Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Selasa, 7 September 2010 | 06:35 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Sorot - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  
Edi Sedyawati:
Inisiasi Buah dari Adopsi Agama

Inisiasi itu simbol harapan sekaligus menjadi proses peningkatan kualitas diri manusia. Dengan menyadari pentingnya fase-fase dalam kehidupan ini, manusia kerap menghayati proses peralihan ini secara suka cita. Sungguhpun, setiap adat istiadat akan melihatnya dengan beragam makna dan cara. Bagaimana kilasan makna inisiasi dan hubungannya dengan agama, juga seni-budaya? Edi Sedyawati, Arkeolog dan Guru Besar Univesitas Indonesia memaparkan pandangannya kepada Erie Setiawan dari Gong. Berikut petikan wawancaranya:

Gong (G): Apa makna ritus inisiasi bagi kehidupan manusia?

Edi Sedyawati (ES): Yang jelas, ritus inisiasi adalah upacara yang terkait dengan peralihan, dan di setiap adat istiadat sangat berbeda cara pelaksanaannya. Karena itu, maknanya pun menjadi relatif. Di Indonesia saja kita tahu ada banyak sekali ritus inisiasi yang dilaksanakan. Belum lagi di belahan negara lain yang sudah tentu berbeda. Menyesuaikan kepercayaan masyarakat setempat. Itu jelas sangat kompleks. Tetapi pada intinya, inisiasi adalah simbol dari harapan manusia akan sesuatu.

 

(G): Bagaimana awal mulanya?

(ES): Inisiasi jelas adalah buah dari adopsi agama-agama peninggalan zaman dahulu kala yang turun-temurun mencari bentuknya hingga akhirnya menjadi kepercayaan bagi masyarakat Indonesia, seperti agama Hindu, Budha, Islam, dan sebagainya. Dan sampai kini, fenomena itu jelas masih berlanjut. Kita semua mengenal upacara khitanan, penganten, yang juga merupakan ritus inisiasi.

 

(G): Kalau begitu ada sinkretisme di situ?

(ES): Inisiasi tidak selalu dimaknai sinkretis, karena pelaksanaan ritus sejatinya sekadar memenuhi kegiatan sosial yang sudah didahului kepercayaan-kepercayaan masyarakat setempat terhadap tradisi leluhurnya.

 

(G): Bagaimana hubungan antara yang sakral dan profan dalam ritus inisiasi?

(ES): Selama orang menganggap itu ritus, sudah tentu itu sakral. Yang namanya sakral itu jelas harus memenuhi kaidah-kaidah tertentu sesuai kepercayaan, tidak bisa sembarangan. Tetapi kalau inisiasi hanya dianggap sebagai simbol dari harapan, itu tidak ada hubungan sama sekali dengan kesakralan. Misalnya menginjak telur dalam upacara penganten di Jawa sebagai simbol akan mendapatkan keturunan. Intinya, inisiasi di sini adalah perlambang dari harapan-harapan.

 

(G): Bagaimana fungsi kesenian dalam ritus inisiasi, misalnya ruwatan yang memakai wayang kulit?

(ES): Ini adalah tradisi masyarakat setempat yang mempercayai bahwa kesenian akan membantu meningkatkan keimanan seseorang. Banyak pesan positif yang bisa diambil dari situ. Kembali lagi, kita akan mempertanyakan, itu betul-betul diimani atau tidak. Kalau tidak, semuanya akan menjadi percuma. Kesenian yang tampil di situ juga hanya sekadar pelengkap yang tak memiliki makna apa pun.

 

(G): Bagaimana fungsi inisiasi bagi kesadaran manusia akan siklus hidup dan tanggung jawabnya?

(ES):  Itu terjadi dengan sendirinya, seperti khitanan, sebagai petanda akil balik. Orang akan menyadari bahwa si anak yang dikhitan akan menjadi dewasa, dengan perubahan pola pikir tertentu. Dalam upacara pengantin juga sama. Yang menikah juga akan menyadari bahwa fasenya telah berubah dengan segala konsekuensi yang akan dihadapinya.

 

(G): Adakah parameter (waktu) tertentu untuk mengukur sejauh mana ritus ini efektif?

(ES): Saya tidak pernah sekalipun mendengar itu, bahwa ketika sudah melaksanakan ritus inisiasi, dalam kurun waktu tertentu akan mendapatkan hasil yang diharapkan. Inisiasi lebih sebagai proses yang berkelindan dalam hidup manusia. Yang namanya kepercayaan akan sulit untuk dicari parameter keberhasilannya.

 

(G): Bagaimana fenomena ritus inisiasi di jaman sekarang?

(ES): Seperti tadi sudah saya katakan, inisiasi masih terus dilaksanakan, jelas dengan pasang surutnya.

  Artikel lainnya
Nonton Masyarakat Penonton
Penonton bukanlah semata suara-suara yang kadang lancang mengolok atau membisu tanpa geming. Ia adalah elemen penting sekaligus penyangga denyut pertunjukan. Di dalam aktivitas menonton dan ditonton, sebutlah pada seni pertunjukan, terkelindan berbagai dialektika, baik sesama penonton, penonton dengan performance, penonton dengan performer, bahkan dengan penyelenggara ataupun aspek-aspek lain di seputar pertunjukan. Sang penonton sah-sah saja untuk memicing atau membelalakkan mata, puas atau kecewa, abai atau apresiatif. Tapi tak perlu ekstrim, sebab ia tidak serta merta bebas berpolah-tingkah. Bagaimana berbagai dialektika itu berlangsung dan saling kelindan?
Gaya Hidup Menonton
Menjadi penonton bisa menjadi bagian dari gaya hidup. Orang berkesempatan memilih, mengapresiasi, sampai menemukan manfaatnya—sepanjang ia suka.
Interelasi Masyarakat Seniman dan Penonton
Seniman maupun penonton tidak hadir dalam ruang isolasi, tapi dalam atmosfir penuh penafsiran. Bagaimana keduanya mendapatkan makna pertunjukan?
Kehadiran Penonton:
Intervensi Merugikan atau Menguntungkan?
Sudah jamak, kehadiran penonton adalah nutrisi bagi berlangsungnya pertunjukan. Tapi ingat, ia bisa menghancurkan sekaligus memperkuat solidaritas penonton dan seniman.
Halim HD
Magnitude Tontonon yang Bergizi
Penonton menyandang peran yang tak bisa dianggap enteng dalam keutuhan dan keberlangsungan pertunjukan. “Jika performer ingin dihormati dan dihargai oleh penonton, maka mestilah memberi sesuatu yang berkualitas,” kata Halim HD. Sosok yang cukup intens mengamati dinamika seni ini seolah mewakili suara masyarakat penonton. “Mereka bisa membangkitkan gairah pelaku pertunjukan,” katanya tentang ihwal pentingnya penonton. Ia pun kemudian fasih membabar dunia penonton. Dan ia mulai menyambangi berbagai acara seni di berbagai wilayah. Keluar masuk kampung di Jawa maupun lintas provinsi. Pejalan kelahiran Serang, Banten, ini pun telah melintasi banyak negara hanya untuk memelototi pertunjukan. Bagaimana signifikannya peran penonton tersebut? Berikut kutipan wawancara Halim HD yang dilayangkan Ayya Zakia (Gong) via e-mail pada Februari 2010.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com