Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Sabtu, 11 September 2010 | 07:57 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Sastra - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  
Orang Naik
Oleh: Indrian Koto

Indrian Koto, lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di Pesisir Selatan Sumatera Barat. Tercatat sebagai mahasiswa Sosiologi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif di Rumahlebah Yogyakarta. Belajar bersama penulis-penulis muda lainnya di Rumah Poetika. Beberapa tulisannya berupa cerpen dan puisi dipublikasikan di media masa juga termuat dalam beberapa antologi bersama.

Ia tak akan bisa percaya kenyataan ini. Sebelumnya, dia seorang pemeluk agama yang jujur, meskipun tidak saleh. Dalam kepercayaannya, tidak ada kelahiran baru.Tapi kini ia harus belajar meyakininya, bahwa ada hal-hal yang muskil dalam hidup.

Dia kembali lahir setelah kematiannya yang menyakitkan itu. Kematian yang tak lepas dari gumam dan gunjing. Sebagaimana kematiannya, kelahirannya kini pun membuat orang-orang tak berhenti mencericaukannya. Dari satu mulut ke mulut yang lain, dari satu jenjang ke teras yang lain, dari satu kompleks ke dusun yang lain, menyebar di sepanjang perkampungan, menguap bersama asap rokok dan pekat kopi, mengalir di sepanjang sungai, meluap ke perkampungan jauh, ke pintu-pintu asing. Orang-orang membicarakan kelahirannya dengan keriuhan burung-burung, dengan bahasa hujan. Ia yang telah mati telah lahir kembali. Mereka menyebut kelahiran semacam itu sebagai Orang Naik.

Konon, di usianya yang sekarang, dia begitu fasih mengingat semua peristiwa yang dialaminya: riwayat hidup, rumah di perkampungan paling hulu, cerita kematiannya, dan bagian yang paling mendebarkan, bagaimana dia bisa dilahirkan kembali sebagai manusia baru. Ini tidak gampang. Jika tidak hati-hati tentu dia akan celaka dan jarang-jarang ada kesempatan lagi untuk menjadi manusia, sebab pada penjelmaan berikutnya dia mungkin akan berubah binatang yang lain.

Sebagian orang percaya bahwa kematian yang belum sampai ajalnya—bagaimana bisa dimengerti istilah ini, kematian yang belum sampai ajalnya?—kelak akan kembali lahir sebagai orang baru. Mereka yang mati tenggelam, kecelakaan, dibunuh, kemungkinannya besar untuk menjadi orang naik. Dan pada kelahirannya kelak, tak satu pun peristiwa luput dari ingatannya.

Tentu sebagaimana yang dialaminya, ia sempat menjelma binatang-binatang kecil itu, jika tak ulat, tentu saja lalat. Setelah itu ia harus mencari perempuan yang baru saja hamil, untuk masuk ke rahimnya, sehingga janin kecil itu akan berisi rohnya sendiri. Pilihan semacam ini tentu amat sulit buatnya. Menentukan dan mencari perempuan yang baik, hidup sederhana dan berhati bersih, hamil muda pula. Setelah itu dia harus pintar-pintar masuk ke mulut calon ibunya itu. Dia—menurut cerita yang berhembus—menjelma lalat dan masuk ke dalam gelas kopi seorang ibu muda. Perempuan muda yang sedang hamil anak pertamanya. Ia tinggal hilir sungai, di muara sungai dekat pelabuhan, tempat kapal-kapal penangkap ikan berkumpul di hari terang.

Ia sudah mengintai kesempatan. Ia masuk ketika perempuan itu sedang makan. Bayangkan, roh yang masuk, tentu ia harus lebih hati-hati karena bisa saja ia tergigit dan mati sebelum sempat lahir kembali. Roh pertama yang mati akan menjelma binatang lain sampai enam kali: mungkin jadi kupu-kupu, jadi monyet, kucing, anjing, sapi dan sebagainya. Kelahiran ketujuh yang akan menggenapi semua kelahiran itu. Tak sedikit tentu saja yang gagal dan harus menunggu waktu penjelmaan baru. Sebagian dari mereka mendapat berkah juga, kembali ke wujud manusia. Dari mereka perihal ini menyebar. Dari mulut ke mulut, tentu saja.

Dan dia termasuk dari sedikit makhluk yang beruntung itu.

 

***

 

Aku tak akan menceritakan rahasia ini pada siapa pun. Biarlah ia menjadi milikku, kelak akan menjadi rahasia kami juga. Setelah kematian itu, aku merasakan tubuhku menciut lebih kecil, lebih ringan dan bersayap. Aku menjelma seekor makhluk kecil yang melayang di udara. Langau hijau.

Tak bisa kupahami sepenuhnya ini semua. Tubuhku menjadi ringan, melayang dan mengangkasa.

Aku mengitari pekuburanku beberapa saat, meyakini kalau yang mati itu sungguh-sungguh diriku. Perkuburan yang padat, tak ada nisan, kecuali sepasang tonggak kayu yang dibenamkan dengan tergesa-gesa, sebuah botol bir berisi air tergeletak di tengah gundukan tanah kecoklatan.

Tiba-tiba aku merasa tengah memiliki janji yang harus segera dipenuhi. Janji yang mana? Aku berusaha mengingat. Aku hinggap di pucuk daun beringin yang merunduk. Aku merasa tidak sedang sendirian di sini. Ada banyak lalat, kekupu, ulat bulu, kumbang dan lebah. Mereka—aku merasakan—bukanlah binatang biasa sebagaimana layaknya. Barangkali makhluk sepertiku yang tiba-tiba menyadari tubuhnya telah berubah sesuatu. Barangkali karena itu pula, di pandam pekuburan, orang-orang dilarang menangkap sesuatu, anak-anak dilarang berkeliaran, karena barangkali, salah satu makhluk itu tidak sungguh-sungguh bisa disebut binatang.

Lintasan peristiwa berputar di kepalaku. Bis yang kami tumpangi berguling di Bukit Kerinci. Malam itu hujan, jalanan licin. Di musim hujan, jalan yang rusak itu berubah kumpulan lumpur tanah liat. Kami berangkulan ketika bis antar kota itu mencericit. Sekejap, semua gelap dan hitam. Beberapa saat bis berputar dan miring. Orang-orang berteriak nyaring.

“Kita akan menikah”.

Lalu dunia rasanya berputar. Ada gema takbir, zikir dan kebisuan yang panjang. Aku mendengar benturan keras sebelum semuanya menjadi gelap dan hitam. Selebihnya aku merasakan dunia berputar dengan keras, mendesing lebih halus. Segalanya berterbangan: karung-karung, tubuh, pecahan kaca, bangku-bangku, tas dan kardus, juga tubuh kami. Aku tak bisa melihatnya. Yang aku ingat saat itu hanyalah, bahwa kami tak akan pernah sampai ke Sungai Penuh, menuntaskan rencana kawin lari kami.

Begitu saja, ketika aku membuka mata, tubuhku terasa ringan dan sayap mungil telah tumbuh di sekujur tubuhku yang menciut ini. Rasanya baru saja terjadi. Tapi gundukan tanah makamku menunjukkan peristiwa itu terjadi beberapa waktu sebelumnya.

Aku ingin menemuinya. Kami telah berjanji akan menikah. Keinginan itu terasa kuat dan harus segera dilaksanakan.

“Pergilah,” aku merasakan sebuah suara menggema entah dari mana. Begitu dekat dan sangat akrab. “Masuklah ke tubuh seseorang agar kau bisa lahir kembali”.

Kali pertama aku merasa ini bukan mimpi. Sesuatu menuntunku dengan halus.

Lalu segalanya begitu terang. Aku akan lahir menjadi orang baru. Aku akan menjadi orang naik. Reinkarnasi. Manusia baru yang membawa ingatan masa lalu. Kubayangkan diriku akan benar-benar menjadi anak daro yang memakai suntiang dan selayar. Bersanding dengannya di pelaminan. Dan kini, nyaris tujuh tahun peristiwa itu terjadi dan aku akan membiarkannya menjadi rahasiaku sendiri.

 

***

 

Sepasang calon mempelai yang malang, begitulah gumam orang-orang. Tubuh mereka remuk bersama bis antar kota Batangkapas-Sungai Penuh. Tak ada pohonan yang menahan luncuran bis menuju jurang, karena sepanjang jalan hanya bersisa tunggul-tunggul mati dan batu-batu runcing akibat longsoran bukit-bukit batu.

Mereka tak pernah sampai ke Sungai Penuh. Mereka dan seluruh penumpang, kecuali sopir, meninggal di tempat. Kadangkala, sopir memang lebih beruntung ketimbang penumpang dan kernet. Tubuh mereka ditemukan bertindihan di antara potongan kaca dan bangku-bangku patah. Sepasang kaki si perempuan nyaris putus terjepit pintu. Yang lelaki, kedua matanya nyaris melompat keluar, seiris kaca tertempel di sana. Pagi itu juga mereka dibawa ke Surantih. Yang perempuan dikuburkan di tanah keluarga di lereng Langgai yang terkungkung gunung. Lelaki dikuburkan sorenya di pandam kaum Kampung Lansano dalam gericik hujan panas. Hujan panas, hujan yang turun di saat yang sama matahari tetap bersinar, semacam duka-cita langit atas manusia yang mati muda. Mati berdarah.

Tak ada yang tak mengetahui kisah malang ini. Sepasang muda-mudi yang dimabuk cinta dan tak direstui keluarga. Sungai Penuh dikenal sebagai tempat yang paling mudah untuk melaksanakan pernikahan tanpa wali. Satu-dua orang kampung atau kenalan cukuplah untuk melangsungkan pernikahan itu. Tapi tentu dengan bayaran yang tinggi. Mereka yang sudah menikah akan menetap sementara di sana. Biasanya, keluarga di kampung, setelah mendengar kabar pernikahan anak-anaknya, akan menyuruh mereka kembali ke rumah dan menikahkan mereka kembali, karena pernikahan mereka sebelumnya dianggap belum sah. Tapi tidak semua merasakan keberuntungan itu. Sebagian mereka hanya direstui satu keluarga saja atau sama sekali tidak diperkenankan pulang ke rumah dan kampungnya.

Dan kematian mereka menyadarkan orang akan banyak petuah. Anak muda akan berpikir ulang tentang rencana kawin lari mereka. Bagi mereka yang memiliki anak dara dan bujang harus lebih terbuka dan siap menerima calon pasangan anak-anaknya agar peristiwa buruk semacam itu bisa terhindarkan.

Sampai kemudian kabar itu tersiar. Ia telah menjadi orang naik di sebuah perkampungan di muara sungai. Lelaki dengan ciri-ciri yang sama dengan almarhum dengan mata yang keduanya buta. Orang mengingatnya saat kaca tertanam di mata si mayat.

 

***

 

Sejak semula, keluarganya menentang rencana pernikahannya dengan si perempuan. Laki-laki yang menikah dengan perempuan di kampung hulu hanya akan menjadi tertawaan banyak orang. “Berteman dengan hutan dan kera saja,” begitu selalu gurauan yang menjadi lelucon terburuk sepanjang hidup. Jika kau nekat, alamat menjadi bulan-bulananlah kau seumur hidup. Laki-laki yang menikah di kampung hulu dianggap bodoh, keluarganya pun tak becul mengurus anak. “Bakalan tak melihat laut selamanya. Setiap hari berkain samping dan memegang parang”.

Tapi dia tak pernah menghiraukan gurauan semacam itu. Baginya menikah ya menikah, tak peduli dengan siapa dan di mana. Menikah adalah urusan cinta.

Dan peristiwa itu terjadilah. Dan dia harus percaya bahwa ada hal-hal yang muskil dalam hidup. Sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya. Sesuatu yang belum pernah dialaminya: mati dan lahir kembali.

 

***

 

Sebagaimana yang harus terjadi, sejarah hanyalah mengulang-ulang peristiwa sama. Takdir orang naik akan selesai dengan sedikit limau dan asam. Tentu tak ada yang menginginkan bocah kecil itu diganggu masa lalunya. Sebagaimana galibnya di kampung itu, peristiwa orang naik tak terjadi sekali ini saja. Ia dan mereka sama saja, tak sepenuhnya menerima kehidupan yang baru. Igauan yang terlalu berlebihan bagi seorang bocah sepertinya.

Dan perihal baru mengenai dirinya membuatku mengutuki kelahiran ini. Ia telah dilimaukan, dimandikan dengan kembang rupa-rupa. Segala riwayat dan masalalunya akan padam bersama aliran air yang jatuh dari tubuhnya, melesap ke tanah dan akan kembali ke tiada. Sebentar lagi orang hanya tahu bahwa dia orang naik, tetapi tak satu pun masa lalu yang bisa diingatnya. Ia tak lebih seorang bocah biasa yang sedikit malang dengan kedua bola mata yang buta. Sementara seluruh riwayatnya tak bisa diselamatkan sama sekali.

Aku tak bisa menerima ini dan tak akan memaafkan kesalahan bodoh ini. Lelaki selalu terburu-buru dan kurang hati-hati. Rahasia itu telah menyebar ke penjuru kampung. Jika ia memang terlanjur dilimaukan—bagaimana pun di sini peristiwa mengalir lebih cepat dan heboh dari peristiwa sesungguhnya—aku tak pernah bisa menemuinya, bercakap tentang masa lalu. Siapa yang akan tahu kerinduanku yang meledak nyaris tujuh tahun usia kami ini?

Keluargaku tak pernah tahu bahwa aku adalah perempuan malang itu, perempuan yang selalu dicari-cari bocah laki-laki buta yang menggigau pada semua orang. Tujuh tahun aku memilih tak bersuara dan melakukan apa pun agar rahasia ini jangan tersebar, agar aku dia dapat dipertemukan. Aku tak ingin peristiwa dia menimpaku jauh-jauh hari.

Tetapi kini apa yang bisa dilakukan perempuan lumpuh—sebelah kakiku tak tumbuh dengan sempurna—macam aku di hadapan laki-laki kecil yang buta kedua matanya dan kehilangan seluruh masalalunya? Bagaimana aku mengatakan padanya bahwa aku adalah perempuannya, sementara dia tak lagi dapat mengingat masalalunya? Ia tak bisa menatap wajahku, menghitung tahi lalat di wajahnya yang jumlahnya masih sama. Ia tak akan bisa melihat dan mengingat apa pun. Limau sialan itu telah menguburnya bersama banyak kenangan.

Aku membayangkan semuanya dengan pedih.

  Artikel lainnya
Sajak-sajak Isbedy Stiawan ZS
Isbedy Stiawan ZS, lahir dan tinggal di Tanjungkarang (Lampung). Menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik. Lebih dari 17 buku cerpen dan puisi—juga antologi bersama diterbitkan oleh sejumlah penerbit di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com