Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Selasa, 7 September 2010 | 06:26 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Panggung - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  02  03  04  
Representasi
Teater Realis Indonesia
Oleh: Sulaiman Juned, Dosen Jurusan Seni Teater STSI Padangpanjang.

Mementaskan teater realis butuh kecermatan. Tak cukup kecakapan transformasi sastra ke atas pentas, tapi bagaimana mewujudkan realitas di atas pentas.

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teater STSI Padangpanjang, menggelar festival teater realisme, Desember 2009 silam. Ada kejutan sekaligus kekecewaan bagi diri penulis dalam merespon lima sutradara yang tampil dalam festival. Betapa tidak, secara keseluruhan, seharusnya para sutradara (Susandro, Kristian Padmasari, Daniel Martin, Indah Lestari, Dewi Sartika) siap untuk melakukan pertaruhan estetis terhadap kemajuan teater modern di Sumatera secara akademis. Tetapi, sungguh disayangkan, para sutradara muda ini sangat minim pemahamannya terhadap konsepsi realisme, jika tidak mau dikatakan tidak menguasai realisme sama sekali.

Kita mulai malam pertama (14/12), Norma, naskah karya Alun Owen yang disutradarai Dewi Sartika. Walaupun pertunjukan ini mendapatkan juara tiga, namun sesungguhnya belumlah maksimal pengarapannya, baik secara konsepsi penyutradaraan, akting realis, serta artistik realismenya. Hal yang paling mendasar adalah realis tidak dapat dipentaskan di panggung arena, tapi selayaknya di panggung prosenium. Sementara, Dewi Sartika sengaja bermain di panggung arena.

 

Mempertenyakan Panggung Realis

Begitu juga dengan pentas malam kedua (15/12), yang melakonkan naskah Suara-Suara Mati karya Manuel Van Logem dan disutradarai oleh Kristian Padmasari. Musik, tata panggung, memang sudah mulai mengarah ke realisme, namun ada beberapa aktor seperti tokoh pengantar surat yang diperankan oleh Munir, metode aktingnya sudah menuju akting non-realis. Busines aktingnya boleh dikatakan grand stell, seperti menonton pertunjukan teater klasik. Belum lagi cahayanya (lighting) sangat menganggu suasana pertunjukan. Walau kelompok ini menjadi juara dua.

Renyuh juga menyaksikan pertunjukan malam ketiga (16/12), dengan Susandro yang menyutradarai naskah Nyanyian Angsa karya Anton P. Chekov. Naskah ini sudah menjadi naskah standar dan sering dipentaskan oleh tokoh-tokoh teater modern di Indonesia. Tata panggung, musik, cahaya, rias dan kostum sudah sangat membantu menuju konsepsi realisme. Namun, pemahaman terhadap teks, baik sutradara maupun aktor masih tidak tepat. Padahal kekuatan aktor sangat memungkinkan untuk menjadi yang terbaik. Sang aktor tergelincir oleh kurang mampunya untuk menghafal naskah yang membuat artikulasi sering tidak jelas.

Apalagi pada pertunjukan malam keempat (17/12), Sebelum Bebas, yang ditulis oleh Agustina Kesuma Dewi dan disutradarai oleh Indah Lestari. Cerita suram yang bersetting tempat di dalam penjara, sungguh-sungguh tidak masuk akal. Bagaimana bisa? Dinding penjara ditulisi dengan cat oleh penghuninya. Logikanya dari mana para narapidana mendapatkan cat? Sesuatu yang tidak masuk akal. Jadi settingnya terkesan tempat mangkalnya para preman di perempatan jalan. Belum lagi akting aktornya yang pas-pasan, jika tidak berkenan dikatakan jelek. Seperti Chandra Zefry Airlangga vokalnya seperti berkumur-kumur di atas pentas, sangat sering vokalnya tak terdengar oleh penonton.

Untunglah pada malam terakhir (18/12) penonton, dewan juri, dan pengamat sedikit terhibur dengan pertunjukan Kisah Cinta Di Hari Minggu karya Anton P. Chekov yang disutradarai Daniel Martin. Permainan aktor Dedi Darmadi dan Merazenia mampu mengangkat panggung realisme menjadi sebuah tontonan. Pemahaman terhadap artistik realisme juga dikuasai oleh sutradaranya, sehingga pantas pentas itu merebut juara satu walau penempatan ruang belum ideal: misalnya meletakkan ruang kerja sang nona pada belahan panggung G, ini tidak menguntungkan. Begitu juga penempatan jam dinding yang ukurannya kecil di posisi E, tetapi jauh di belakang.

 

Masih Terus Berproses

Jadi, karena para sutradara, aktor dan tim artistiknya memiliki disiplin keilmuan tentang teater modern Indonesia secara akademis, maka sekecil apapun kesalahan yang dilakukan akan menjadi pembahasan dan pembicaraan. Pertunjukan teater menawarkan komunikasi teater yang ditonton penonton. Komunikasi bersifat empiris, meskipun cakupannya sampai ke wilayah gagasan, konsep, emosional dan perilaku.

Pementasan teater akan berkualitas bila memiliki kematangan identitas. Kematangan identitas akan tercapai tidak hanya lewat transformasi sastra ke atas pentas, namun bagaimana mewujudkan realitas teater di atas pentas. Kerja teater yang di dalamnya ada sutradara sebagai seniman inovasi, tentu harus mau dan terus berkelahi pikiran dengan kelompok kerja artistik untuk menemukan, menyusun, mempertahankan, memperbaiki kesalahan, menuju pementasan.

Barangkali tidaklah berlebihan, jika gelitik ini ditujukan kepada  kehidupan teater mahasiswa Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang. Mahasiswa ibarat seorang pendekar yang memiliki ilmu kesaktian untuk meredam segala serangan lawan dengan jurus-jurus yang mumpuni. Begitulah amsalnya, mahasiswa teater selayaknya mempunyai nilai lebih baik secara praktis maupun teoritis tentang teater. Bagaimanapun, mereka masih terus berproses.

  Artikel lainnya
Tari Pemburu dari Sea-Sea
Sebuah rekonstruksi tarian perburuan oleh siswa sekolah. Tak latah untuk memoles diri ala salon kecantikan.
Menggugat Indonesia Lewat MCAF
Medan menyuguhkan festival seni kontemporer. Usaha untuk menghadirkan keindonesiaan dalam kreasi seni cukup terasa.
Hari Tari dan Semangat Noverre
Hari kelahiran Noverre ditahbiskan sebagai hari tari dunia. Jangan terhenti pada sorak sorai pesta.
Ketidakselesaian Rahwana Sinta
Rahwana sang antagonis mengajukan gugatan. Melawan tafsir dominan yang tersakralisasi.
Laku Kontemplatif Menuju Keseimbangan
Tarian yang menyentak pentingnya kontemplasi. Koreografer Iskandar Muda mengajak meretas kekang nafsu.
Tambora Art Moment
Sentuhan Pertama di Dusun Terpencil
Sebuah pesta seni digelar di dusun kaki Gunung Tambora, Dompu. Seorang individu, Naniek I Taufan, tergopoh menyiapkan seluruh ubo rampenya.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com