Patih Sobrang Barang sangat berharap
putranya mempersunting Sutijah, putri orang nomor satu di Kerajaan Kali Kemiri:
Raja Anggreng Barang. Sang Patih sangat yakin hal tersebut bisa menjadi
kenyataan. Terlebih ia merasa bahwa dirinya adalah orang kedua di Kerajaan tersebut.
Tetapi ia begitu kecewa ketika sang putra menyampaikan kabar bahwa putri raja
menolak cintanya. Belakangan diketahui bahwa sang putri ternyata telah menjalin
asmara dengan Jamaludin—Seorang pemuda desa anak dari Lurah Bergas, penguasa
Dukuh Sembung yang merupakan salah satu bagian dari wilayah kerajaan Kali
Kemiri.
Patih Sobrang Barang yang mengetahui hal
tersebut langsung merencanakan niat jahat ke Dukuh Sembung. Ia mengadukan
kepada raja bahwa Lurah Bergas beserta rakyatnya tidak mau membayar pajak
kepada kerajaan. Raja yang terpancing amarahnya menyetujui sang patih melakukan
tindakan kekerasan di wilayah dusun tersebut. Sang Patih serasa mendapat kemulusan
jalan untuk menyingkirkan Jamaludin. Sebelumnya, Jamaludin dan Lurah Bergas
sudah ke istana kerajaan untuk melamar Sutijah, tapi digagalkan oleh Sang Patih
dengan mengusirnya dari istana.
Dan kekacauan dimulai. Pasukan kerajaan
yang dipimpin Patih Sobrang Barang menghancurkan dusun tersebut. Rumah-rumah
dibakar, banyak warga dibunuh. Serangan ini memancing kemarahan Jamaludin. Ia
tidak terima cara sang patih yang sakit hati karena cinta putranya ditolak sang
putri. Dan ia tahu, cinta sang putri hanya untuknya. Jamaludin melakukan
perlawanan dengan jalan menjadi perampok. Aksinya menggegerkan seluruh wilayah
Kerajaan Kali Kemiri. Bahkan harta benda milik kerajaan telah banyak dikurasnya.
Raja Anggreng Taruna gelisah memikirkan
keadaan ini. Tetapi kemudian Patih Sobrang Barang kembali memunculkan gagasan
liciknya. Ia mengusulkan untuk menjebak Jamaludin: Pada suatu saat, Jamaludin
dan Sutijah dibiarkan melepas rindu dan bercinta. Nah, begitu Jamaludin
terlena, Patih Sobrang Barang melepaskan anak panah dan menghujam di jantung
Jamaludin. Ia meregang nyawa di pelukan kekasihnya.
Perlu
bimbingan orang tua
Itulah kisah lakon berjudul Geger
Jamaludin yang dimainkan oleh Teater Boneka Cingcingmong. Pertunjukan yang
digelar 26-27 Februari 2010 di Teater Salihara itu menarik perhatian penonton
dari berbagai kalangan termasuk anak-anak. Labelan teater boneka dalam
publikasi itu barangkali yang mendorong anak-anak mau hadir ke Salihara.
Meskipun, pertunjukan ini bukan untuk kategori anak-anak. Beruntung pertunjukan
Geger Jamaludin ini menyajikan beberapa adegan atraksi boneka yang secara
visual cukup menarik dan menghibur. Meski ada sebagian adegan yang perlu
“bimbingan orang tua” saat menyaksikannya: misalnya, adegan Jamaludin memenggal
kepala korbannya saat melakukan perampokan. Atau beberapa adegan asmara
Jamaludin dan Sutijah.
Tokoh-tokoh dalam lakon ini adalah perpaduan
boneka wayang golek dan manusia. Sri Waluyo bertindak sebagai sutradara sekaligus
penggagas dan salah satu dalangnya. Awalnya, lakon ini disajikan sebagai Tugas Akhir
di Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, tahun 2007 sialm.
Setelah diberi sentuhan di sana-sini, Geger Jamaludin ditampilkan di
Salihara tahun ini.
Garapan teater boneka ini memang
berangkat dari tradisi wayang golek Tegal di mana Sri Waluyo berasal. Tapi, di garapan ini, suasana Tegal hanya sebagai
aroma, karena Sri Waluyo menjadikan karyanya ini sebagai tontonan untuk semua
kalangan. Apalagi sejak semula Geger Jamaludin diniatkan sebagai tontonan
teater boneka yang “inovatif”, dengan menghadirkan lima dalang dan tiga
narator. Sebelumnya ia ingin 10 dalang sekaligus, tapi belum kesampaian. Ia
memang memiliki obsesi membuat pertunjukan wayang golek kolosal dengan banyak
dalang. Tapi saat ini tak banyak dalang wayang golek di Kota Solo, tempat di
mana ia tinggal sekarang.
Sedangkan para narrator, selain berperan
menggambarkan suasana adegan, mereka juga bertindak mengisi suara karakter
tokoh. Model pembagian tugas antara dalang (peraga wayang) dan narator dalam
bentuk garapan ini cukup pas, sebab wilayah pergerakan dalang (ruang
pementasan) juga cukup luas. Panggung sengaja disekat-sekat menggunakan lima
buah rana berwarna hitam yang diletakkan secara berselang-seling. Para
dalang harus bergerak berpindah dari rana satu ke yang lainnya untuk
menampilkan tokoh-tokoh wayang sesuai adegan. Hal itu tentu saja menguras energi.
Oleh karena itu untuk melantunkan suara karakter, tokoh digantikan oleh para
narator. Selain itu, Sri Waluyo juga berpendapat cara ini dapat mengatasi
persoalan bahwa tidak semua tokoh karakter wayang bisa disuarakan dengan baik
oleh dalang.
Para dalang tidak berada di balik layar
di sepanjang waktu pertunjukan. Pada adegan “budalan” (pemberangkatan prajurit)
dari Kerajaan Kali Kemiri untuk melakukan penyerbuan Dukuh Sembung, para dalang
tampil keluar di hadapan penonton. Mereka menari sambil membawa boneka wayang
masing-masing. Sri Waluyo sadar bagaimana mencairkan suasana dari pengadeganan
wayang boneka yang terus-menerus. Apalagi ukuran boneka wayang golek yang
rata-rata setinggi kurang lebih 40 cm tersebut kadang sudah menjadi persoalan
visual bagi penonton di baris keempat ke belakang di gedung berkapasitas
sekitar 150an penonton itu.
Mengingatkan
kisah tragis
Lakon Geger Jamaludin mengingatkan
kisah-kisah cinta tragis semacam Romeo and Juliet, Sampek Eng Tay, maupun Roro
Mendut dan Pranacitra. Kisah tentang Jamaludin ini cukup dikenal di daerah
Tegal, Jawa Tengah. Hampir sebagian
besar dalang di Tegal rata-rata memiliki naskah dan mengenal kisah ini, tetapi
tidak semuanya berani mementaskannya. Jamaludin adalah tokoh legendaris dan
makamnya masih ada hingga kini. Pada awalnya, Ia sebenarnya dikenal sebagai
perampok dari Dukuh Sembung. Tetapi semenjak cintanya kepada Sutijah, seorang
putri penguasa setempat tidak direstui, maka ia mengalihkan sasaran
perampokannya pada barang-barang milik penguasa. Profil Jamaludin yang memang
murni sebagai perampok inilah yang membuat lakon Jamaludin tidak berani
dipentaskan oleh para dalang di Tegal.
Sebab, jika mereka mementaskan lakon
Jamaludin, maka mereka berarti membuka kejahatan Jamaludin. Tetapi kepercayaan
tersebut tidak menyurutkan niat Sri Waluyo untuk mementasakan lakon “sakral”
tersebut. Ia kemudian melakukan “safari” kepada para dalang-dalang senior di
Tegal untuk meminta pertimbangan. Ia juga “sowan” kepada juru kunci makam
Jamaludin untuk mendapat semacam “restu”. Hasilnya adalah bahwa dalang
kelahiran Tegal, 4 Mei 1977 tersebut harus menggubah kisah aslinya sebelum
dipentaskan, sehingga tidak terlalu membuka aib dari sosok si Jamaludin sang
perampok. Selanjutnya negosiasi tidak hanya pada soal kisah yang diubah, tetapi
juga sesajen yang diperlukan untuk keperluan mementaskan lakon Jamaludin. Sri Waluyo memohon “dispensasi” agar
bahan-bahan sesaji tidak tidak terlalu rumit dengan jumlah yang banyak
sebagaimana yang disayaratkan untuk pementasan lakon Jamaludin. Selanjutnya,
sang juru kunci hanya membekali segenggam tanah dari makam Jamaludin.
Geger Jamaludin tersaji dengan segar. Suasana
khas Jawa Tengah bagian Barat yang dinamis dan enerjik begitu terasa dalam
garapan ini. Apalagi didukung garapan musik yang beragam warna dan cukup
membangun suasana. Peran beberapa musisi, seperti Gunarto Gondrong dan Max
Baihaqi layak diperhitungkan dalam penggarapan musik dalam lakon ini. Di
sela-sela adegan sesekali terdengar nuansa reggae dan blues yang
menyeruak di antara warna tradisi yang
menjadi basis utama.
Hal tersebut juga tidak bisa dipisahkan
dengan keberadaan Sri Waluyo yang juga akrab dengan dunia musik. Sesekali ia
tampil untuk beberapa repertoar musik maupun hadir di antara para musisi yang
mengiringi pementasan dalang Wayang Suket, Ki Slamet Gundono. Garapan ini
memang memiliki kekuatan musik yang berkualitas. Tetapi di sisi lain, suara musik
mendominasi hampir 90 persen pertunjukan Geger Jamaludin ini, kadang sedikit
mengganggu. Sebab pada bagian-bagian tertentu sebenarnya bisa terlepas dari
ilustrasi musik.
Penonton mungkin cukup disegarkan dengan
atraksi teater boneka ini, tetapi tidak untuk mendalami kisahnya. Sebab Geger
Jamaludin hanya disajikan dalam durasi sekitar 55 menit. Kisah cinta tragis
dalam lakon ini lebih menonjolkan narasi dan dialog yang mengandung
kalimat-kalimat pengandaian nan indah dan mendayu-dayu. Sementara sejarah para
tokoh dalam cerita sendiri masih samar.
Beruntung suasana tersebut sesekali dipatahkan
oleh visualisasi karikatur dan atraktif beberapa tokohnya. Itu semua didukung
oleh kemampuan keaktoran para narator dan juga kepiawaian sabet para dalangnya.
Selain tentu saja kemampuan para pemusiknya yang menjadikan pertunjukan ini
hidup. Teater Boneka Cingcingmong memang mengaitkan berbagai hal dalam karya
ini. Sebab cingcingmong sendiri berarti bergandengan tangan dalam bahasa Tegal.
Selain itu dalam tradisi musik cingcingmong juga bermakna sebuah rangkaian
nada-nada dari berbagai daerah yang saling mengisi dan bertautan.