Dalam sejarah manusia, orang selalu berasumsi
bahwa tujuan utama dari seni adalah komunikasi, apakah seni itu berupa musik,
tari , teater dan lukisan. Demikian pula
hubungan seni dengan religi sangat erat dan jelas, hal itu terjadi sejak zaman
dulu sampai era globalisasi sekarang ini. Anthony Shay, dalam tulisannya yang
termuat dalam buku karya Anya Peterson Royce yang berjudul The Anthropology of Dance, membedakan fungsi tari atau teater ke
dalam enam kategori: (1) sebagai refleksi dan pengesahan organisasi sosial; (2)
sebagai wadah ekspresi sekuler atau ritus religi; (3) merupakan hiburan sosial;
(4) menjadi alat atau jalan keluar dan pengenduran psikologis; (5) sebagai
refleksi nilai-nilai estetis; dan (6) sebagai sarana untuk mencari nafkah atau
merupakan aktivitas ekonomi.
Tulisan ini akan membicarakan kesenian khususnya
seni pertunjukan wayang dalam ritus inisiasi, atau dalam budaya Jawa sering
dikatakan pembersihan sukerta atau upacara ruwatan melalui pertunjukan wayang kulit.
Ritual menurut Victor Turner dalam bukunya The Forest of Symbols: Aspecs of Ndembu
Ritual, lebih menunjuk kepada perilaku tertentu yang bersifat formal,
dilakukan dalam waktu tertentu secara berkala, bukan sekadar rutinitas yang
bersifat teknis melainkan menunjuk kepada tindakan yang didasari oleh kayakinan
religius terhadap kekuasaan atau kekuatan-kekuatan mistis. Sedangkan konsep
dasar-dasar religi seperti yang dikemukan oleh Koentjaraningrat dalam bukunya Ritus Peralihan di Indonesia (1985),
terbagi menjadi lima komponen yaitu: (1)
emosi keagamaan yang menyebabkan manusia bersikap religious; (2) sistem kayakinan yang mengandung segala keyakinan
serta bayangan manusia tentang sifat-sifat Tuhan, tentang wujud dari alam gaib (supernatural),
serta segala nilai, norma, dan ajaran dari religi yang bersangkutan; (3) sistem
ritus dan upacara yang merupakan usaha manusia untuk mencari hubungan dengan
Tuhan, dewa-dewa, atau makhluk-makhluk halus yang mendiami alam gaib; (4) ritus
dan upacara religi biasanya dipergunakan bermacam-macam sarana dan prasarana;
dan (5) sistem religi adalah umatnya, atau kesatuan sosial yang menganut sistem
keyakinan dan yang melaksanakan sistem ritus serta upacara itu.
Aplikasinya dalam pembicaraan ini adalah
keterkaitan sistem religi dengan pertunjukan wayang yang menyertai ritual ngruwat atau ruwatan sebagai media untuk
komunikasi baik vertikal maupun horizontal. Sedangkan hubungan kausalitas
pertunjukan wayang kulit dengan upacara ruwatan
dapat dipahami dengan pemikiran A. Van Gennep dalam Rites de Passages yang mendefinisikan ritus peralihan sebagai ritus
yang menyertai setiap perubahan status baik dalam hal tempat, keadaan,
kedudukan maupun usia untuk menekankan kontras di antara “keadaan” melalui
transisi. Lebih jauh dikatakan bahwa semua ritus peralihan selalu ditandai oleh
tiga fase yaitu (a) separation
(pemisahan); (b) marge (peralihan/kondisi
ambang); dan (c) aggregation
(integrasi/ penyatuan kembali). Inisiasi berasal dari kata initier(-ation (f) (bahasa Perancis) yang berarti mentahbiskan
alias mensucikan.
Upacara ruwatan
dengan pertunjukan wayang tidak hanya terjadi di Jawa. Di Bali terdapat
pertunjukan wayang Sapuh Leger untuk
pensucian anak yang lahir pada wuku
wayang. Di Jawa upacara seperti
itu disebut pembersihan sukerta. Kata
sukerta berasal dari kata suker yang berarti gangguan, mala, balak, kerawanan. Dalam tradisi
Jawa orang-orang yang nandhang sukerta
harus diruwat. Kata ruwatan berasal
dari kata ruwat yang berarti patah,
rusak. Dan ruwatan diartikan sebagai
sesuatu yang harus dibersihkan atau disucikan dari segala memala. Menurut teori inisiasi yang dikemukakan oleh R.Hertz dalam
bukunya Contribution une etude sur la
Representation Collective de la Mort (1907) bahwa upacara inisiasi adalah
suatu komplek unsur-unsur kebudayaan manusia yang harus dipandang dari sudut representations collectives, yaitu
anggapan kolektif mengenai suatu masa krisis, di mana objek merupakan makhluk
yang lemah tak berdaya, sehingga harus dikuatkan dengan berbagai upacara ilmu
gaib. Berpijak dari teori ini maka bisa dibilang bahwa anak sukerta adalah manusia yang sial
keberadaannya di dunia dan dalam situasi yang krisis, sehingga harus dikuatkan
dengan ritual ruwatan atau harus diruwat. Dalam kebudayaan Jawa yang
termasuk kategori wong sukerta antara
lain: anak gedhana-gedhini,
ontang-anting, bocah kembar, gondhang kasih, uger-uger lawang, kembang
sepasang, sendhang kaapit pancuran, dan sebagainya.
Upacara ruwatan
dengan pertunjukan masih dilaksanakan sebagian masyarakat Jawa. Penulis
masih bisa melihat peristiwa ruwatan seperti
yang dilakukan oleh Mangundikromo, penduduk Dusun Grembyug, Desa Brojol,
Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen. Ia memiliki dua anak laki-laki dan perempuan
yang menurut masyarakat setempat disebut anak gedhana-gedhini, dan karena itu harus diruwat. Mangundikromo
mengundang dalang ruwat Ki Toyocarito dari Desa Mojopura, Kecamatan
Sumberlawang, Sragen yang dipercaya sebagai trah
dhalang yang telah melaksanakan tugas kemasyarakatannya.
Pertunjukannya wayang yang menyajikan lakon Murwakala itu berlangsung pada malam
hari dengan durasi sekitar dua jam. Murwakala
berkisah tentang Kala semenjak lahir di tengah lautan sampai bertemu ayahnya
yakni Betara Guru dan minta jatah makanan. Oleh Guru, Kala diberi jatah makanan
di dunia yaitu orang yang termasuk wong
sukerta. Selanjutnya Batara Guru memberi tanda goresan pada badan Kala
tentang kesejatian hidup yang dinamakan Rajah
Kalacakra. Batara Guru berpesan, barang siapa dapat menjelaskan Rajah Kalacakra, maka Kala harus tunduk
dan menghormat serta menurut segala perintahnya.
Sajian wayang Murwakala
esensinya terdapat pada adegan Dhalang Kandhabuwana dengan Kala. Pada adegan
ini, Kandhabuwana dapat menjelaskan Rajah
Kalacakra yang tertulis di badan Kala dengan mengucapkan mantra: purwaning dumadi, kalacakra, sastra telak
dan sastra jaja. Begitu mantara dibacakan, seketika itu juga Kala menjadi
tidak berdaya dan takluk menuruti segala perintah Ki Dhalang Kandhabuwana yang memintanya
kembali ke asal dan tidak jadi memakan anak sukerta.
Upacara pembersihan sukerta di Dusun Grembyug itu, dilihat dari segi jaringan hubungan
antarorang tampak sebagai cerminan adanya rasa solidaritas yang tinggi, kekeluargaan,
kebersamaan, serta gotong royong dalam hidup di masyarakat. Dalam hal ini juga
dikatakan oleh Mulders dalam bukunya Kebatinan
dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa (1983), bahwa Orang Jawa memandang dan
menyelami kehidupan mereka sebagai suatu keselarasan yang bersifat sosial dan
simbolis. Dimensi hidup satu saja; identitas si individu hanya bersifat sosial,
dan hakikat hidup diwujudkan oleh hubungan sosial.
Dalam pertunjukan wayang ritual seperti ini muncul
hal yang menarik seperti slametan
(kenduri), selain juga berbagai sajen seperti janganan sebagai lambang kesegaran yang
dipersembahkan kepada alam dan anak sukerta;
jajan pasar yang menjelaskan bahwa
hidup itu memerlukan jasa dan bantuan orang lain; buah-buahan yang melambangkan
bahwa orang yang nandhang sukerta
diharapkan segar bugar untuk mencapai tujuan hidup. Sedangkan gudhangan atau kuluban melambangkan suatu kehidupan yang tentram dan damai yang
didambakan orang. Setiap benda sajen yang
berada di atas tampah menjadi alat
untuk membersihkan sukerta. Bahkan tarub atau janur yang dipasang di tempat upacara, mempunyai maksud agar tempat
upacara suci agar ”wahyu” datang dan kesejahteraan si penyelenggara upacara
meningkat.
Kita sadari bahwa kesenian sering merupakan drama
ritual yang menjadi sarana untuk meperkuat kepercayaan dan memformulasikan
konsepsi agama mengenai kehidupan. Pertunjukan wayang dalam upacara ruwatan menjadi sarana untuk pembebasan
dosa orang yang sukerta dari ancaman
Kala. Drama wayang kulit di sini
tampaknya ada persamaan dengan drama Rangda di Bali. Rangda adalah pertunjukan
teater ritual yang menunjukan pertentangan dari dua kekuatan, secara kosmis dan
psikologis. Menurut James William dalam bukunya The Varieties of Religious Experience (1974) bahwa
sentuhan-sentuhan estetis dalam kesadaran keagamaan dapat tampak dalam tiga
bentuk, yaitu upacara korban, pengakuan, dan doa (mantram).
Pembersihan sukerta
di Dusun Grembyug, sentuhan-sentuhan estetis tampak dalam
penataan sesaji, pengucapan mantra yang diiringi gendhing-gendhing seperti Gendhing
Eling-eling dan Ayak-ayakan.
Suara mantra yang diiringi gamelan
memberikan pengalaman estetis dan pada gilirannya memberikan pengalaman
religius kepada penghayatnya. Peristiwa ini menunjukan bahwa pertunjukan wayang
merupakan bagian integral yang tak dapat dipisahkan dalam ritual inisiasi. Hal
ini sejalan dengan teori fungsionalisme yang dikembangkan oleh Malinowski bahwa
unsur kebudayaan berfungsi bilamana setiap
pola kelakuan yang telah menjadi kebiasaan, setiap kepercayaan dan sikap yang
merupakan bagian dari kebudayaan dapat memenuhi beberapa fungsi yang mendasar
dalam kebudayaan masyarakat.
Dalam hal ini, pertunjukan wayang sebagai unsur
budaya berfungsi dan mampu memenuhi keperluan asas dari warga masyarakat Grembyung.
Sehingga dapat dikatakan bahwa pembersihan sukerta
dengan pertunjukan wayang, bukan hanya memberikan pengalaman estetis atau
religius tetapi juga merupakan penghapusan dosa anak sukerta yang akan membawa ke arah peningkatan kesejahteraan bagi
manusia yang sial keberadaannya. Kesejahteraan lahir dan batin manusia hanya
dapat dicapai bilamana dilaksanakan ruwatan,
dengan pertunjukan wayang kulit yang mengambil Lakon Murwakala tersebut.