Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Sabtu, 11 September 2010 | 06:54 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Panggung - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  02  
Tarian Melingkar Seribuan Orang
Oleh: Zulkiifly Pagessa, Sutradara Teater, Programer Seni Budaya.

Sebuah Festival yang menghadirkan ritual adat dan seni tradisi agar tidak sekadar untuk memancing turis. Sisi lain dari gerakan lokal dalam menyikapi isu-isu lingkungan.

Hujan sore itu masih tersisa, dan jalanan. Waktu telah menunjukkan pukul 18.15 dan kabut mulai merambat turun ketika ojek yang kami tumpangi mulai bergerak beriringan dari Desa Sadaunta menuju kawasan Danau Lindu. Dulu, kawasan ini hanya dapat ditempuh dengan memanfaatkan pateke (kuda tunggangan) atau berjalan kaki. Namun sejak tahun 2003, wilayah yang saat ini menjadi bagian dari Kabupaten Sigi—yang baru setahun dimekarkan—telah dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua atau ojek motor dengan medan yang cukup sulit.

Beberapa waktu lalu, untuk pertama-kalinya, di kawasan ini digelar sebuah festival bertajuk Festival Danau Lindu I 2009. Event yang digagas oleh Pj. Bupati Sigi yang dijabat oleh Hidayat ini—melalui Dinas Perhubungan, Pariwisata, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sigi—diikuti oleh 11 Kecamatan dari 15 Kecamatan yang ada. Beragam upacara ritual adat dan seni tradisi disajikan pada festival yang dibuka oleh HB Paliudju selaku Gubernur Propinsi Sulawesi Tengah.

 

Pepantudui hingga Dero

Keesokan harinya, ketika matahari mulai merambat naik, kesibukan mulai terlihat di empat desa yang berada di pinggiran Danau Lindu, yaitu Desa Puro, Langko, Tomado dan Anca. Keempat desa ini pernah menjadi berita hangat dan polemik di tahun 90-an karena akan ditenggelamkan untuk rencana pembangunan proyek PLTA Danau Lindu. Rencana ini yang ditentang habis-habisan oleh para aktivis lingkungan kala itu. Syukur, megaproyek tersebut urung direalisasikam. Dunia internasional juga menentang renacana itu karena status kawasan yang menjadi bagian dari Taman Nasional Lore Lindu ini adalah Cagar Biosfer Dunia.

Pukul 10:15, Gubernur dan rombongannya tiba di Desa Puro dengan menumpangi ojek. Ia disambut oleh para Tetua Adat, bupati, aparat kecamatan dan desa sekitarnya. Usai penyambutan, rombongan segera menuju arena festival yang lokasinya di Desa Tomado. Sebuah ansambel musik bambu mengiringi gubernur menuju panggung untuk melaksanakan upacara Pepantudui.

Upacara adat ini adalah simbol dari keselamatan, kesehatan dan kekuatan bagi mereka yang datang dan diterima menjadi warga Lindu. Dalam prosesi upacara adat ini, sebuah kapak besi—yang menjadi simbol kekuatan—diletakkan di atas kepala dan kaki menjejak pada dulang adat yang bermakna tanah adat. Prosesi ini dilakukan sebagai simbol bagi terbangunnya ikatan kekerabatan dengan masyarakat adat Lindu.

Selanjutnya, para Tetua Adat bersama Gubernur dan Bupati menuju ke tengah pelataran arena festival. Di sana terikat seekor kerbau—kerbau yang siap disembelih sebagai syarat pelaksanaan ritual Matimbe. Seorang Tetua Adat Lindu dengan lantang merapalkan mantra, dan secara simbolis Gubernur menempelkan ujung guma (sejenis golok tradisi) ke bagian leher kerbau tersebut.

Dengan diiringi oleh nyanyian magis dari para penari Rego—tarian berpasangan laki-laki dan perempuan dalam pola melingkar—kerbau itu disembelih oleh seorang Tetua Adat. Suasana magis yang penuh ketegangan sontak berubah riuh rendah kegembiraan tiga ribuan orang yang memadati arena festival. Upacara adat ini merupakan rangkaian dari ritus syukur atas terhindarnya berbagai malapetaka dalam proses pelaksanaan event ini.

Dulang-dulang adat penuh makanan yang tersaji di atas panggung menjadi rangkaian acara selanjutnya. Acara Mangkondi Ri Dula atau Makan Adat-pun dimulai. Para undangan dan penonton dipersilahkan untuk makan bersama. Tradisi makan bersama menggunakan dulang adat ini hanya dilakukan bagi para tamu-tamu kehormatan. Kuliner khas kawasan Danau Lindu yaitu Ikan Mujahir bakar/goreng, serta Woku (Mujahir plus sayuran tanaman Paku) menjadi menu favorit siang itu.

Acara pembukaan itu kemudian dilanjutkan dengan peresmian festival berupa pemukulan Gong Adat oleh gubernur. Tetabuhan gimba (sejenis tambur tradisi) oleh para Topo Gimba segera menyahut tetalu gong. Panggung dan pelataran festival kembali ramai oleh presentasi para seniman yang menggelar tari ritual bertajuk Tomanuru. Para penari turun dari panggung menuju pelataran dan kemudian dua di antaranya menginjak-injak tumpukan sabut kelapa dan kayu yang sedang terbakar. Seorang penari yang juga berperan sebagai Sando (dukun) tiba-tiba memungut bara api yang berserakan itu dan mengunyahnya sambil terus menari. Tarian ini disajikan oleh komunitas adat dari Desa Watunonju yang juga dimaksudkan sebagai permohonan kepada Tuhan agar konflik antar warga yang terjadi di desa mereka segera berakhir.

Pada malam harinya, panggung diisi oleh presentasi musik dan tarian dari para peserta. Acara malam itu diakhiri oleh tarian Dero—tarian melingkar sambil berpegangan satu sama lain, yang dipimpin langsung oleh Bupati Sigi dan diikuti oleh 1.000-an orang yang hadir pada malam itu hingga pukul 03.30 dini hari.

 

Festival dan Lingkungan

M. Muchlis, Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sigi, selaku pelaksana festival, menyatakan keinginannya untuk menerapkan konsep environmental event dalam pelaksanaan festival ini di tahun depan. Jadi bukan sekedar event turisme semata tetapi upaya dan gerakan lokal dalam menyikapi isu-isu lingkungan. Hal ini didasari bahwa kawasan Danau Lindu adalah wilayah konservasi yang harus dijaga kelestariannya, mengingat bahwa Danau Lindu juga adalah pemasok air bagi irigasi Gumbasa yang menjadi urat nadi pertanian, sektor utama pembangunan di Kabupaten Sigi.

Pelaksanaan festival ini bukan berarti tanpa kekurangan, masih banyak infrastruktur dan fasilitas yang harus disiapkan dan dibenahi, khususnya sarana komunikasi dan informasi serta fasilitas publik lainnya seperti akomodasi. Komitmen Bupati Sigi untuk kembali melaksanakan Festival Danau Lindu II di tahun 2010 sangat menggembirakan dan patut disambut baik oleh semua pihak.

  Artikel lainnya
Tari Pemburu dari Sea-Sea
Sebuah rekonstruksi tarian perburuan oleh siswa sekolah. Tak latah untuk memoles diri ala salon kecantikan.
Menggugat Indonesia Lewat MCAF
Medan menyuguhkan festival seni kontemporer. Usaha untuk menghadirkan keindonesiaan dalam kreasi seni cukup terasa.
Hari Tari dan Semangat Noverre
Hari kelahiran Noverre ditahbiskan sebagai hari tari dunia. Jangan terhenti pada sorak sorai pesta.
Ketidakselesaian Rahwana Sinta
Rahwana sang antagonis mengajukan gugatan. Melawan tafsir dominan yang tersakralisasi.
Laku Kontemplatif Menuju Keseimbangan
Tarian yang menyentak pentingnya kontemplasi. Koreografer Iskandar Muda mengajak meretas kekang nafsu.
Tambora Art Moment
Sentuhan Pertama di Dusun Terpencil
Sebuah pesta seni digelar di dusun kaki Gunung Tambora, Dompu. Seorang individu, Naniek I Taufan, tergopoh menyiapkan seluruh ubo rampenya.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com