Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Selasa, 7 September 2010 | 06:40 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Panggung - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  
Geger Jamaludin
Cinta dan Pengorbanan ala Cingcingmong
Oleh: Y.E. Marstyanto, Sutradara Teater Kampung, tinggal di Solo.

Sebuah teater yang memadukan boneka wayang golek dan aktor manusia. Ada inovasi yang cukup segar dan parodik, meski mengangkat kisah kasih lokal yang tragis.

Patih Sobrang Barang sangat berharap putranya mempersunting Sutijah, putri orang nomor satu di Kerajaan Kali Kemiri: Raja Anggreng Barang. Sang Patih sangat yakin hal tersebut bisa menjadi kenyataan. Terlebih ia merasa bahwa dirinya adalah orang kedua di Kerajaan tersebut. Tetapi ia begitu kecewa ketika sang putra menyampaikan kabar bahwa putri raja menolak cintanya. Belakangan diketahui bahwa sang putri ternyata telah menjalin asmara dengan Jamaludin—Seorang pemuda desa anak dari Lurah Bergas, penguasa Dukuh Sembung yang merupakan salah satu bagian dari wilayah kerajaan Kali Kemiri.

Patih Sobrang Barang yang mengetahui hal tersebut langsung merencanakan niat jahat ke Dukuh Sembung. Ia mengadukan kepada raja bahwa Lurah Bergas beserta rakyatnya tidak mau membayar pajak kepada kerajaan. Raja yang terpancing amarahnya menyetujui sang patih melakukan tindakan kekerasan di wilayah dusun tersebut. Sang Patih serasa mendapat kemulusan jalan untuk menyingkirkan Jamaludin. Sebelumnya, Jamaludin dan Lurah Bergas sudah ke istana kerajaan untuk melamar Sutijah, tapi digagalkan oleh Sang Patih dengan mengusirnya dari istana.

Dan kekacauan dimulai. Pasukan kerajaan yang dipimpin Patih Sobrang Barang menghancurkan dusun tersebut. Rumah-rumah dibakar, banyak warga dibunuh. Serangan ini memancing kemarahan Jamaludin. Ia tidak terima cara sang patih yang sakit hati karena cinta putranya ditolak sang putri. Dan ia tahu, cinta sang putri hanya untuknya. Jamaludin melakukan perlawanan dengan jalan menjadi perampok. Aksinya menggegerkan seluruh wilayah Kerajaan Kali Kemiri. Bahkan harta benda milik kerajaan telah banyak dikurasnya.

Raja Anggreng Taruna gelisah memikirkan keadaan ini. Tetapi kemudian Patih Sobrang Barang kembali memunculkan gagasan liciknya. Ia mengusulkan untuk menjebak Jamaludin: Pada suatu saat, Jamaludin dan Sutijah dibiarkan melepas rindu dan bercinta. Nah, begitu Jamaludin terlena, Patih Sobrang Barang melepaskan anak panah dan menghujam di jantung Jamaludin. Ia meregang nyawa di pelukan kekasihnya.

 

Perlu bimbingan orang tua

Itulah kisah lakon berjudul Geger Jamaludin yang dimainkan oleh Teater Boneka Cingcingmong. Pertunjukan yang digelar 26-27 Februari 2010 di Teater Salihara itu menarik perhatian penonton dari berbagai kalangan termasuk anak-anak. Labelan teater boneka dalam publikasi itu barangkali yang mendorong anak-anak mau hadir ke Salihara. Meskipun, pertunjukan ini bukan untuk kategori anak-anak. Beruntung pertunjukan Geger Jamaludin ini menyajikan beberapa adegan atraksi boneka yang secara visual cukup menarik dan menghibur. Meski ada sebagian adegan yang perlu “bimbingan orang tua” saat menyaksikannya: misalnya, adegan Jamaludin memenggal kepala korbannya saat melakukan perampokan. Atau beberapa adegan asmara Jamaludin dan Sutijah.

Tokoh-tokoh dalam lakon ini adalah perpaduan boneka wayang golek dan manusia. Sri Waluyo bertindak sebagai sutradara sekaligus penggagas dan salah satu dalangnya. Awalnya, lakon ini disajikan sebagai Tugas Akhir di Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, tahun 2007 sialm. Setelah diberi sentuhan di sana-sini, Geger Jamaludin ditampilkan di Salihara tahun ini.

Garapan teater boneka ini memang berangkat dari tradisi wayang golek Tegal di mana Sri Waluyo berasal.  Tapi, di garapan ini, suasana Tegal hanya sebagai aroma, karena Sri Waluyo menjadikan karyanya ini sebagai tontonan untuk semua kalangan. Apalagi sejak semula Geger Jamaludin diniatkan sebagai tontonan teater boneka yang “inovatif”, dengan menghadirkan lima dalang dan tiga narator. Sebelumnya ia ingin 10 dalang sekaligus, tapi belum kesampaian. Ia memang memiliki obsesi membuat pertunjukan wayang golek kolosal dengan banyak dalang. Tapi saat ini tak banyak dalang wayang golek di Kota Solo, tempat di mana ia tinggal sekarang.

Sedangkan para narrator, selain berperan menggambarkan suasana adegan, mereka juga bertindak mengisi suara karakter tokoh. Model pembagian tugas antara dalang (peraga wayang) dan narator dalam bentuk garapan ini cukup pas, sebab wilayah pergerakan dalang (ruang pementasan) juga cukup luas. Panggung sengaja disekat-sekat menggunakan lima buah rana berwarna hitam yang diletakkan secara berselang-seling. Para dalang harus bergerak berpindah dari rana satu ke yang lainnya untuk menampilkan tokoh-tokoh wayang sesuai adegan. Hal itu tentu saja menguras energi. Oleh karena itu untuk melantunkan suara karakter, tokoh digantikan oleh para narator. Selain itu, Sri Waluyo juga berpendapat cara ini dapat mengatasi persoalan bahwa tidak semua tokoh karakter wayang bisa disuarakan dengan baik oleh dalang.

Para dalang tidak berada di balik layar di sepanjang waktu pertunjukan. Pada adegan “budalan” (pemberangkatan prajurit) dari Kerajaan Kali Kemiri untuk melakukan penyerbuan Dukuh Sembung, para dalang tampil keluar di hadapan penonton. Mereka menari sambil membawa boneka wayang masing-masing. Sri Waluyo sadar bagaimana mencairkan suasana dari pengadeganan wayang boneka yang terus-menerus. Apalagi ukuran boneka wayang golek yang rata-rata setinggi kurang lebih 40 cm tersebut kadang sudah menjadi persoalan visual bagi penonton di baris keempat ke belakang di gedung berkapasitas sekitar 150an penonton itu.

 

Mengingatkan kisah tragis

Lakon Geger Jamaludin mengingatkan kisah-kisah cinta tragis semacam Romeo and Juliet, Sampek Eng Tay, maupun Roro Mendut dan Pranacitra. Kisah tentang Jamaludin ini cukup dikenal di daerah Tegal, Jawa Tengah. Hampir  sebagian besar dalang di Tegal rata-rata memiliki naskah dan mengenal kisah ini, tetapi tidak semuanya berani mementaskannya. Jamaludin adalah tokoh legendaris dan makamnya masih ada hingga kini. Pada awalnya, Ia sebenarnya dikenal sebagai perampok dari Dukuh Sembung. Tetapi semenjak cintanya kepada Sutijah, seorang putri penguasa setempat tidak direstui, maka ia mengalihkan sasaran perampokannya pada barang-barang milik penguasa. Profil Jamaludin yang memang murni sebagai perampok inilah yang membuat lakon Jamaludin tidak berani dipentaskan oleh para dalang di Tegal.

Sebab, jika mereka mementaskan lakon Jamaludin, maka mereka berarti membuka kejahatan Jamaludin. Tetapi kepercayaan tersebut tidak menyurutkan niat Sri Waluyo untuk mementasakan lakon “sakral” tersebut. Ia kemudian melakukan “safari” kepada para dalang-dalang senior di Tegal untuk meminta pertimbangan. Ia juga “sowan” kepada juru kunci makam Jamaludin untuk mendapat semacam “restu”. Hasilnya adalah bahwa dalang kelahiran Tegal, 4 Mei 1977 tersebut  harus menggubah kisah aslinya sebelum dipentaskan, sehingga tidak terlalu membuka aib dari sosok si Jamaludin sang perampok. Selanjutnya negosiasi tidak hanya pada soal kisah yang diubah, tetapi juga sesajen yang diperlukan untuk keperluan mementaskan lakon Jamaludin.  Sri Waluyo memohon “dispensasi” agar bahan-bahan sesaji tidak tidak terlalu rumit dengan jumlah yang banyak sebagaimana yang disayaratkan untuk pementasan lakon Jamaludin. Selanjutnya, sang juru kunci hanya membekali segenggam tanah dari  makam Jamaludin.

Geger Jamaludin tersaji dengan segar. Suasana khas Jawa Tengah bagian Barat yang dinamis dan enerjik begitu terasa dalam garapan ini. Apalagi didukung garapan musik yang beragam warna dan cukup membangun suasana. Peran beberapa musisi, seperti Gunarto Gondrong dan Max Baihaqi layak diperhitungkan dalam penggarapan musik dalam lakon ini. Di sela-sela adegan sesekali terdengar nuansa reggae dan blues yang menyeruak di antara warna  tradisi yang menjadi basis utama.

Hal tersebut juga tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan Sri Waluyo yang juga akrab dengan dunia musik. Sesekali ia tampil untuk beberapa repertoar musik maupun hadir di antara para musisi yang mengiringi pementasan dalang Wayang Suket, Ki Slamet Gundono. Garapan ini memang memiliki kekuatan musik yang berkualitas. Tetapi di sisi lain, suara musik mendominasi hampir 90 persen pertunjukan Geger Jamaludin ini, kadang sedikit mengganggu. Sebab pada bagian-bagian tertentu sebenarnya bisa terlepas dari ilustrasi musik.

Penonton mungkin cukup disegarkan dengan atraksi teater boneka ini, tetapi tidak untuk mendalami kisahnya. Sebab Geger Jamaludin hanya disajikan dalam durasi sekitar 55 menit. Kisah cinta tragis dalam lakon ini lebih menonjolkan narasi dan dialog yang mengandung kalimat-kalimat pengandaian nan indah dan mendayu-dayu. Sementara sejarah para tokoh dalam cerita sendiri masih samar.

Beruntung suasana tersebut sesekali dipatahkan oleh visualisasi karikatur dan atraktif beberapa tokohnya. Itu semua didukung oleh kemampuan keaktoran para narator dan juga kepiawaian sabet para dalangnya. Selain tentu saja kemampuan para pemusiknya yang menjadikan pertunjukan ini hidup. Teater Boneka Cingcingmong memang mengaitkan berbagai hal dalam karya ini. Sebab cingcingmong sendiri berarti bergandengan tangan dalam bahasa Tegal. Selain itu dalam tradisi musik cingcingmong juga bermakna sebuah rangkaian nada-nada dari berbagai daerah yang saling mengisi dan bertautan.

  Artikel lainnya
Tari Pemburu dari Sea-Sea
Sebuah rekonstruksi tarian perburuan oleh siswa sekolah. Tak latah untuk memoles diri ala salon kecantikan.
Menggugat Indonesia Lewat MCAF
Medan menyuguhkan festival seni kontemporer. Usaha untuk menghadirkan keindonesiaan dalam kreasi seni cukup terasa.
Hari Tari dan Semangat Noverre
Hari kelahiran Noverre ditahbiskan sebagai hari tari dunia. Jangan terhenti pada sorak sorai pesta.
Ketidakselesaian Rahwana Sinta
Rahwana sang antagonis mengajukan gugatan. Melawan tafsir dominan yang tersakralisasi.
Laku Kontemplatif Menuju Keseimbangan
Tarian yang menyentak pentingnya kontemplasi. Koreografer Iskandar Muda mengajak meretas kekang nafsu.
Tambora Art Moment
Sentuhan Pertama di Dusun Terpencil
Sebuah pesta seni digelar di dusun kaki Gunung Tambora, Dompu. Seorang individu, Naniek I Taufan, tergopoh menyiapkan seluruh ubo rampenya.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com