Hujan sore itu masih tersisa, dan jalanan. Waktu
telah menunjukkan pukul 18.15 dan kabut mulai merambat turun ketika ojek yang
kami tumpangi mulai bergerak beriringan dari Desa Sadaunta menuju kawasan Danau
Lindu. Dulu, kawasan ini hanya dapat ditempuh dengan memanfaatkan pateke
(kuda tunggangan) atau berjalan kaki. Namun sejak tahun 2003, wilayah yang saat
ini menjadi bagian dari Kabupaten Sigi—yang baru setahun dimekarkan—telah dapat
dijangkau dengan kendaraan roda dua atau ojek motor dengan medan yang cukup
sulit.
Beberapa waktu lalu, untuk pertama-kalinya, di kawasan ini
digelar sebuah festival bertajuk Festival Danau Lindu I 2009. Event yang
digagas oleh Pj. Bupati Sigi yang dijabat oleh Hidayat ini—melalui Dinas
Perhubungan, Pariwisata, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sigi—diikuti oleh
11 Kecamatan dari 15 Kecamatan yang ada. Beragam upacara ritual adat dan seni
tradisi disajikan pada festival yang dibuka oleh HB Paliudju selaku Gubernur
Propinsi Sulawesi Tengah.
Pepantudui hingga Dero
Keesokan harinya, ketika matahari mulai merambat
naik, kesibukan mulai terlihat di empat desa yang berada di pinggiran Danau
Lindu, yaitu Desa Puro, Langko, Tomado dan Anca. Keempat desa ini pernah
menjadi berita hangat dan polemik di tahun 90-an karena akan ditenggelamkan
untuk rencana pembangunan proyek PLTA Danau Lindu. Rencana ini yang ditentang
habis-habisan oleh para aktivis lingkungan kala itu. Syukur, megaproyek
tersebut urung direalisasikam. Dunia internasional juga menentang renacana itu karena
status kawasan yang menjadi bagian dari Taman Nasional Lore Lindu ini adalah
Cagar Biosfer Dunia.
Pukul 10:15, Gubernur dan rombongannya tiba di
Desa Puro dengan menumpangi ojek. Ia disambut oleh para Tetua Adat, bupati, aparat
kecamatan dan desa sekitarnya. Usai penyambutan, rombongan segera menuju arena festival
yang lokasinya di Desa Tomado. Sebuah ansambel musik bambu mengiringi gubernur menuju
panggung untuk melaksanakan upacara Pepantudui.
Upacara adat ini adalah simbol dari keselamatan,
kesehatan dan kekuatan bagi mereka yang datang dan diterima menjadi warga
Lindu. Dalam prosesi upacara adat ini, sebuah kapak besi—yang menjadi simbol
kekuatan—diletakkan di atas kepala dan kaki menjejak pada dulang adat yang
bermakna tanah adat. Prosesi ini dilakukan sebagai simbol bagi terbangunnya
ikatan kekerabatan dengan masyarakat adat Lindu.
Selanjutnya, para Tetua Adat bersama Gubernur dan
Bupati menuju ke tengah pelataran arena festival. Di sana terikat seekor kerbau—kerbau
yang siap disembelih sebagai syarat pelaksanaan ritual Matimbe. Seorang
Tetua Adat Lindu dengan lantang merapalkan mantra, dan secara simbolis Gubernur
menempelkan ujung guma (sejenis golok tradisi) ke bagian leher kerbau
tersebut.
Dengan diiringi oleh nyanyian magis dari para
penari Rego—tarian berpasangan laki-laki dan perempuan dalam pola melingkar—kerbau
itu disembelih oleh seorang Tetua Adat. Suasana magis yang penuh ketegangan
sontak berubah riuh rendah kegembiraan tiga ribuan orang yang memadati arena festival.
Upacara adat ini merupakan rangkaian dari ritus syukur atas terhindarnya
berbagai malapetaka dalam proses pelaksanaan event ini.
Dulang-dulang adat penuh makanan yang tersaji di atas
panggung menjadi rangkaian acara selanjutnya. Acara Mangkondi Ri Dula atau
Makan Adat-pun dimulai. Para undangan dan penonton dipersilahkan untuk
makan bersama. Tradisi makan bersama menggunakan dulang adat ini hanya
dilakukan bagi para tamu-tamu kehormatan. Kuliner khas kawasan Danau Lindu
yaitu Ikan Mujahir bakar/goreng, serta Woku (Mujahir plus sayuran
tanaman Paku) menjadi menu favorit siang itu.
Acara pembukaan itu kemudian dilanjutkan dengan
peresmian festival berupa pemukulan Gong Adat oleh gubernur. Tetabuhan gimba
(sejenis tambur tradisi) oleh para Topo Gimba segera menyahut tetalu
gong. Panggung dan pelataran festival kembali ramai oleh presentasi para
seniman yang menggelar tari ritual bertajuk Tomanuru. Para penari turun
dari panggung menuju pelataran dan kemudian dua di antaranya menginjak-injak
tumpukan sabut kelapa dan kayu yang sedang terbakar. Seorang penari yang juga berperan
sebagai Sando (dukun) tiba-tiba memungut bara api yang berserakan itu
dan mengunyahnya sambil terus menari. Tarian ini disajikan oleh komunitas adat
dari Desa Watunonju yang juga dimaksudkan sebagai permohonan kepada Tuhan agar
konflik antar warga yang terjadi di desa mereka segera berakhir.
Pada malam harinya, panggung diisi oleh presentasi
musik dan tarian dari para peserta. Acara malam itu diakhiri oleh tarian Dero—tarian
melingkar sambil berpegangan satu sama lain, yang dipimpin langsung oleh Bupati
Sigi dan diikuti oleh 1.000-an orang yang hadir pada malam itu hingga pukul
03.30 dini hari.
Festival dan Lingkungan
M. Muchlis, Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata,
Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sigi, selaku pelaksana festival,
menyatakan keinginannya untuk menerapkan konsep environmental event
dalam pelaksanaan festival ini di tahun depan. Jadi bukan sekedar event
turisme semata tetapi upaya dan gerakan lokal dalam menyikapi isu-isu
lingkungan. Hal ini didasari bahwa kawasan Danau Lindu adalah wilayah
konservasi yang harus dijaga kelestariannya, mengingat bahwa Danau Lindu juga
adalah pemasok air bagi irigasi Gumbasa yang menjadi urat nadi pertanian,
sektor utama pembangunan di Kabupaten Sigi.
Pelaksanaan festival ini bukan berarti tanpa
kekurangan, masih banyak infrastruktur dan fasilitas yang harus disiapkan dan
dibenahi, khususnya sarana komunikasi dan informasi serta fasilitas publik
lainnya seperti akomodasi. Komitmen Bupati Sigi untuk kembali melaksanakan
Festival Danau Lindu II di tahun 2010 sangat menggembirakan dan patut disambut
baik oleh semua pihak.