Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Selasa, 7 September 2010 | 06:25 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Sorot - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  02  03  04  
Kesenian dalam Ritus Inisiasi
Oleh: Soetarno, Pengajar ISI Surakarta, tinggal di Solo.

Tradisi ruwatan di Jawa identik dengan ritus inisiasi bagi orang sukerta. Pengalihan peran ini untuk menjauhkan sukerta dari kerakusan Betara Kala.

Dalam sejarah manusia, orang selalu berasumsi bahwa tujuan utama dari seni adalah komunikasi, apakah seni itu berupa musik, tari , teater  dan lukisan. Demikian pula hubungan seni dengan religi sangat erat dan jelas, hal itu terjadi sejak zaman dulu sampai era globalisasi sekarang ini. Anthony Shay, dalam tulisannya yang termuat dalam buku karya Anya Peterson Royce yang berjudul The Anthropology of Dance, membedakan fungsi tari atau teater ke dalam enam kategori: (1) sebagai refleksi dan pengesahan organisasi sosial; (2) sebagai wadah ekspresi sekuler atau ritus religi; (3) merupakan hiburan sosial; (4) menjadi alat atau jalan keluar dan pengenduran psikologis; (5) sebagai refleksi nilai-nilai estetis; dan (6) sebagai sarana untuk mencari nafkah atau merupakan aktivitas ekonomi.

Tulisan ini akan membicarakan kesenian khususnya seni pertunjukan wayang dalam ritus inisiasi, atau dalam budaya Jawa sering dikatakan pembersihan sukerta  atau upacara ruwatan melalui pertunjukan wayang kulit.

Ritual menurut Victor Turner dalam bukunya The Forest of Symbols: Aspecs of Ndembu Ritual, lebih menunjuk kepada perilaku tertentu yang bersifat formal, dilakukan dalam waktu tertentu secara berkala, bukan sekadar rutinitas yang bersifat teknis melainkan menunjuk kepada tindakan yang didasari oleh kayakinan religius terhadap kekuasaan atau kekuatan-kekuatan mistis. Sedangkan konsep dasar-dasar religi seperti yang dikemukan oleh Koentjaraningrat dalam bukunya Ritus Peralihan di Indonesia (1985), terbagi  menjadi lima komponen yaitu: (1) emosi keagamaan yang menyebabkan manusia bersikap religious; (2) sistem kayakinan yang mengandung segala keyakinan serta bayangan manusia tentang sifat-sifat Tuhan, tentang wujud dari alam gaib (supernatural), serta segala nilai, norma, dan ajaran dari religi yang bersangkutan; (3) sistem ritus dan upacara yang merupakan usaha manusia untuk mencari hubungan dengan Tuhan, dewa-dewa, atau makhluk-makhluk halus yang mendiami alam gaib; (4) ritus dan upacara religi biasanya dipergunakan bermacam-macam sarana dan prasarana; dan (5) sistem religi adalah umatnya, atau kesatuan sosial yang menganut sistem keyakinan dan yang melaksanakan sistem ritus serta upacara itu.

Aplikasinya dalam pembicaraan ini adalah keterkaitan sistem religi dengan pertunjukan wayang yang menyertai ritual ngruwat atau ruwatan  sebagai media untuk komunikasi baik vertikal maupun horizontal. Sedangkan hubungan kausalitas pertunjukan wayang kulit dengan upacara ruwatan dapat dipahami dengan pemikiran A. Van Gennep dalam Rites de Passages yang mendefinisikan ritus peralihan sebagai ritus yang menyertai setiap perubahan status baik dalam hal tempat, keadaan, kedudukan maupun usia untuk menekankan kontras di antara “keadaan” melalui transisi. Lebih jauh dikatakan bahwa semua ritus peralihan selalu ditandai oleh tiga fase yaitu (a) separation (pemisahan); (b) marge (peralihan/kondisi ambang); dan (c) aggregation (integrasi/ penyatuan kembali). Inisiasi berasal dari kata initier(-ation (f) (bahasa Perancis) yang berarti mentahbiskan alias mensucikan.

Upacara ruwatan dengan pertunjukan wayang tidak hanya terjadi di Jawa. Di Bali terdapat pertunjukan wayang Sapuh Leger untuk pensucian anak yang lahir pada wuku wayang. Di Jawa upacara seperti itu disebut pembersihan sukerta. Kata sukerta berasal dari kata suker yang berarti gangguan, mala, balak, kerawanan. Dalam tradisi Jawa orang-orang yang nandhang sukerta harus diruwat. Kata ruwatan berasal dari kata ruwat yang berarti patah, rusak. Dan ruwatan diartikan sebagai sesuatu yang harus dibersihkan atau disucikan dari segala memala. Menurut teori inisiasi yang dikemukakan oleh R.Hertz dalam bukunya Contribution une etude sur la Representation Collective de la Mort (1907) bahwa upacara inisiasi adalah suatu komplek unsur-unsur kebudayaan manusia yang harus dipandang dari sudut representations collectives, yaitu anggapan kolektif mengenai suatu masa krisis, di mana objek merupakan makhluk yang lemah tak berdaya, sehingga harus dikuatkan dengan berbagai upacara ilmu gaib. Berpijak dari teori ini maka bisa dibilang bahwa anak sukerta adalah manusia yang sial keberadaannya di dunia dan dalam situasi yang krisis, sehingga harus dikuatkan dengan ritual ruwatan atau harus diruwat. Dalam kebudayaan Jawa yang termasuk kategori wong sukerta antara lain: anak gedhana-gedhini, ontang-anting, bocah kembar, gondhang kasih, uger-uger lawang, kembang sepasang, sendhang kaapit pancuran, dan sebagainya.

Upacara ruwatan dengan pertunjukan masih dilaksanakan sebagian masyarakat Jawa. Penulis masih bisa melihat peristiwa ruwatan seperti yang dilakukan oleh Mangundikromo, penduduk Dusun Grembyug, Desa Brojol, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen. Ia memiliki dua anak laki-laki dan perempuan yang menurut masyarakat setempat disebut anak gedhana-gedhini, dan karena itu harus diruwat. Mangundikromo mengundang dalang ruwat Ki Toyocarito dari Desa Mojopura, Kecamatan Sumberlawang, Sragen yang dipercaya sebagai trah dhalang yang telah melaksanakan tugas kemasyarakatannya.

Pertunjukannya wayang yang menyajikan lakon Murwakala itu berlangsung pada malam hari dengan durasi sekitar dua jam. Murwakala berkisah tentang Kala semenjak lahir di tengah lautan sampai bertemu ayahnya yakni Betara Guru dan minta jatah makanan. Oleh Guru, Kala diberi jatah makanan di dunia yaitu orang yang termasuk wong sukerta. Selanjutnya Batara Guru memberi tanda goresan pada badan Kala tentang kesejatian hidup yang dinamakan Rajah Kalacakra. Batara Guru berpesan, barang siapa dapat menjelaskan Rajah Kalacakra, maka Kala harus tunduk dan menghormat serta menurut segala perintahnya.

Sajian wayang Murwakala esensinya terdapat pada adegan Dhalang Kandhabuwana dengan Kala. Pada adegan ini, Kandhabuwana dapat menjelaskan Rajah Kalacakra yang tertulis di badan Kala dengan mengucapkan mantra: purwaning dumadi, kalacakra, sastra telak dan sastra jaja. Begitu mantara dibacakan, seketika itu juga Kala menjadi tidak berdaya dan takluk menuruti segala perintah Ki Dhalang Kandhabuwana yang memintanya kembali ke asal dan tidak jadi memakan anak sukerta.

Upacara pembersihan sukerta di Dusun Grembyug itu, dilihat dari segi jaringan hubungan antarorang tampak sebagai cerminan adanya rasa solidaritas yang tinggi, kekeluargaan, kebersamaan, serta gotong royong dalam hidup di masyarakat. Dalam hal ini juga dikatakan oleh Mulders dalam bukunya Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa (1983), bahwa Orang Jawa memandang dan menyelami kehidupan mereka sebagai suatu keselarasan yang bersifat sosial dan simbolis. Dimensi hidup satu saja; identitas si individu hanya bersifat sosial, dan hakikat hidup diwujudkan oleh hubungan sosial.

Dalam pertunjukan wayang ritual seperti ini muncul hal yang menarik seperti slametan (kenduri), selain juga berbagai sajen seperti janganan sebagai lambang kesegaran yang dipersembahkan kepada alam dan anak sukerta; jajan pasar yang menjelaskan bahwa hidup itu memerlukan jasa dan bantuan orang lain; buah-buahan yang melambangkan bahwa orang yang nandhang sukerta diharapkan segar bugar untuk mencapai tujuan hidup. Sedangkan gudhangan atau kuluban melambangkan suatu kehidupan yang tentram dan damai yang didambakan orang. Setiap benda sajen yang berada di atas tampah menjadi alat untuk membersihkan sukerta. Bahkan tarub atau janur yang dipasang di tempat upacara, mempunyai maksud agar tempat upacara suci agar ”wahyu” datang dan kesejahteraan si penyelenggara upacara meningkat.

Kita sadari bahwa kesenian sering merupakan drama ritual yang menjadi sarana untuk meperkuat kepercayaan dan memformulasikan konsepsi agama mengenai kehidupan. Pertunjukan wayang dalam upacara ruwatan menjadi sarana untuk pembebasan dosa orang yang sukerta dari ancaman Kala. Drama wayang kulit di sini tampaknya ada persamaan dengan drama Rangda di Bali. Rangda adalah pertunjukan teater ritual yang menunjukan pertentangan dari dua kekuatan, secara kosmis dan psikologis. Menurut James William dalam bukunya The Varieties of Religious Experience (1974) bahwa sentuhan-sentuhan estetis dalam kesadaran keagamaan dapat tampak dalam tiga bentuk, yaitu upacara korban, pengakuan, dan doa (mantram).

Pembersihan sukerta di Dusun Grembyug, sentuhan-sentuhan estetis tampak dalam penataan sesaji, pengucapan mantra yang diiringi gendhing-gendhing seperti Gendhing Eling-eling dan Ayak-ayakan. Suara mantra yang diiringi gamelan memberikan pengalaman estetis dan pada gilirannya memberikan pengalaman religius kepada penghayatnya. Peristiwa ini menunjukan bahwa pertunjukan wayang merupakan bagian integral yang tak dapat dipisahkan dalam ritual inisiasi. Hal ini sejalan dengan teori fungsionalisme yang dikembangkan oleh Malinowski bahwa unsur kebudayaan  berfungsi bilamana setiap pola kelakuan yang telah menjadi kebiasaan, setiap kepercayaan dan sikap yang merupakan bagian dari kebudayaan dapat memenuhi beberapa fungsi yang mendasar dalam kebudayaan masyarakat.

Dalam hal ini, pertunjukan wayang sebagai unsur budaya berfungsi dan mampu memenuhi keperluan asas dari warga masyarakat Grembyung. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembersihan sukerta dengan pertunjukan wayang, bukan hanya memberikan pengalaman estetis atau religius tetapi juga merupakan penghapusan dosa anak sukerta yang akan membawa ke arah peningkatan kesejahteraan bagi manusia yang sial keberadaannya. Kesejahteraan lahir dan batin manusia hanya dapat dicapai bilamana dilaksanakan ruwatan, dengan pertunjukan wayang kulit yang mengambil Lakon Murwakala tersebut.

  Artikel lainnya
Nonton Masyarakat Penonton
Penonton bukanlah semata suara-suara yang kadang lancang mengolok atau membisu tanpa geming. Ia adalah elemen penting sekaligus penyangga denyut pertunjukan. Di dalam aktivitas menonton dan ditonton, sebutlah pada seni pertunjukan, terkelindan berbagai dialektika, baik sesama penonton, penonton dengan performance, penonton dengan performer, bahkan dengan penyelenggara ataupun aspek-aspek lain di seputar pertunjukan. Sang penonton sah-sah saja untuk memicing atau membelalakkan mata, puas atau kecewa, abai atau apresiatif. Tapi tak perlu ekstrim, sebab ia tidak serta merta bebas berpolah-tingkah. Bagaimana berbagai dialektika itu berlangsung dan saling kelindan?
Gaya Hidup Menonton
Menjadi penonton bisa menjadi bagian dari gaya hidup. Orang berkesempatan memilih, mengapresiasi, sampai menemukan manfaatnya—sepanjang ia suka.
Interelasi Masyarakat Seniman dan Penonton
Seniman maupun penonton tidak hadir dalam ruang isolasi, tapi dalam atmosfir penuh penafsiran. Bagaimana keduanya mendapatkan makna pertunjukan?
Kehadiran Penonton:
Intervensi Merugikan atau Menguntungkan?
Sudah jamak, kehadiran penonton adalah nutrisi bagi berlangsungnya pertunjukan. Tapi ingat, ia bisa menghancurkan sekaligus memperkuat solidaritas penonton dan seniman.
Halim HD
Magnitude Tontonon yang Bergizi
Penonton menyandang peran yang tak bisa dianggap enteng dalam keutuhan dan keberlangsungan pertunjukan. “Jika performer ingin dihormati dan dihargai oleh penonton, maka mestilah memberi sesuatu yang berkualitas,” kata Halim HD. Sosok yang cukup intens mengamati dinamika seni ini seolah mewakili suara masyarakat penonton. “Mereka bisa membangkitkan gairah pelaku pertunjukan,” katanya tentang ihwal pentingnya penonton. Ia pun kemudian fasih membabar dunia penonton. Dan ia mulai menyambangi berbagai acara seni di berbagai wilayah. Keluar masuk kampung di Jawa maupun lintas provinsi. Pejalan kelahiran Serang, Banten, ini pun telah melintasi banyak negara hanya untuk memelototi pertunjukan. Bagaimana signifikannya peran penonton tersebut? Berikut kutipan wawancara Halim HD yang dilayangkan Ayya Zakia (Gong) via e-mail pada Februari 2010.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com