Mandasia adalah salah satu nama dari
sejumlah 30 wuku dalam sistem pawukon (mingguan) penanggalan Jawa. Ia
termasuk dalam tradisi perhitungan (petangan
Jawi) yang selalu dikaitkan dengan upacara sakral. Dikawasan lereng Gunung Lawu,
Jawa Tengah, komunitas petani masyarakat Desa Blumbang dan Pancot masih menjaga
eksistensi upacara bersih desa mandasio
hingga kini.
Hari Mandhasia ditentukan menurut
perhitungan sakral yaitu persilangan makna penanggalan: lima hari Jawa (sepasaran), enam hari Jawa (paringkelan), tujuh hari penanggalan
nasional, dan 30 minggu pawukon Jawa.
Upacara ini dimulai menurut tradisi lisan (folklore)
tentang kematian prabu Boko yang jatuh pada persilangan antara hari Selasa (anggara) pasaran Kliwon (kasih), Paringkelan tingel, dan wuku mandhasiyo. Peperangan
dengan tokoh lokal Gathuk-koco dari Desa
Blumbang terjadi karena mereka
sama-sama ingin mengadu kesaktiannya.
Peperangan itu berakhir dengan
dimenangkannya Gathuk-koco, disertai pertobatan Prabu Boko karena sudah
menyengsarakan seluruh warga Tawangmangu. Pertobatan itu berupa permintaan bila
dikabulkan seluruh tubuhnya bisa dimanfaatkan untuk kesuburan seluruh hasil hortikultura
lokal oleh seluruh masyarakat petani. Lantas, oleh masyarakat di situ,
perhitungan selasa kliwon yang jatuh wuku mandhasiyo, dipercaya sebagai hari suci atau wahyu tumurun yang ditandai prosesi petik bawang putih. Peristiwa
ini mencatat bahwa ada hubungan antara nilai-nilai mistis lokal dengan perilaku
sejarah lokal. Karena, dalam tradisi lisan di sana, logika sejarah harus
ditafsirkan dengan aspek mistis yang legendaries: Pertobatan prabu Boko bisa
diterima oleh seluruh komunitas petani lokal, sehingga terjadilah kesejahteraan
ekonomi petani berkat jasa tokoh Gathuk-koco dan Prabu Boko.
Analogi lokal juga menafsirkan sebagai
berikut: otak Prabu Boko berubah menjadi gunung gamping yang berada di bawah Tawangmangu,
Rambutnya menjadi sayuran kool, gigi geraham putih menjadi bawang putih,
geraham merah menjadi bawang merah, jari tangan menjadi wortel, dan seterusnya.
Bila dianalogkan dengan nilai pembenaran umum dari hasil hortikultura lokal di sana,
ada locus yang berhasil diadobsi atas nilai mistis dengan sejarah lokal itu.
Hingga pada akhirnya, analogi akhir atas
kisah-kisah sejarah lokal seperti yang digambarkan itu bisa dianggap sebagai
contoh untuk studi model tentang bertemunya unsur sejarah dengan nilai-nilai
mistis-legendaris lokal. Ini adalah peristiwa folklore yang beranalogi dengan
sejarah.
Ethos Petani
Kebun
Mandhasia menjadi salah satu bentuk
budaya tradisi besar petani Jawa yang bersinggungan dengan masyarakat Petani
bawang di Tawangmangu. Fenomena ini bisa menjadi jawaban budaya (local wisdom) atas tantangan alam dalam
kerangka masyarakat petani mampu menjawab tantangan-tantangan alam di
sekitarnya. Bila dianalogikan dalam siklus hidup mereka yang selalu menerima
tantangan alam yang berhawa dingin, dan tanah subur berbukit-bukit, maka
analogi mereka akan menemukan jenis tanaman hortikultura yang tepat dengan
iklim lingkungan sosialnya. Itulah argumentasi kolektif ketika masyarakat mampu
mengembangkan pemikiran yang kreatif atas tantangan alam di sekitarnya.
Boleh saja analisa obyektif atas kreasi
budaya lokal di sana dianalogkan dengan teori tantangan dan jawaban atas usulan
Arnold Toynbee. Akan tetapi faktor kondisional lingkungan budaya ternyata lebih
mampu menghasilkan kultur rekonsiliasi antara unsur lokal dan tradisi besar
Jawa dalam konsep petangan Jawi yang
disebut Mandhasiya itu. Lebih-lebih siklus waktunya selalu jatuh pada
perhitungan setiap setengan tahun sekali, selalu diulang-ulang, selalu ada
prosesi sakral mandhasianan.
Pada siklus penghitungan tanam, petani
dihadapkan pada ketentuan hari penanaman bibit disertai menghitung neptu dan wuku. Wuku ringkel
menjad pantangan untuk menanam segala macam bibit di sana. Di samping itu,
upacara tanam juga selalu diiringi doa untuk tanaman hortikultura. “Mbok ibu bumi, aku ntitip wiji, tibaa ing
lemah rengka, bisaa dawa, bisaa subur, muga-muga turah kanggo sandhang pangan,
yen turah dienggo nyokong negoro, wiji sekethi bisa dadi wiji sakreneng dadi
sapendheleng.” Demikian antara lain bunyi mantranya, yang intinya memohon
anugerah dan kesuburan tanaman.
Lalu, pada waktu petik buah, mantra yang
dikumandangkan: “Mbok Sri Grendhel lan
mbok Sri Menthel kowe tak boyong menyang gedhong patileman. Aku njaluk
berkat-mekakat, mandhel digarap sak sikep rabi. Kyai Sampar lan Kyai Sandhung
Dalan, ojo gawe reridhu olehku mboyong mbok Sri Mentel lan mBok Sri Grendhel.”
Masih ada lagi doa yang terakhir bila sampai di rumah: “Mbok Sri Grendhel lan mBok Sri Menthel, kowe wis tak boyong ing
gedhong patileman. Opo sing tak sajekke kuwi tak aturi nyicipi, kurang
dungkape, kula aturi muwuhi piyambak, sepiro kaluputanku, aku njaluk pangapuro”.
Selain mandhasia, sebagai alat
kelengkapan untuk kebutuhan tani di Desa Blumbang dan Pancot juga diadkan upacara
dawuhan. Upacara ini berikhtiar untuk
membersihkan sumber mata air dan seluruh jaringan irigasi yang mengairi
kebutuhan para petani di sana. Upacara dawuhan dilaksanakan pada siklus enam
lapan sekali (setiap 210 hari ) untuk memperbaiki saluran-saluran irigasi dan
fungsi air minum di desa.
Kesimpulan
Banyak varian inisiasi desa yang bisa
ditemukan di Nusantara, tapi mungkin sangat sedikit yang bisa dijumpai berbagai
bentuk kreatif lokal, seperti Mandhasia
ini. Potret bersih desa di dua desa Blumbang dan Pancot yang menempatkan
penokohan Prabu Boko itu, bisa saja merupakan penggambaran dari tradisi kecilnya folklore Ratu Boko-nya Prambanan yang lebih
dahulu diklaim menjadi tradisi besar jaman Mataram kuno. Namun pengertian local wisdomnya Tawangmangu jangan
dilupakan bahwa masyarakat mereka juga mempunyai hak untuk mengklam milik
mereka. Justru pemahaman lokal seperti itu pencitraannya terletak pada
unsur-unsur kreativitas lokal yang mampu mengembangkan tafsir-tafsir lokal.
Seperti gigi geraham ditafsirkan menjadi bawang putih, bawang merah, dan
seterusnya.
Bahkan di sisi yang lain, ada pula yang sempat
menafsirkan dalam studi model pertanian Jawa yang berhasil melakukan
rekonsiliasi budaya dari dua dunia petani Jawa vs petani hortikultura Belanda.
Di saat mereka dijajah oleh Belanda, tampaknya dari sisi gaya hidup pertanian
dua bangsa ini malah terjalin inkulturasi budaya dalam hal pertukaran
bibit-bibit pertanian. Oleh karena itu, mudahlah kita membuat tafsiran-tafsiran
lokal, semacam tokoh prabu Boko ditafsirkan sebagai sosok Belanda yang semula
menyengsarakan tetapi kemudian bertobat, malah bisa memberi faedah untuk
lahirnya ethos petani bawang putih atau bawang merah di tanah Tawangmangu itu.