Sebuah obrolan
tentu saja, atau lebih serius dan gagahnya: sebuah perbincangan agar nampak
menjadi dianggap berbobot bisa terjadi di dalam sebuah ruang tamu atau bagian
lain di dalam sebuah rumah. Perbincangan itu bisa menyangkut soal tujuan hidup,
orientasi, keabadian, kematian, atau tentang segala sesuatu menyangkut pilihan
pribadi. Yang jelas bukan tentang sayur kurang garam atau kopi terlalu manis
yang dianggap bisa nyinyir kedengarannya, dan tetangga akan menyambungnya
menjadi gosip antar RT.
Tapi apapun
maknanya, semuanya bisa mendapat tempat. Hanya saja, kenapa pula sebuah obrolan
yang mestinya bisa menjadi intim dengan kesantaian antar pribadi itu membuat
kening berkerut. Adakah itu soal perbincangannya, atau ada sesuatu yang saya
rasakan ikut mengganjal.
Melacak Filosofi
Itulah kesan
saya menyaksikan pertunjukan Selerak
grup teater Lantai Dua dari Solo yang berdiri pada tahun 2007, di Taman Budaya
Surakarta, akhir November 2009 silam. Lawu Retno Sayekti bertindak sebagai
sutradara sekaligus menggarap naskah, kostumm dan propertinya. Secara directing, rasa-rasanya lumayan juga dan
kita bisa harapkan dari pekerja teater perempuan yang intens menggeluti dunia
panggung ini.
Seperti juga
Yonek d Nugroho yang mengolah panggung dengan artistik, dan terasa dia berusaha
menciptakan ruang teater yang secara visual ada usaha untuk serius, walaupun
terasa manis. Saya kira inilah anak muda di Solo yang secara serius dan cerdas
menciptakan ruang pertunjukan. Apalagi dibantu oleh penata musik-suara
Agustinus Rudy Indra Gunawan, yang juga bisa kita harapkan karena punya selera
yang baik.
Lantai Dua
yang anggotanya merupakan gabungan lepas dari beberapa grup yang merasa punya
kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, sangat mungkin—jika mereka konsisten dan
mempunyai kontinyuitas kerja yang terencana—bisa mengisi kehidupan teater di
Solo, yang belakangan ini agak lowong akibat kesibukan para seniornya mencari
nafkah, sementara teater mahasiswa banyak yang asal naik panggung, kayak
legislatif yang munggah bale, pengen
muni!
Tapi, sekali
lagi, saya masih penasaran, kenapa ada sesuatu yang mengganjal, rasanya kurang sreg dan bikin penasaran kepada
pertunjukan yang digelar selama 50-an menit itu. Apakah mungkin karena tajuk
pertunjukan yang tak ada konteksnya dengan apa yang digelar, atau sesuatu yang
mungkin terasa berlagak intelektual dengan perbincangan yang ingin dianggap
filosofis? Tapi apa salahnya kalau memang mau berfilsafat, dan benar-benar
eksplorasi pemikiran dan pelacakan kepada akar kehidupan dan pencarian makna
tentang kematian yang akan dialami oleh siapapun juga?
Selerak, nama sejenis burung dalam
bahasa lokal di daerah Sragen, Wonogiri, Ngawi dan daerah sekitarnya yang
mengartikan sesuatu tanda tentang bebunyian yang akan membawa maut, kematian
akan menjemput jika suara burung itu terdengar oleh seseorang. Dan Ela,
demikian dalam lakon itu mencari arah kematian sebagai upayanya untuk
menggantikan posisi ibunya. Dan, naah… mungkin di sini saya penasaran, di mana
kejelasan dari keinginan Ela (sementara pelakon lain tak bernama, kecuali ada
seseorang yang disebut “bapak” dan “kakak”). Apa keinginan sesungguhnya?
Terasa Berlebihan
Tak ada
alasan, juga argumentasi yang membuat saya plong
bisa menerima. Atau hidup, mungkin bisa saja tak sealur-sejalan dalam suatu
garis argumentatif. Pokokmen, itulah
keinginannya. Sejenis kebulatan tekad memang kadang-kadang tak membutuhkan
benar alasan logis atau tak masuk akal.
Okelah, tapi
rasa penasaran lain adalah saya tidak merasakan suatu ruang peristiwa yang bisa
jelas dalam peta pikiran dan perasaan saya. Saya membayang-bayangkan mungkin
itu perbincangan di dalam ruang tamu, meja makan. Tapi juga bukan. Mungkin
peristiwa itu borderless, tanpa
batas, di situlah juga saya menemukan—dengan meraba-raba—sejenis tanda dari
kehadiran orang-orang yang mungkin hadir dari relief Roma atau Yunani, atau
dari entah berantah yang dipungut dari game
atau dari film science fiction.
Kemungkinannya ada di sini: Ela nampak tak berdarah,
tak berkeringat, tak juga ada bau parfumnya. Dia seperti sebuah hasil dari
rekaman, tape recorder: bukan sosok
pribadi, tak ada personalitas. Yang ada sejumlah bunyi pernyataan yang berusaha
untuk reflektif tapi berkepanjangan. Jadinya terasa berlebihan. Padahal materi
pemain lumayan baik, yang dijejalkan oleh bukan miliknya.