Ia
lelaki bernama Hendri Mulyadi. Ia tiba-tiba melompat dari atas dinding penonton
di Stadion Utama Gelora Bung Karno, merangsek ke tengah lapangan, saat laga
Indonesia versus Oman memasuki menit-menit akhir. Mengenakan kostum
timnas Indonesia, pemuda berusia 20-an tahun itu menggiring bola ke gawang Oman.
Ia hendak mencetak gol, tapi gagal.
Aksi
itu kontan meraup kesima para penonton: takjub, tapi juga gerah. Suporter edan!
Penonton yang lain, juga yang memelototi pertandingan di layar televisi, hanya
bisa menerka: Hendri sedang geram lantaran terlalu kerap dikecewakan tim
sepakbola nasional.
Juga
pada sebuah pesta rakyat yang dimeriahkan oleh tarian topeng di Indramayu, Jawa
Barat. Kata etnomusikolog asal Subang, Aton Rustandi Mulyana, “Bahkan bukan
hanya seorang: para penononton berebut masuk panggung, merapat, memeluk, lalu
menarik paksa sang dalang untuk dibawa ke luar panggung.” Alih-alih diajak
menari, para penonton itu hanya mengajak sang dalang—yang masih menari—kumpul
bersamanya, ngobrol sambil pegang-pegang tangan, atau ada yang berani mencium.
Mereka hanya ingin dekat dengan si dalang topeng, tak peduli apakah dalang bisa
menuntasakan pertunjukannya atau tidak.
Kedua aksi itu menyampaikan pesan: begitu
dalam dan intens relasi penonton dengan yang ditonton hingga memendarkan aneka
kisah, dari yang aneh, lucu, tapi juga tragik seperti ditunjukkan oleh ulah penonton campursari—pada
suatu ketika, di sebuah kampung di pelosok Jawa—yang menghunus pedang ke leher salah
seorang pemusiknya agar tak menyudahi aksi panggungnya.
Pada keseluruh ulah penonton tersebut, mereka
tampak tak peduli, apakah penonton yang lain suka atau tidak dengan caranya. Selain,
barangkali, menganggap penonton yang lain pun sama seperti mereka, sebagaimana
diperlihatkan oleh para penonton dangdut: asoi goyang pinggulnya adalah bahasa solidaritas.
Yang mana, setiap perilaku individu merasa sah dan akan selalu diterima secara kolektif
oleh ratusan, bahkan ribuan, massa yan berjubel menikmati alunan dangdut.
Tapi tidak pada kebanyakan penonton di
program-program panggung hiburan di stasiun televisi. Barangkali, beranjak dari
teori bahwa penonton adalah jiwa yang menghidupkan sebuah acara,
maka dihadirkanlah “penonton bayaran” yang diharapkan bakal menghebohkan suasana.
Untuk itu, produser melibatkan agency, sebutlah “koordinator penonton”,
yang akan merekrut puluhan hingga ratusan orang.
Syaratnya,
para calon penonton itu harus tampil look, alias berpenampilan menarik dan
dengan kostum yang bagus—yang mereka bawa sendiri, juga peralatan make upnya.
Bisa dandan, bisa bekerjasama dengan kru dan tim kreatif acara, dan yang
penting bisa membangun suasana: saat sedih bisa nangis, saat ramai
bisa kegirangan, dan sebagainya, dan seterusnya. Yang pasti: mereka harus ikuti
aturan dan skenario acara. Mereka bekerja. Mereka
“bukan penonton biasa”!
Demikianlah
faktanya. Mungkin belum banyak yang tahu, tak semua penonton program televisi
yang hadir di studio ternyata orang-orang bayaran. Mereka dipekerjakan untuk
memeriahkan acara. Ehm… Sudah nongol di teve, dapat bayaran pula.
Menonton,
dengan beragam motif dan tujuannya, pada akhirnya bukan sekadar aktivitas
melihat-menikmati apa yang ditonton. Di sana berlangsung transfer nilai, share opinion, kritik, dan tindakan-tindakan apresiatif
lainnya. Itu semua melibatkan interelasi baik antar penonton, penonton
dengan performer dan/atau penyelenggara, penonton dengan performance,
juga dengan aspek-aspek lain di seputar pertunjukan. Dengan itu, proses pemaknaan
pertunjukan berlangsung.
Dan dengan itu pula, Saudara Hendri Mulyadi berhak
mengembangkan konstruksi pemaknaan tentang keoknya timnas Indonesia versus
Oman, tanpa peduli apakah penonton yang
lain suka atau tidak dengan caranya.