Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Selasa, 7 September 2010 | 06:55 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Sorot - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  02  03  04  
Inisiasi Mandasia
Oleh: Soedarmono, Dosen Sejarah Universitas Sebelas Maret, tinggal di Solo.

Sebuah ritual tradisi yang mempertautkan inisiasi pertanian dengan kisah legenda. Begitulah cara Mandasia memperkaya tafsir atas narasi besar kebudayaan Jawa.

Mandasia adalah salah satu nama dari sejumlah 30 wuku dalam sistem pawukon (mingguan) penanggalan Jawa. Ia termasuk dalam tradisi perhitungan (petangan Jawi) yang selalu dikaitkan dengan upacara sakral. Dikawasan lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah, komunitas petani masyarakat Desa Blumbang dan Pancot masih menjaga eksistensi upacara bersih desa mandasio hingga kini.

Hari Mandhasia ditentukan menurut perhitungan sakral yaitu persilangan makna penanggalan: lima hari Jawa (sepasaran), enam hari Jawa (paringkelan), tujuh hari penanggalan nasional, dan 30 minggu pawukon Jawa. Upacara ini dimulai menurut tradisi lisan (folklore) tentang kematian prabu Boko yang jatuh pada persilangan antara hari Selasa (anggara) pasaran Kliwon (kasih), Paringkelan tingel, dan wuku mandhasiyo. Peperangan dengan tokoh lokal Gathuk-koco dari Desa Blumbang terjadi karena mereka sama-sama ingin mengadu kesaktiannya.

Peperangan itu berakhir dengan dimenangkannya Gathuk-koco, disertai pertobatan Prabu Boko karena sudah menyengsarakan seluruh warga Tawangmangu. Pertobatan itu berupa permintaan bila dikabulkan seluruh tubuhnya bisa dimanfaatkan  untuk kesuburan seluruh hasil hortikultura lokal oleh seluruh masyarakat petani. Lantas, oleh masyarakat di situ, perhitungan selasa kliwon yang jatuh wuku mandhasiyo, dipercaya sebagai hari suci atau wahyu tumurun yang ditandai prosesi petik bawang putih. Peristiwa ini mencatat bahwa ada hubungan antara nilai-nilai mistis lokal dengan perilaku sejarah lokal. Karena, dalam tradisi lisan di sana, logika sejarah harus ditafsirkan dengan aspek mistis yang legendaries: Pertobatan prabu Boko bisa diterima oleh seluruh komunitas petani lokal, sehingga terjadilah kesejahteraan ekonomi petani berkat jasa tokoh Gathuk-koco dan Prabu Boko.

Analogi lokal juga menafsirkan sebagai berikut: otak Prabu Boko berubah menjadi gunung gamping yang berada di bawah Tawangmangu, Rambutnya menjadi sayuran kool, gigi geraham putih menjadi bawang putih, geraham merah menjadi bawang merah, jari tangan menjadi wortel, dan seterusnya. Bila dianalogkan dengan nilai pembenaran umum dari hasil hortikultura lokal di sana, ada locus yang berhasil diadobsi atas nilai mistis dengan sejarah lokal itu.

Hingga pada akhirnya, analogi akhir atas kisah-kisah sejarah lokal seperti yang digambarkan itu bisa dianggap sebagai contoh untuk studi model tentang bertemunya unsur sejarah dengan nilai-nilai mistis-legendaris lokal. Ini adalah peristiwa folklore yang beranalogi dengan sejarah.

 

Ethos Petani Kebun

Mandhasia menjadi salah satu bentuk budaya tradisi besar petani Jawa yang bersinggungan dengan masyarakat Petani bawang di Tawangmangu. Fenomena ini bisa menjadi jawaban budaya (local wisdom) atas tantangan alam dalam kerangka masyarakat petani mampu menjawab tantangan-tantangan alam di sekitarnya. Bila dianalogikan dalam siklus hidup mereka yang selalu menerima tantangan alam yang berhawa dingin, dan tanah subur berbukit-bukit, maka analogi mereka akan menemukan jenis tanaman hortikultura yang tepat dengan iklim lingkungan sosialnya. Itulah argumentasi kolektif ketika masyarakat mampu mengembangkan pemikiran yang kreatif atas tantangan alam di sekitarnya.

Boleh saja analisa obyektif atas kreasi budaya lokal di sana dianalogkan dengan teori tantangan dan jawaban atas usulan Arnold Toynbee. Akan tetapi faktor kondisional lingkungan budaya ternyata lebih mampu menghasilkan kultur rekonsiliasi antara unsur lokal dan tradisi besar Jawa dalam konsep petangan Jawi yang disebut Mandhasiya itu. Lebih-lebih siklus waktunya selalu jatuh pada perhitungan setiap setengan tahun sekali, selalu diulang-ulang, selalu ada prosesi sakral mandhasianan.

Pada siklus penghitungan tanam, petani dihadapkan pada ketentuan hari penanaman bibit disertai menghitung neptu dan wuku. Wuku ringkel menjad pantangan untuk menanam segala macam bibit di sana. Di samping itu, upacara tanam juga selalu diiringi doa untuk tanaman hortikultura. “Mbok ibu bumi, aku ntitip wiji, tibaa ing lemah rengka, bisaa dawa, bisaa subur, muga-muga turah kanggo sandhang pangan, yen turah dienggo nyokong negoro, wiji sekethi bisa dadi wiji sakreneng dadi sapendheleng.” Demikian antara lain bunyi mantranya, yang intinya memohon anugerah dan kesuburan tanaman.

Lalu, pada waktu petik buah, mantra yang dikumandangkan: “Mbok Sri Grendhel lan mbok Sri Menthel kowe tak boyong menyang gedhong patileman. Aku njaluk berkat-mekakat, mandhel digarap sak sikep rabi. Kyai Sampar lan Kyai Sandhung Dalan, ojo gawe reridhu olehku mboyong mbok Sri Mentel lan mBok Sri Grendhel.” Masih ada lagi doa yang terakhir bila sampai di rumah: “Mbok Sri Grendhel lan mBok Sri Menthel, kowe wis tak boyong ing gedhong patileman. Opo sing tak sajekke kuwi tak aturi nyicipi, kurang dungkape, kula aturi muwuhi piyambak, sepiro kaluputanku, aku njaluk pangapuro”.

Selain mandhasia, sebagai alat kelengkapan untuk kebutuhan tani di Desa Blumbang dan Pancot juga diadkan upacara dawuhan. Upacara ini berikhtiar untuk membersihkan sumber mata air dan seluruh jaringan irigasi yang mengairi kebutuhan para petani di sana. Upacara dawuhan dilaksanakan pada siklus enam lapan sekali (setiap 210 hari ) untuk memperbaiki saluran-saluran irigasi dan fungsi air minum di desa.

 

Kesimpulan

Banyak varian inisiasi desa yang bisa ditemukan di Nusantara, tapi mungkin sangat sedikit yang bisa dijumpai berbagai bentuk kreatif lokal, seperti Mandhasia ini. Potret bersih desa di dua desa Blumbang dan Pancot yang menempatkan penokohan Prabu Boko itu, bisa saja merupakan penggambaran dari tradisi kecilnya folklore Ratu Boko-nya Prambanan yang lebih dahulu diklaim menjadi tradisi besar jaman Mataram kuno. Namun pengertian local wisdomnya Tawangmangu jangan dilupakan bahwa masyarakat mereka juga mempunyai hak untuk mengklam milik mereka. Justru pemahaman lokal seperti itu pencitraannya terletak pada unsur-unsur kreativitas lokal yang mampu mengembangkan tafsir-tafsir lokal. Seperti gigi geraham ditafsirkan menjadi bawang putih, bawang merah, dan seterusnya.

Bahkan di sisi yang lain, ada pula yang sempat menafsirkan dalam studi model pertanian Jawa yang berhasil melakukan rekonsiliasi budaya dari dua dunia petani Jawa vs petani hortikultura Belanda. Di saat mereka dijajah oleh Belanda, tampaknya dari sisi gaya hidup pertanian dua bangsa ini malah terjalin inkulturasi budaya dalam hal pertukaran bibit-bibit pertanian. Oleh karena itu, mudahlah kita membuat tafsiran-tafsiran lokal, semacam tokoh prabu Boko ditafsirkan sebagai sosok Belanda yang semula menyengsarakan tetapi kemudian bertobat, malah bisa memberi faedah untuk lahirnya ethos petani bawang putih atau bawang merah di tanah Tawangmangu itu.

  Artikel lainnya
Nonton Masyarakat Penonton
Penonton bukanlah semata suara-suara yang kadang lancang mengolok atau membisu tanpa geming. Ia adalah elemen penting sekaligus penyangga denyut pertunjukan. Di dalam aktivitas menonton dan ditonton, sebutlah pada seni pertunjukan, terkelindan berbagai dialektika, baik sesama penonton, penonton dengan performance, penonton dengan performer, bahkan dengan penyelenggara ataupun aspek-aspek lain di seputar pertunjukan. Sang penonton sah-sah saja untuk memicing atau membelalakkan mata, puas atau kecewa, abai atau apresiatif. Tapi tak perlu ekstrim, sebab ia tidak serta merta bebas berpolah-tingkah. Bagaimana berbagai dialektika itu berlangsung dan saling kelindan?
Gaya Hidup Menonton
Menjadi penonton bisa menjadi bagian dari gaya hidup. Orang berkesempatan memilih, mengapresiasi, sampai menemukan manfaatnya—sepanjang ia suka.
Interelasi Masyarakat Seniman dan Penonton
Seniman maupun penonton tidak hadir dalam ruang isolasi, tapi dalam atmosfir penuh penafsiran. Bagaimana keduanya mendapatkan makna pertunjukan?
Kehadiran Penonton:
Intervensi Merugikan atau Menguntungkan?
Sudah jamak, kehadiran penonton adalah nutrisi bagi berlangsungnya pertunjukan. Tapi ingat, ia bisa menghancurkan sekaligus memperkuat solidaritas penonton dan seniman.
Halim HD
Magnitude Tontonon yang Bergizi
Penonton menyandang peran yang tak bisa dianggap enteng dalam keutuhan dan keberlangsungan pertunjukan. “Jika performer ingin dihormati dan dihargai oleh penonton, maka mestilah memberi sesuatu yang berkualitas,” kata Halim HD. Sosok yang cukup intens mengamati dinamika seni ini seolah mewakili suara masyarakat penonton. “Mereka bisa membangkitkan gairah pelaku pertunjukan,” katanya tentang ihwal pentingnya penonton. Ia pun kemudian fasih membabar dunia penonton. Dan ia mulai menyambangi berbagai acara seni di berbagai wilayah. Keluar masuk kampung di Jawa maupun lintas provinsi. Pejalan kelahiran Serang, Banten, ini pun telah melintasi banyak negara hanya untuk memelototi pertunjukan. Bagaimana signifikannya peran penonton tersebut? Berikut kutipan wawancara Halim HD yang dilayangkan Ayya Zakia (Gong) via e-mail pada Februari 2010.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com