mempertenyakan Panggung Realis
Begitu juga
dengan pentas malam kedua (15/12), yang melakonkan naskah Suara-Suara Mati karya Manuel Van Logem dan disutradarai oleh Kristian
Padmasari. Musik, tata panggung, memang sudah mulai mengarah ke realisme, namun
ada beberapa aktor seperti tokoh pengantar surat yang diperankan oleh Munir,
metode aktingnya sudah menuju akting non-realis. Busines aktingnya boleh
dikatakan grand stell, seperti menonton pertunjukan teater
klasik. Belum lagi cahayanya (lighting)
sangat menganggu suasana pertunjukan. Walau kelompok ini menjadi juara dua.
Renyuh juga
menyaksikan pertunjukan malam ketiga (16/12), dengan Susandro yang
menyutradarai naskah Nyanyian Angsa
karya Anton P. Chekov. Naskah ini sudah menjadi naskah standar dan sering
dipentaskan oleh tokoh-tokoh teater modern di Indonesia. Tata panggung, musik,
cahaya, rias dan kostum sudah sangat membantu menuju konsepsi realisme. Namun,
pemahaman terhadap teks, baik sutradara maupun aktor masih tidak tepat. Padahal
kekuatan aktor sangat memungkinkan untuk menjadi yang terbaik. Sang aktor
tergelincir oleh kurang mampunya untuk menghafal naskah yang membuat artikulasi
sering tidak jelas.
Apalagi pada
pertunjukan malam keempat (17/12), Sebelum
Bebas, yang ditulis oleh Agustina Kesuma Dewi dan disutradarai oleh Indah
Lestari. Cerita suram yang bersetting
tempat di dalam penjara, sungguh-sungguh tidak masuk akal. Bagaimana bisa?
Dinding penjara ditulisi dengan cat oleh penghuninya. Logikanya dari mana para
narapidana mendapatkan cat? Sesuatu yang tidak masuk akal. Jadi settingnya terkesan tempat mangkalnya
para preman di perempatan jalan. Belum lagi akting aktornya yang pas-pasan,
jika tidak berkenan dikatakan jelek. Seperti Chandra Zefry Airlangga vokalnya
seperti berkumur-kumur di atas pentas, sangat sering vokalnya tak terdengar
oleh penonton.
Untunglah pada
malam terakhir (18/12) penonton, dewan juri, dan pengamat sedikit terhibur
dengan pertunjukan Kisah Cinta Di Hari
Minggu karya Anton P. Chekov yang disutradarai Daniel Martin. Permainan
aktor Dedi Darmadi dan Merazenia mampu mengangkat panggung realisme menjadi
sebuah tontonan. Pemahaman terhadap artistik realisme juga dikuasai oleh
sutradaranya, sehingga pantas pentas itu merebut juara satu walau penempatan
ruang belum ideal: misalnya meletakkan ruang kerja sang nona pada belahan
panggung G, ini tidak menguntungkan. Begitu juga penempatan jam dinding yang
ukurannya kecil di posisi E, tetapi jauh di belakang.
Masih Terus Berproses
Jadi, karena
para sutradara, aktor dan tim artistiknya memiliki disiplin keilmuan tentang
teater modern Indonesia secara akademis, maka sekecil apapun kesalahan yang
dilakukan akan menjadi pembahasan dan pembicaraan. Pertunjukan teater
menawarkan komunikasi teater yang ditonton penonton. Komunikasi bersifat
empiris, meskipun cakupannya sampai ke wilayah gagasan, konsep, emosional dan
perilaku.
Pementasan
teater akan berkualitas bila memiliki kematangan identitas. Kematangan
identitas akan tercapai tidak hanya lewat transformasi sastra ke atas pentas,
namun bagaimana mewujudkan realitas teater di atas pentas. Kerja teater yang di
dalamnya ada sutradara sebagai seniman inovasi, tentu harus mau dan terus
berkelahi pikiran dengan kelompok kerja artistik untuk menemukan, menyusun,
mempertahankan, memperbaiki kesalahan, menuju pementasan.
Barangkali tidaklah berlebihan, jika gelitik ini
ditujukan kepada kehidupan teater
mahasiswa Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang.
Mahasiswa ibarat seorang pendekar
yang memiliki ilmu kesaktian untuk meredam segala serangan lawan dengan
jurus-jurus yang mumpuni. Begitulah amsalnya, mahasiswa teater selayaknya
mempunyai nilai lebih baik secara praktis maupun teoritis tentang teater.
Bagaimanapun, mereka masih terus berproses.