Selirikan mata
Almond itu menyiratkan rasa kesal. Setangkup bibirnya mengerucut, bahunya
menegang, dan sikap duduknya menandakan bahwa ia kian tak jenak saja. Gadis
manis yang juga pemain teater itu sungguh sebal melihat polah tingkah laki-laki
remaja di sebelahnya tatkala menyaksikan drama tari Elang Ngelekak
persembahan Taman Budaya Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam di gedung pertunjukan
Taman Budaya Sumatera Barat, pada Juli setahun silam. Sementara laki-laki
remaja di sebelahnya sungguh pekak, tak juga merasa kalau keasyikannya ngobrol
via telepon genggamnya telah mericuhkan suasana hati Almond. Akhirnya, Neneng,
perempuan yang juga sederet dengannya, menegur blak-blakan.
Tapi sebenarnya
masih banyak perilaku audiens yang mempengaruhi atau turut membangun atmosfir suatu
pertunjukan, sebutlah percakapan sesama penonton, celetukan-celetukan konyol hingga
sorai dan applause, bahkan langkah-langkah kaki penonton saat memasuki
gedung pertunjukan,. Bagaimana ekspresi-ekspresi itu terlahir dan
menceruat? Barangkali saja lantaran pergelaran tersebut bersifat terbuka lagi
gratis. Tapi apakah keseluruhan ekspresi penonton itu sepenuhnya “mengganggu”
keutuhan pertunjukan? Atau malah pertanda bahwa pertunjukan itu memiliki degup yang
tak bersifat searah?
Gambaran yang
berbeda bisa dijumpai dalam pertunjukan musik Andre Rieu sebagaimana diangkat dalam
studi Ester untuk skripsi antropologinya di tahun 2009. Di situ diketengahkan
bagaimana performer berperan dalam “mendisiplinkan” jalannya pentas, khususnya
terkait penonton. Dalam pertunjukan musik Andre Rieu, salah satunya di Stadion Roda Kerkrade, Limburg, Belanda pada 5 Juli 2004, keteraturan itu bisa
diidentifikasi dengan cukup jelas.
Terlihatlah bagaimana Andre Rieu, pemain biola sekaligus konduktor asal Belanda
itu, membangun atmosfir pertunjukan.
Pada saat memainkan lagu Bummelpetrus, Andre
Rieu dan orkestranya mengajak dan merangsang penonton untuk bertepuk tangan bersama,
bersiul, dan bahkan berkumur bersama. Musik mengalun. Penonton menggoyangkan
tubuhnya ke kanan dan kiri sambil bertepuk-tangan dengan ketukan serta arah gerakan
yang sama, seolah dipandu
oleh melodi yang tengah dimainkan. Ketika tempo bertambah cepat, maka tepuk tangan pun kian cepat, dan sebaliknya.
Inilah yang diidentifikasi Ester sebagai ritus pendisiplinan.
Menonton
memang bukan melulu aktivitas melihat-menikmati apa yang tengah dipertunjukkan
di hadapannya. Penonton menyambangi sebuah alam imajiner sekaligus dunia nyata.
Ada berbagai dinamika dan kompleksitas di sana. Di seberang yang lain—dalam konteks
kesenian—sebagai salah satu aktivitas yang dipertunjukkan, tentu tidaklah hadir
begitu saja. Ia diliputi serangkaian motif juga memiliki tipologi tertentu. Laras
dengan yang diujarkan Bachtiar bahwa
kesenian berpedoman kepada sistem pengetahuan, kepercayaan, dan nilai-nilai, serta norma-norma yang
hidup dalam budaya masyarakat pemilik kesenian tersebut (Bachtiar, 1985: 21).
Artinya kesenian terikat kultur dan kultur itu dilanggengkan sekaligus
direproduksi.
Dalam konteks yang lebih luas lagi, kesenian itu
mengarah pada suatu tujuan yang di dalamnya tertampung gagasan individu maupun kolektif.
Ini sepaham dengan apa yang dilontarkan Malinowski (1944) bahwa semua
aktivitas kebudayaan memiliki tujuan, yaitu memuaskan suatu rangkaian
kebutuhan-kebutuhan naluri manusia yang berhubungan dengan
seluruh aspek hidupnya.
Dengan kata lain, aktivitas di seputar kesenian baik sebagai pelaku maupun penikmat pada
dasarnya bertautan dengan kebutuhan-kebutuhan naluri tersebut, khususnya kebutuhan
terkait ekspresi dan apresiasi. Tak menutup kemungkinan ada gesekan motif juga
kepentingan di sana.
Motif, Karakter, dan Tipologi Audiens
Di dalam
aktivitas menonton terkelindan tindakan ekspresi maupun apresiasi dalam segala
perwujudannya. Sebelum menjelajah di belantara makna dan sesekali tersesat di dalamnya,
sejenak kita babat tataran terminologinya.
Begini
penuturan Halim HD, seorang pejalan sekaligus organizer yang telah
sekian lama include di dunia seni, “Penonton atau audiens adalah mereka
yang melihat pertunjukan, membeli tiket atau gratisan, yang secara sengaja
sepenuhnya memperhatikan tontonan, atau yang sekadar hanya untuk rasa ingin
tahu, dan setelah beberapa menit meninggalkan kursi. Tapi, yang punya minat
besar juga bisa saja meninggalkan tontonan dalam beberapa menit karena merasa bosan,
karena tontonannya jelek”. Nah, dalam paparan Halim HD ini setidaknya ada dua
hal yang patut ditengarai yakni motif dan moods (suasana hati).
Sedangkan
Wawan Juanda, seturut pengalaman yang dijalaninya (khususnya pertunjukan
musik), mengklasifikasikan penonton dalam tiga kategori. Pertama,
penonton apresiatif yang betul-betul menikmati tontonan dan larut secara
emosional dengan penampilnya (Fans versus Idola). Kedua, penonton
yang mengapresiasi karya musik secara rasional tetapi tidak larut secara
emosional dengan penampilnya (Audiens versus Performer). Ketiga,
penonton yang hadir tanpa pretensi dan hadir menonton karena ajakan teman-teman
atau melihat keramaian penonton yang hadir (Audiens versus Atmosfir).
Penelaahan
senada juga bisa dijumpai dari pembacaan Anggi Minarni, direktur Karta Pustaka
(Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda) Yogyakarta yang terangkum dalam makalahnya
“Menonton Penonton Konser Musik Klasik” (2003). Anggi mengungkap bahwa perilaku
penonton menegaskan latar belakang mereka dan ada sekian tipologi yang bisa dikenali.
Pertama, penonton yang berminat kuat atau penggemar berat yang umumnya dating
tepat waktu, memerlukan program konser, memilih tempat strategis, tekun dan
tenang, serta tahu betul kapan bertepuk-tangan. Kedua, penonton yang
sedang mempelajari musik klasik yang biasanya cenderung responsif dan acap
bertepuk-tangan satu detik atau dua detik lebih awal dari yang semestinya. Ketiga,
penonton yang baru belajar mengenal musik klasik yang biasanya tidak terlalu
responsif, acap keliru dalam bertepuk-tangan dan terlihat kurang bisa menikmati
konser. Keempat, penonton “iseng-iseng berhadiah” yang biasanya memang sekadar
iseng, umumnya tidak terlalu antusias, sering lupa mematikan ponsel bahkan berbisik-bisik
sesama teman dan sebagainya.
Itu semua,
sekali lagi, menandakan adanya berbagai motif yang melatari keputusan menonton dan
mempengaruhi intensitas menonton sekaligus cuplikan samar tentang dinamika di
seputar pertunjukan.
Adalah motif
yang tak selalu tunggal serta intensitas yang fluktuatif: sebatas menonton atau
turut mengalami atau bahkan masuk dalam suatu totalitas rasa. Kemenyatuan atau
sebaliknya: keberjarakan dan keterbelahan. Tak gampang ditebak pula antara suasana
hati yang terbangun oleh atmosfir pertunjukan atau suasana hati yang tengah
melekati audiens dalam alam psikologisnya tanpa berkorelasi dengan yang
ditonton.
Tak musykil
juga terjadi, ternyata audiens asyik membangun ceruk kepentingan yang lain
dalam aktivitas menonton tersebut, misalnya berkencan sembari nonton atau
nonton demi berkencan. Fenomena semacam ini setidaknya bisa ditengarai dengan
lebih jelas pada audiens pertunjukan musik pop, dangdut, atau campursari, juga pengunjung
bioskop atau diskotik. Atau dalam kasus yang lain menonton bahkan bisa menjadi bagian
dari gaya hidup yang tak lepas dari kelas sosial. Berkembang pula apa yang
disebut snowbizme di mana penonton lebih berorientasi pada persoalan
citra. Yang lebih “tragis” adalah tatkala penonton hadir sebagai pesanan atau
dalam hegemoni kepentingan brand perusahaan tertentu yang mensponsori event.
Lepas dari
beragamnya tipologi tersebut, menarik untuk dicatat bersama apa yang diungkapkan
Halim HD untuk tidak terlalu “eksak” dalam merumuskan penonton, sebab publik
itu berkembang, termasuk dalam soal selera menonton. Ada hubungan kuat antara penonton
dengan selera—dan selera ini berkaitan dengan apresiasi. “Nah, jika kita bicara
soal apresiasi, ini juga soal proses yang harus dibentuk, mestilah ada ke arah
konstruksi dan pengembangan apresiasi,” lanjutnya dengan nada menekankan.
Konstruksi dan
pengembangan apresiasi inilah yang menjadi tantangan bagi masyarakat penonton.
Dibutuhkan kepekaan dari seluruh penyangga kesenian (tontonan), baik itu performer,
audiens, penyelenggara (event organizer), maupun sponsor.
Menonton dan Ditonton
Shin Nakagawa dalam bukunya Musik dan Kosmos:
Sebuah Pengantar Etnomusikologi (2000) mengatakan, performance merupakan
kegiatan mempertunjukkan kesenian. Pertunjukan musik selalu tergantung pada
konteks dan setiap pertunjukan selalu ada improvisasi. Sedangkan konteks
pertunjukan yaitu hubungan antara performer dengan audience. Sementara Milton Singer sebagaimana dikutip
Nakagawa dalam buku tersebut, menyusun konsep pertunjukan yang meliputi: 1).
Susunan waktu, yaitu permulaan dan akhir; 2). Program kegiatan yang diorganisasi
terlebih dahulu atau kegiatan yang diatur; 3). Satu set angkasa (ruang) antara performer dengan
audience; dan 4). Kesempatan performance. Ini tentu saja bisa berlaku
tidak terbatas pada pertunjukan musik saja tapi juga dalam ranah seni yang luas.
Dinamika dan ceruk-ceruk pertunjukan dapat
dijelajahi lebih mendalam dari konteks pertunjukan yang di dalamnya sekaligus bisa
dikuak bagaimana audiens atau penonton menempati suatu posisi dalam struktur
pertunjukan maupun konteks pertunjukan yang lebih luas. Kehidupan penonton layaknya
kehidupan masyarakat yang memiliki tatanan-tatanan tertentu dan terikat oleh suatu sistem
nilai. Penonton adalah individu-individu yang memiliki latar belakang, terikat oleh suatu motif,
sehingga melahirkan bentuk-tingkatan apresiasi yang berbeda-beda.
Sebuah fenomena yang akrab ditemui dalam pertunjukan
dangdut, misalnya. Audiens memiliki ruang luas untuk mengapresiasi
pertunjukan secara lebih bebas. Dari memburu rasa senang semata (hiburan) maupun terkait sense
of music. Mereka tidak hanya menikmati alunan musik tapi juga menikmati
sensualitas penyanyi (khususnya penyanyi perempuan) sekaligus menikmati suasana pertunjukan
yang memberi ruang-ruang “pelepasan” emotif. Di depan panggung dangdut itu lazim dijumpai
penonton yang justru asyik berjoget bahkan tak lagi memperhatikan pentas. Mereka bebas
berteriak lepas termasuk mengomentari penyanyi: suara, goyangan, maupun tubuhnya. Ada juga
yang agresif merangsek mendekati penyanyi, berusaha menyentuh tubuhnya atau
setidaknya bersalaman sembari sekaligus memegang tangan penyanyi.
Tentu berbeda halnya dengan jenis pertunjukan
lainnya seperti orkestra, tari, sulap, opera, drama, atau film. Jenis, bentuk, suasana serta konteks pertunjukan
mempengaruhi segmen audiens dan apresiasi audiens. Di sinilah keterikatan emosi audiens
khususnya dengan pertunjukan dan performer akan terbangun dan menguat atau
sebaliknya. Keterikatan emosi inilah yang bakal mempengaruhi dinamika dan
keberlangsungan suatu pertunjukan atau tontonan.
Di dalam aktivitas menonton, berlangsung berbagai
dialektika, baik itu sesame penonton, penonton dengan performance,
penonton dengan performer dan/atau penyelenggara, juga dengan individu
serta aspek-aspek lain di seputar pertunjukan. Dalam dialektika itulah
berlangsung proses share opinion,
transfer nilai, kritik, dan tindakan-tindakan apresiatif lainnya.
Seturut apa yang dikatakan Santoso bahwa seniman (performer)
maupun penonton, tidak hadir dalam ruang hampa, melainkan dalam atmosfir penuh
penafsiran. Mereka mengalami proses pemaknaan pertunjukan di mana pertunjukan
merupakan atmosfir penuh nuansa untuk mendapatkan makna itu. Melalui pertunjukan
itulah, mereka menciptakan makna tidak hanya bagi mereka sendiri, tapi juga
bagi masyarakatnya.
Posisi dan Disposisi Penonton
Ketika
dimengerti bahwa performer dan penonton, keduanya tidak hadir di ruang isolasi,
begitupun dengan seni (tontonan). Bagaimana suatu tontonan dikatakan berkelas
atau sebaliknya tak berbobot? Bagaimana suatu seni disebut seni rakyat atau
sebaliknya seni yang telah terkooptasi oleh kepentingan penguasa? Kenapa diberlakukan
tiket atau sebaliknya gratis?
Meminjam
pemikiran sosiolog asal Prancis, Pierre Bourdieu, yang mengemuka lewat konsep
habitus dan ranah—sebagaimana pula dibabar dengan rantas oleh Melanie Martini, direktris Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Yogyakarta lewat
tulisannya “Kaidah-kaidah Seni dan Cinta Seni: Teori Produksi dan Penerimaan
Hasil Budaya” dalam Basis
edisi November Desember 2003—bagaimana posisi penonton dalam konteks ini?
Dengan lantang
Bourdieu membawa analisis seni ke dalam analisis “melulu” sosiologis. Menurutnya
pengalaman estetika adalah sesuatu yang
dikonstruksi secara sosial. Apa yang “pantas dibaca, dilihat, dan diapresiasi” bukan berasal dari ilusi
selera, melainkan merupakan hasil perjuangan di dalam bidang seni dan strategi kekuasaan
untuk memonopoli apresiasi seni. Di sanalah dikonstruksi secara sosial karya mana yang
memiliki nilai dan mana yang tidak.
Dalam kerangka dunia seni berlaku dua konsep kunci Bourdieu yakni mengenai habitus dan ranah. Ranah adalah sebuah mikrokosmos lingkup sosial
yang memiliki aturan permainan tersendiri dengan mempertaruhkan hal-hal
yang khas dan modal yang khas pula. Dalam konteks ini, modal simbolik menjadi sasaran
utama perjuangan untuk memilikinya. Terhadap setiap ranah terkait suatu habitus yang khas, yaitu suatu sistem
disposisi yang sudah terintegrasi pada diri seseorang, yang tidak bisa
dicampur-adukkan begitu saja dengan asal-usul sosial. Ranah merupakan suatu lingkup posisi yang terstruktur yang
selalu berubah. Di dalam ranah orang tidak akan dapat memahami strategi pelaku kecuali jika
dihubungkan dengan posisi mereka.
Dalam studinya yang berjudul Reog Ponorogo:
Menari Di Antara Dominasi dan Keragaman (2005), M. Zamzam Fauzannafi mencatat
berlangsungnya suatu ritus pemranataan. Bagaimana formasi sosial masyarakat
Ponorogo dibentuk, tidak dibentuk, dan dibentuk kembali dalam relasi-relasi
dominasi yang termediasi melalui penginstitusian reog Ponorogo sebagai “tradisi” masyarakat
Ponorogo. Ia menjadi praktik dominasi kultural untuk membangun citra dan melanggengkan
kekuasaan.
Reog yang oleh Pemda Ponorogo ditetapkan sebagai
“tradisi Ponorogo” adalah sesuatu yang diproduksi dan direproduksi dalam
praktik sosial yang khusus. Produksi dan reproduksi itu bisa dilihat dari pentas
reog di Festival Reog Nasional (FRN). Dalam pentas itu praktik menenggak minuman keras
sebelum pentas, pakaian seksi, dan tarian erotis dilarang, diganti gerakan, pakaian, dan
tarian yang menggambarkan “keindahan”, “kesopanan”, “kegagahan”, dan
“kepahlawanan”. Ritual yang berbau kejawen dibatasi dan lebih dikemas sebagai bagian tontonan dan display
turisme. Pemberian doa diformalkan atau diganti ucapan terima kasih bagi sponsor
atau dinas pariwisata dan Bipati Ponorogo beserta jajarannya. Dalam bentukan yang lebih
samar, keterlibatan institusi negara terhadap praktik kultural nampak dengan diberlakukannya,
misalnya “Surat Ijin Keramaian” yang harus diajukan ke polisi termasuk diberlakukan
peraturan terkait tiket pertunjukan.
Di sinilah gesekan-gesekan dalam mengkonstruksi
seni dan strategi memonopoli apresiasi seni berlangsung di mana nasib penonton ada
di dalamnya. Dalam reog yang telah “diinstitusionalisasi”, penonton dikenalkan seni
yang adiluhung yang lebih mengacu pandangan penguasa. Di sini, ideologi tertentu
akan mempengaruhi siapa segmen penontonnya. Di sisi lain, komentar para kritikus seni
akan memberikan pengaruh tersendiri bagi minat audiens. Dan konstruksi itu bisa pula
berupa penghadiran seorang ikon akan lebih menyerap audiens. Atau melalui pemberlakuan
tiket, yang denan sendirinya akan membentuk kelas masyarakat penonton. Sementara di
sisi lain, suguhan pertunjukan lewat dunia maya yang mudah diakses, murah dan praktis
dapat menjadi ceruk kenyamanan tersendiri bagi publik tanpa harus mendatangi life
performance.
Komunitas, Fans, dan Snobiz
Syahdan,
Hitler berhasil menghipnotis massanya melalui efek sugesti sebagaimana acap
terjadi dalam konser musik ikon pop. Hitler melakukan rapat-rapat raksasa di
malam hari tatkala orang dalam kondisi capai dari pekerjaannya, berdiri tegak,
berhimpitan dan menunggu sekitar selama empat jam. Lalu dihentak gemuruh tiupan
ratusan terompet. Lampu pun serentak padam. Tiba-tiba dari atas ada spot
light yang menyorot sosok lelaki bertubuh kecil yang tak lain Hitler dengan
pakaian coklat dan lambaian tangan. Massa sontak menyambutnya dengan begitu meriah
sambil berteriak: Heil Hitler!
Bentuk sugesti
semacam itu sebenarnya hampir sama dengan yang terjadi dalam pertunjukan konser
ikon pop. Begitu simpul Dadang Rusbiantoro dalam bukunya Generasi MTV
(2008). Seorang fans harus mengantri berjam-jam demi mendapatkan tiket
dan berdesak-desakan memasuki padatnya arena pertunjukan juga sabar menanti
dimulainya konser. Lampu di dalam gedung tiba-tiba padam sehingga gelap gulita,
lalu terdengar distorsi suara raungan gitar dan gebukan drum dan kadang
disambut ledakan petasan dan dry ice. Lantas spot light menyorot
ke atas panggung ketika seorang vokalisnya muncul.
Strategi
sugesti itu sekaligus menggambarkan tentang bagaimana membangun atmosfir
pertunjukan untuk menyedot sekaligus mempertahankan perhatian audiens khususnya
para penggemar. Keterpukauan dan histeria penonton tak sepenuhnya sebab ikatan emosi
dengan sang idola, bahkan wibawa sang idola itu tak luput dari “polesan”. Tapi
dalam konteks yang lebih luas kemunculan fans tentu tak sepenuhnya
negatif. Bagaimana mula seorang penonton biasa beranjak menjadi fans?
Bagaimana fenomena ini berkembang?
Fenomena fans
mengemuka secara mencolok dalam musik pop dan masyarakat perkotaan. Tapi
sesungguhnya fenomena fans nyaris meliputi dunia pertunjukan dan di berbagai
lapisan masyarakat. Sebut saja Teater Koma, Teter Garasi, Ketoprak Siswo Budaya
dan sebagainya. Teater Koma misalnya, dikenal mempunyai riset dan jaringan
publik. Di ranah musik pop Indonesia tercatat begitu banyak kelompok penggemar,
antara lain Boomers (penggemar Boomerang), Baladewa (penggemar Dewa 19),
Doggies (penggemar Saggydog), Afganisme (penggemar Afgan) dan Gita Lovers
(penggemar Gita Gutawa). Juga setidaknya ada dua ikon yang memiliki fans
sekaligus fansclub dalam jumlah besar: Slank dan Iwan Fals. Di sini
persoalannya barangkali lebih manyangkut besar-kecil sekupnya, rentang waktu,
dan peran media.
Penggemar
Slank menamakan dirinya Slangkers. Sebuah komunitas penggemar yang begitu solid
dan fanatik. Komunitas ini ada di penjuru kota di Indonesia dan menggunakan ikon
Slank untuk merepresentasikan gaya hidup anak muda yang anti kemapanan selaras dengan
nama Slank yang berasal dari kata slenge`an. Ia mencerminkan perlawanan
anak muda terhadap budaya orangtua yang kolot dan konservatif.
Sementara Iwan
Fals dengan musik folk country, gitar akustik, dan iringan harmonikanya
yang mengusung lagu-lagu sarat kritik sosial juga memiliki komunitas penggemar
yang besar dan fanatik. Mereka menamakan diri Yayasan Orang Indonesia (Oi). Yayasan
Orang Indonesia ini memiliki kantor cabang di seluruh Indonesia, bahkan di
manca Negara.
Kemunculan fans
tentu tak lepas dari contens dan konteks pertunjukan yang berhasil dikonstruksi.
Halim HD menekankan bahwa fans selalu berkaitan dengan kualitas pertunjukan
yang memukau. Melalui kualitas yang baik itulah seniman terus menerus menjaga hubungannya—dan
begitu banyak media yang bisa membantu (internet-facebook dan
sebagainya). Jaringan fans akan pasang surut tergantung sejauhmana
menjaga dan mengembangkan produksi yang berkualitas.
Di ujung yang lain, etnomusikolog dari Institut Seni
Indonesia (ISI) Surakarta, Santoso, pun mengungkapkan bahwa pertunjukan mempunyai
dinamika “tinggi” atau sebaliknya “rendah” tergantung pada bagaimana
seniman mengartikulasikan pertunjukannya. Seniman
yang peka akan melakukan “transaksi” dengan mempertimbangkan lingkungannya. Mereka
mampu membangun nilai-nilai bagi komunitas pertunjukan.
Dalam tilikan
yang agak berbeda, Wawan Juanda menengarai bahwa penggemar fanatik atau
cenderung dibilang sebagai fans, terwakili secara emosional bahkan
irasional oleh musik ataupun penampilan para pelakunya, baik di atas panggung
atau di luar panggung, sehingga terbentuk ikatan antara fans dan
idolanya. “Dalam perkembangannya setiap fans ada yang memasuki lingkaran
dalam idolanya dan mereka benar-benar menjadi sangat fanatic terhadap idolanya.
Fans yang tidak dapat memasuki lingkaran dalam idolanya, mereka cenderung lebih
bisa menikmati kehadiran idolanya pada saat di atas pentas,” imbuhnya.
Keberadaan fans,
khususnya yang terorganisasi dalam kelompok, menjadi penyangga tersendiri bagi
eksistensi seniman dan karyanya. Di sanalah interelasi masyarakat seniman dan
masyarakat penonton terbangun dengan lebih massif, bahkan bisa berkembang
menjadi bentuk relasi-relasi sosial yang lain di luar konteks seni itu sendiri.
Di samping
fenomena fans muncul pula snobizme yang merambahi masyarakat khususnya
masyarakat perkotaan. Halim HD menyebut gejala itu sebagai sejenis arogansi kultural
dan inti dari showbiz adalah bagaimana menciptakan tontonan yang bisa
dijual. Lebih lanjut ia mengidentifikasi snobizme sebagai komodifikasi
tanpa orientasi, tanpa visi, seperti kebanyakan sinetron yang bebal juga
sejenis komodifikasi tradisi melalui pariwisata yang juga lumayan bebal. Yakni
tiadanya kecerdasan dalam menciptakan peristiwa dan ciptaan.
Sementara itu,
Wawan Juanda memampangkan gejala itu dengan menilik bagaimana kemunculannya.
Seturutnya, snobizme biasanya muncul untuk pertunjukan musik elitis di mana
kehadiran para penonton lebih berorientasi kepada sosialisasi pada pencitraan
yang tidak sepenuhnya menikmati pertunjukan. Kehadiran penonton sekaligus menjadi
pertimbangan untuk menghadiri atau tidak menghadiri pertunjukan tersebut.
Etika Menonton dan Ditonton
Ada sebuah informasi
terkait pagelaran musik klasik yang bertajuk “Etika Menonton di Aula Simfonia
Jakarta” pada situs www.putra-putri-indonesia.com.
Tak lain ditujukan bagi publik luas khususnya calon pengunjung pegelaran di konser
hall bertaraf internasional tersebut. Di situ termaktub serangkain etika bagi
audiens.
Pertama,
usahakanlah berpakaian serapi dan seanggun mungkin: jas lengkap (atau batik)
untuk pria dan pakaian pesta atau longdress untuk wanita. Kedua,
hadirlah setengah jam lebih awal dari jadwal pertunjukan sebab anda harus
menunggu sampai istirahat jika sampai datang terlambat. Ketiga, pergilah
ke toilet sebelum pertunjukan dimulai. Keempat, duduklah sesuai dengan
nomor tempat duduk yang tertera di tiket. Kelima, dilarang berbicara atau
berbisik-bisik selama pertunjukan. Keenam, dilarang membawa
makanan ke ruang konser hall. Ketujuh, sebelum pertunjukan dimulai,
matikanlah handphone, pager atau alat-alat elektronik anda. Kedelapan,
jangan mengambil gambar atau merekam ketika pertunjukan sedang berlangsung. Kesembilan,
berilah apresiasi berupa tepuk tangan setelah pertunjukan selesai. Kesepuluh,
berilah standing ovation pada akhir seluruh pertunjukan.
Etika menonton
di Aula Simfonia Jakarta yang berlaku juga untuk pertunjukan musik klasik pada
umumya itu memang terlihat gamblang dan rinci serta telah disosialisasikan kepada
publik luas, salah satunya melalui internet. Tapi bukankan sebuah pertunjukan
yang terlihat bebas, tidak serta merta bisa dikatakan miskin etika atau kosong
sama sekali? Bagaimana etika itu dikonstruksi dan dipertahankan?
Keberadaan dan
bentuk-bentuk etika yang melekat pada suatu pertunjukan tidak lepas dari jenis
dan komunitas penyangganya sebagaimana yang diungkapkan Wawan Juanda. Ia menengarai
bahwa setiap jenis pertunjukan musik memiliki sub kultur yang melekat dengan masing-masing
jenisnya, misalnya setiap jenis musik memiliki sub kultur dan varian yang berbeda
dalam mengapresiasikan karya musik. Masing-masing memiliki kebiasaan yang berbeda
dalam mengkomunikasikan atau mengapresiasikan bentuk apresiasi yang dilakukan melalui
tepuk tangan, tarian, ataupun teriakan. Bentuk apresiasi untuk musik rock tentu
berbeda dengan apresiasi musik jazz dan musik lainnya, yang biasanya bentuk
apresiasi penonton berlaku menurut kebiasaan.
Etika tentu
dikonstruksi dengan maksud tertentu yang umumnya mengarah pada pencapaian keteraturan,
kelancaran jalannya pertunjukan, dan kontinuitas pertunjukan. Ini akan menghindarkan
atau setidaknya meminimalisasi kejadian yang tak diinginkan seperti kerusuhan
atau konflik saat pertunjukan. Ia tersosialisasikan dan terwariskan dengan
beragam cara bahkan kadang tanpa disadari. Untuk mencapai etika sebagaimana
yang diidealkan tentu dibutuhkan tidak saja kesadaran penonton tapi juga peran
panitia, penyelenggara, dan pihak-pihak yang memungkinkan adanya pengkondisian.
Barangkali tidak bisa disalahkan sepenuhnya ketika seorang atau beberapa
penonton melakukan pelanggaran etika sebagai bentuk protes atas pertunjukan
yang ternyata tidak sesuai dengan yang diinformasikan oleh penyelenggara.
Pengalaman audiens baik berupa wacana maupun
pengalaman langsung terkait intensitas dan variasi pertunjukan yang
disambanginya juga menjadi bekal tersendiri. Yang patut dipertanyakan dan
diperhitungkan ulang adalah bagaimana agar etika yang dibangun tersebut mampu
mengakomodasi dan mendukung kepentingan berbagai pihak yang terlibat dalam
kehidupan tontonan.