Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Sabtu, 11 September 2010 | 06:53 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Sorot - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  02  03  
Ketegangan di Ambang Pintu-Pintu
Oleh: Ayya Zakia

Ritus inisiasi dihadapkan pada kepraktisan, juga resistensi dari peradaban kontrainisiasi. Ada ketegangan di posisi ambang itu.

Tidak di dalam tapi tidak di luar. Posisi ambang ini dipandang bakal membuahkan ketegangan yang lazim menandai setiap fase peralihan individu maupun komunitas, di antaranya peralihan terkait siklus hidup dan peralihan posisi struktural. Ritus inisiasi dikonstruksi untuk mengawal berlangsungnya fase tersebut sehingga ketercekatan itu dapat terlampaui dengan baik—yang dalam konteks ini, tak melulu menyaran pada liminalitas Victor Turner.

Keberlangsungan ritus sekaligus mengindikasikan adanya dua kutub yakni individu sebagai subjek sekaligus objek inisiasi dan di sisi lain keseluruhan individu dan sistem yang memberikan bentuk dan mengatur jalannya ritus. Ada hempangan latar tradisi berkait dengan adat istiadat tapi juga sodoran nilai-nilai baru yang menjadi acuan lain seturut gerak kebudayaan. Kaki kanan di depan tapi kaki kiri tetap di belakang atau sebaliknya. Pertemuan kedua arus ini pada eskalasi tertentu memicu ketegangan di mana nilai-nilai modernitas menawarkan antitesis yang acap mengemuka dalam bentuk resistensi. Bagaimana loyalitas, kompromi, dan penolakan itu saling bersinggungan?

 

Kompleksitas dalam Ritus

Simaklah Mepandes di Bali. Upacara potong gigi yang juga lazim disebut Metatah ini dilaksanakan setelah anak meningkat dewasa, bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Sipu. Dua gigi taring dan empat gigi tengah melambangkan Sad Sipu atau enam sifat buruk, yakni: nafsu (kama), rakus (loba), marah (kroda), mabuk (mada), bingung (moha), dan dengki (matsarya). Enam gigi itulah yang diratakan atau dikikir. Dilaksanakan oleh Pandita dengan dibantu seorang Sungging setelah melewati beberapa prosesi.

Tradisi mengikir gigi juga dapat dijumpai di sebagian besar daerah kebudayaan Jawa khususnya beberapa tingkat generasi di atas generasi saat ini. Barangkali, karena alasan kesehatan, ritual ini telah menguap: kikir gigi pada umumnya mengikis email atau bagian ujung gigi sehingga gigi menjadi rentan terhadap kerusakan dan infeksi.

Simak juga berbagai ritus lainnya misalnya upacara pernikahan dan kematian yang di pelbagai suku bangsa merupakan ritus yang diutamakan. Di dalam suatu ritus terdapat serangkaian prosesi. Ritus memuat unsur sakral maupun profan sekaligus unsur individu maupun sosial yang saling membaur sedemikian rupa (baca R. Subagya dalam Agama dan Kerohanian Asli Indonesia).

Dalam pernikahan ada tahap pertunangan, melamar, akad nikah, hingga pelepasan kedua mempelai menjadi keluarga baru yang otonom. Pernikahan mempelai yang berbeda etnis di mana keduanya sama-sama kuat memegang adatnya tentu dikenai prosesi yang berbeda pula. Lama upacara pernikahan berbeda-beda seturut adat yang dipegang. Di Minangkabau kurang lebih selama 7 hari, di Jawa selama 5 hari, dan di Aceh bahkan bisa mencapai 14 hari.

Di Ambon terdapat tiga macam upacara dalam upacara pernikahan yang meliputi upacara adat, sipil, dan keagamaan. Upacara adat dilaksanakan dengan intensitas kemeriahan yang lebih dibanding sipil dan keagamaan. Upacara ini menandai penerimaan pihak wanita dalam Kailolo Soa atau Uli penerima oleh pengantin. Harta kawin ditentukan secara mendetail. Sesudah kedua pengantin makan nasi kuning dari satu piring, ikan lalossi dan minum saguar (tuak), pemimpin acara dari pihak wanita lantas mengucapkan doa.

Upacara yang kompleks tersebut juga terjadi dalam upacara kematian—yang salah satunya bisa dilihat pada masyarakat Dayak. Bagi orang Dayak (Kalimantan), upacara kematian menduduki posisi penting dalam agama Kaharingan. Terdapat tiga rangkaian yakni pemakaman sementara, upacara Wara (mengantar roh ke negeri arwah), dan upacara Siwah sebagai pelepasan diri dan mengakhiri masa berkabung. Dalam upacara Siwah, tulang-tulang dibongkar, dibersihkan, dibungkus dengan daun dan dimasukkan keriring (peti). Setelah dibawa berkeliling rumah sebanyak tujuh kali, keriring diletakkan di dalam hutan kemudian diikuti dengan pesta besar (makan, minum tuak, menari)—pertanda tertib alam dan berdamainya surga dengan dunia.

 

Ketegangan Nilai

Sekelumit pasase itu menggambarkan berbagai kompleksitas dan pengorbanan yang bersifat individu maupun kolektif, material maupun imaterial. Setidaknya, kompleksitas dan pengorbanan itulah yang dalam benak masyarakat kosmopolitan terasa ganjil. Reprositas dalam penyelenggaraan upacara dianggap sulit mencapai keseimbangan. Serangkaian tata cara yang kompleks diidentifikasi berangkat dari kepercayaan dan mitos yang belum tentu selaras dengan perkembangan zaman. Waktu penyelenggaraan upacara acap bergesekan dan tak sejalan dengan mobilitas warga.

Alam pikir modern mengetengahkan seperangkat parameter yang berlainan dan memunculkan etos kebudayaan yang berbeda pula, misalnya orientasi pada kemajuan, hukum efektifitas dan efisiensi, kesetaraan gender, serta penghargaan pada individualitas. Nilai-nilai tradisi yang kaku niscaya jerat yang musti diretas.

Saluran difusi sebut saja ilmu pengetahuan dan teknologi hadir sebagai ruang luas untuk mempertanyakan ulang ritus yang dijalankan. Penemuan di bidang kesehatan bahwa kikir gigi cenderung berdampak negatif sehingga lebih baik dihindari telah menggoyah posisi upacara Mepandes. Dalam masyarakat modern, kikir gigi dilakukan lebih didorong oleh motif kecantikan dan dilakukan oleh dokter gigi. Tradisi pertunangan oleh sebagian umat Islam dipandang mengulur-ulur pernikahan dan rentan terhadap zina. Standar maskawin dianggap terlalu kaku dan memberatkan. Belum lagi serangkaian tata cara yang dirasa njlimet dan terlalu memakan waktu. Maka muncullah berbagai modifikasi yang mengarah pada kepraktisan. Bahkan sekalipun dalam kemewahan, misalnya dengan menggunakan jasa wedding organizer.

Sejalan dengan perkembangan tafsir ideologis, upacara kematian (seturut adat) dipandang penuh tahyul dan menelantarkan jenazah sebab prosesi yang berkepanjangan. Belum lagi prasyarat yang dalam kebanyakan upacara di seputar kematian cenderung menuntut biaya tinggi, seperti Ngaben di Bali, Siwah di Kalimantan, Haul di Jawa, dan sebagainya.

Tak syak lagi, jamak adanya, setiap perubahan kebudayaan nyaris selalu diawali dengan pertentangan nilai. Adopsi terhadap nilai-nilai baru hampir selalu berhadap-hadapan dengan sikap defensif khususnya dari generasi pendahulu. Bahkan inisiasi seturut yang diungkapkan Edi Sedyawati (arkeolog dan guru besar Universitas Indonesia) bisa tak memiliki kesakralan lagi jika hanya dianggap sebagai simbol dan harapan. Yang berarti: penyelenggaraan inisiasi sebatas memenuhi kelaziman belaka.

Posisi ambang atau fase peralihan itu akhirnya diliputi ketegangan tidak saja ketegangan seturut konsep inisiasi, melainkan sekaligus ketegangan dalam pengambilan keputusan untuk menyelenggarakan ritus sesuai adat atau dengan berbagai modifikasi atau resisten terhadapnya.

  Artikel lainnya
Nonton Masyarakat Penonton
Penonton bukanlah semata suara-suara yang kadang lancang mengolok atau membisu tanpa geming. Ia adalah elemen penting sekaligus penyangga denyut pertunjukan. Di dalam aktivitas menonton dan ditonton, sebutlah pada seni pertunjukan, terkelindan berbagai dialektika, baik sesama penonton, penonton dengan performance, penonton dengan performer, bahkan dengan penyelenggara ataupun aspek-aspek lain di seputar pertunjukan. Sang penonton sah-sah saja untuk memicing atau membelalakkan mata, puas atau kecewa, abai atau apresiatif. Tapi tak perlu ekstrim, sebab ia tidak serta merta bebas berpolah-tingkah. Bagaimana berbagai dialektika itu berlangsung dan saling kelindan?
Gaya Hidup Menonton
Menjadi penonton bisa menjadi bagian dari gaya hidup. Orang berkesempatan memilih, mengapresiasi, sampai menemukan manfaatnya—sepanjang ia suka.
Interelasi Masyarakat Seniman dan Penonton
Seniman maupun penonton tidak hadir dalam ruang isolasi, tapi dalam atmosfir penuh penafsiran. Bagaimana keduanya mendapatkan makna pertunjukan?
Kehadiran Penonton:
Intervensi Merugikan atau Menguntungkan?
Sudah jamak, kehadiran penonton adalah nutrisi bagi berlangsungnya pertunjukan. Tapi ingat, ia bisa menghancurkan sekaligus memperkuat solidaritas penonton dan seniman.
Halim HD
Magnitude Tontonon yang Bergizi
Penonton menyandang peran yang tak bisa dianggap enteng dalam keutuhan dan keberlangsungan pertunjukan. “Jika performer ingin dihormati dan dihargai oleh penonton, maka mestilah memberi sesuatu yang berkualitas,” kata Halim HD. Sosok yang cukup intens mengamati dinamika seni ini seolah mewakili suara masyarakat penonton. “Mereka bisa membangkitkan gairah pelaku pertunjukan,” katanya tentang ihwal pentingnya penonton. Ia pun kemudian fasih membabar dunia penonton. Dan ia mulai menyambangi berbagai acara seni di berbagai wilayah. Keluar masuk kampung di Jawa maupun lintas provinsi. Pejalan kelahiran Serang, Banten, ini pun telah melintasi banyak negara hanya untuk memelototi pertunjukan. Bagaimana signifikannya peran penonton tersebut? Berikut kutipan wawancara Halim HD yang dilayangkan Ayya Zakia (Gong) via e-mail pada Februari 2010.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com