Gong (G):
Apa makna ritus inisiasi bagi kehidupan manusia?
Edi
Sedyawati (ES): Yang jelas, ritus inisiasi adalah upacara yang terkait
dengan peralihan, dan di setiap adat istiadat sangat berbeda cara
pelaksanaannya. Karena itu, maknanya pun menjadi relatif. Di Indonesia saja
kita tahu ada banyak sekali ritus inisiasi yang dilaksanakan. Belum lagi di belahan
negara lain yang sudah tentu berbeda. Menyesuaikan kepercayaan masyarakat
setempat. Itu jelas sangat kompleks. Tetapi pada intinya, inisiasi adalah
simbol dari harapan manusia akan sesuatu.
(G): Bagaimana
awal mulanya?
(ES):
Inisiasi jelas adalah buah dari adopsi agama-agama peninggalan zaman dahulu
kala yang turun-temurun mencari bentuknya hingga akhirnya menjadi kepercayaan
bagi masyarakat Indonesia, seperti agama Hindu, Budha, Islam, dan sebagainya.
Dan sampai kini, fenomena itu jelas masih berlanjut. Kita semua mengenal
upacara khitanan, penganten, yang juga merupakan ritus inisiasi.
(G): Kalau
begitu ada sinkretisme di situ?
(ES):
Inisiasi tidak selalu dimaknai sinkretis, karena pelaksanaan ritus sejatinya
sekadar memenuhi kegiatan sosial yang sudah didahului kepercayaan-kepercayaan
masyarakat setempat terhadap tradisi leluhurnya.
(G): Bagaimana
hubungan antara yang sakral dan profan dalam ritus inisiasi?
(ES):
Selama orang menganggap itu ritus, sudah tentu itu sakral. Yang namanya sakral
itu jelas harus memenuhi kaidah-kaidah tertentu sesuai kepercayaan, tidak bisa
sembarangan. Tetapi kalau inisiasi hanya dianggap sebagai simbol dari harapan,
itu tidak ada hubungan sama sekali dengan kesakralan. Misalnya menginjak telur
dalam upacara penganten di Jawa sebagai simbol akan mendapatkan
keturunan. Intinya, inisiasi di sini adalah perlambang dari harapan-harapan.
(G): Bagaimana
fungsi kesenian dalam ritus inisiasi, misalnya ruwatan yang memakai wayang
kulit?
(ES):
Ini adalah tradisi masyarakat setempat yang mempercayai bahwa kesenian akan
membantu meningkatkan keimanan seseorang. Banyak pesan positif yang bisa
diambil dari situ. Kembali lagi, kita akan mempertanyakan, itu betul-betul
diimani atau tidak. Kalau tidak, semuanya akan menjadi percuma. Kesenian yang
tampil di situ juga hanya sekadar pelengkap yang tak memiliki makna apa pun.
(G): Bagaimana
fungsi inisiasi bagi kesadaran manusia akan siklus hidup dan tanggung jawabnya?
(ES): Itu terjadi dengan sendirinya, seperti khitanan,
sebagai petanda akil balik. Orang akan menyadari bahwa si anak yang dikhitan
akan menjadi dewasa, dengan perubahan pola pikir tertentu. Dalam upacara
pengantin juga sama. Yang menikah juga akan menyadari bahwa fasenya telah
berubah dengan segala konsekuensi yang akan dihadapinya.
(G): Adakah
parameter (waktu) tertentu untuk mengukur sejauh mana ritus ini efektif?
(ES):
Saya tidak pernah sekalipun mendengar itu, bahwa ketika sudah melaksanakan
ritus inisiasi, dalam kurun waktu tertentu akan mendapatkan hasil yang
diharapkan. Inisiasi lebih sebagai proses yang berkelindan dalam hidup manusia.
Yang namanya kepercayaan akan sulit untuk dicari parameter keberhasilannya.
(G): Bagaimana
fenomena ritus inisiasi di jaman sekarang?
(ES):
Seperti tadi sudah saya katakan, inisiasi masih terus dilaksanakan, jelas
dengan pasang surutnya.