Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Selasa, 7 September 2010 | 06:54 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Panggung - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  02  03  
Peristiwa-peristiwa dari Dalam Rumah
Oleh: Halim HD, Networker Kebudayaan, tinggal di Solo.

Teater Lantai Dua melacak akar kehidupan dan pencarian makna kematian ke atas panggung. Sebuah perbincanan filosofis.

Sebuah obrolan tentu saja, atau lebih serius dan gagahnya: sebuah perbincangan agar nampak menjadi dianggap berbobot bisa terjadi di dalam sebuah ruang tamu atau bagian lain di dalam sebuah rumah. Perbincangan itu bisa menyangkut soal tujuan hidup, orientasi, keabadian, kematian, atau tentang segala sesuatu menyangkut pilihan pribadi. Yang jelas bukan tentang sayur kurang garam atau kopi terlalu manis yang dianggap bisa nyinyir kedengarannya, dan tetangga akan menyambungnya menjadi gosip antar RT.

Tapi apapun maknanya, semuanya bisa mendapat tempat. Hanya saja, kenapa pula sebuah obrolan yang mestinya bisa menjadi intim dengan kesantaian antar pribadi itu membuat kening berkerut. Adakah itu soal perbincangannya, atau ada sesuatu yang saya rasakan ikut mengganjal.

 

Melacak Filosofi

Itulah kesan saya menyaksikan pertunjukan Selerak grup teater Lantai Dua dari Solo yang berdiri pada tahun 2007, di Taman Budaya Surakarta, akhir November 2009 silam. Lawu Retno Sayekti bertindak sebagai sutradara sekaligus menggarap naskah, kostumm dan propertinya. Secara directing, rasa-rasanya lumayan juga dan kita bisa harapkan dari pekerja teater perempuan yang intens menggeluti dunia panggung ini.

Seperti juga Yonek d Nugroho yang mengolah panggung dengan artistik, dan terasa dia berusaha menciptakan ruang teater yang secara visual ada usaha untuk serius, walaupun terasa manis. Saya kira inilah anak muda di Solo yang secara serius dan cerdas menciptakan ruang pertunjukan. Apalagi dibantu oleh penata musik-suara Agustinus Rudy Indra Gunawan, yang juga bisa kita harapkan karena punya selera yang baik.

Lantai Dua yang anggotanya merupakan gabungan lepas dari beberapa grup yang merasa punya kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, sangat mungkin—jika mereka konsisten dan mempunyai kontinyuitas kerja yang terencana—bisa mengisi kehidupan teater di Solo, yang belakangan ini agak lowong akibat kesibukan para seniornya mencari nafkah, sementara teater mahasiswa banyak yang asal naik panggung, kayak legislatif yang munggah bale, pengen muni!

Tapi, sekali lagi, saya masih penasaran, kenapa ada sesuatu yang mengganjal, rasanya kurang sreg dan bikin penasaran kepada pertunjukan yang digelar selama 50-an menit itu. Apakah mungkin karena tajuk pertunjukan yang tak ada konteksnya dengan apa yang digelar, atau sesuatu yang mungkin terasa berlagak intelektual dengan perbincangan yang ingin dianggap filosofis? Tapi apa salahnya kalau memang mau berfilsafat, dan benar-benar eksplorasi pemikiran dan pelacakan kepada akar kehidupan dan pencarian makna tentang kematian yang akan dialami oleh siapapun juga?

Selerak, nama sejenis burung dalam bahasa lokal di daerah Sragen, Wonogiri, Ngawi dan daerah sekitarnya yang mengartikan sesuatu tanda tentang bebunyian yang akan membawa maut, kematian akan menjemput jika suara burung itu terdengar oleh seseorang. Dan Ela, demikian dalam lakon itu mencari arah kematian sebagai upayanya untuk menggantikan posisi ibunya. Dan, naah… mungkin di sini saya penasaran, di mana kejelasan dari keinginan Ela (sementara pelakon lain tak bernama, kecuali ada seseorang yang disebut “bapak” dan “kakak”). Apa keinginan sesungguhnya?

 

Terasa Berlebihan

Tak ada alasan, juga argumentasi yang membuat saya plong bisa menerima. Atau hidup, mungkin bisa saja tak sealur-sejalan dalam suatu garis argumentatif. Pokokmen, itulah keinginannya. Sejenis kebulatan tekad memang kadang-kadang tak membutuhkan benar alasan logis atau tak masuk akal.

Okelah, tapi rasa penasaran lain adalah saya tidak merasakan suatu ruang peristiwa yang bisa jelas dalam peta pikiran dan perasaan saya. Saya membayang-bayangkan mungkin itu perbincangan di dalam ruang tamu, meja makan. Tapi juga bukan. Mungkin peristiwa itu borderless, tanpa batas, di situlah juga saya menemukan—dengan meraba-raba—sejenis tanda dari kehadiran orang-orang yang mungkin hadir dari relief Roma atau Yunani, atau dari entah berantah yang dipungut dari game atau dari film science fiction.

Kemungkinannya ada di sini: Ela nampak tak berdarah, tak berkeringat, tak juga ada bau parfumnya. Dia seperti sebuah hasil dari rekaman, tape recorder: bukan sosok pribadi, tak ada personalitas. Yang ada sejumlah bunyi pernyataan yang berusaha untuk reflektif tapi berkepanjangan. Jadinya terasa berlebihan. Padahal materi pemain lumayan baik, yang dijejalkan oleh bukan miliknya.

  Artikel lainnya
Tari Pemburu dari Sea-Sea
Sebuah rekonstruksi tarian perburuan oleh siswa sekolah. Tak latah untuk memoles diri ala salon kecantikan.
Menggugat Indonesia Lewat MCAF
Medan menyuguhkan festival seni kontemporer. Usaha untuk menghadirkan keindonesiaan dalam kreasi seni cukup terasa.
Hari Tari dan Semangat Noverre
Hari kelahiran Noverre ditahbiskan sebagai hari tari dunia. Jangan terhenti pada sorak sorai pesta.
Ketidakselesaian Rahwana Sinta
Rahwana sang antagonis mengajukan gugatan. Melawan tafsir dominan yang tersakralisasi.
Laku Kontemplatif Menuju Keseimbangan
Tarian yang menyentak pentingnya kontemplasi. Koreografer Iskandar Muda mengajak meretas kekang nafsu.
Tambora Art Moment
Sentuhan Pertama di Dusun Terpencil
Sebuah pesta seni digelar di dusun kaki Gunung Tambora, Dompu. Seorang individu, Naniek I Taufan, tergopoh menyiapkan seluruh ubo rampenya.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com