Sebenarnya istilah inisiasi dalam Hindu tak ada, dengan demikian pemahaman tentang inisiasi itu menjadi beragam disesuaikan dengan kepentingannya. Jadi kalau ditanya, yang mana suatu ritual tergolong inisiasi dalam Hindu, banyak ritual yang bisa digolongkan inisiasi, namun apakah itu sesuai dengan pengertian inisiasi dalam agama lain, tentu tergantung dari sudut mana melihatnya.
Ritual yang bisa digolongkan inisiasi atau mirip inisiasi dalam Hindu, bisa disebutkan seperti ini:
Pertama, inisiasi ketika mengikuti atau memasuki suatu aliran tertentu. Misalnya kita mengikuti aliran (dalam Hindu biasa disebut sampradaya) Hari Kresna, atau mengikuti kelompok ritual lain seperti Sai Baba, mengikuti berbagai jenis Meditasi dan sebagainya. Biasanya sebelum mengikuti ajaran tersebut, dilakukan inisiasi oleh guru atau sesepuhnya.
Kedua, inisiasi karena perkembangan umur/usia, ini terutama pada masyarakat Hindu yang ada di Bali. Ketika bayi berusia 42 hari, kemudian usia 105 hari, kemudian usia 210 hari. Lalu ketika akil baliq (meningkat dewasa, dan ini tidak ditentukan oleh umur tetapi siatusi sang anak), ketika upacara potong gigi (sebelum perkawinan). Nah ini oleh beberapa pengamat bisa juga digolongkan inisiasi.
Dan, ketiga, inisiasi karena menempuh jalur kerohanian (kepanditaan). Pertama ketika menjadi Pemangku (boleh memimpin upacara yang terbatas), lalu menjadi Bhawati (boleh disebut magang sebagai pandita), kemudian menjadi Pendeta Hindu. Semua tahap ini memakai upacara yang rumit dan tidak setiap orang bisa melakukannya karena perlu mempelajari banyak sekali masalah, terutama mantram-mantram dalam kitab suci Weda. Calonnya harus berguru kepada seorang guru/nabe berbulan-bulan.
Sebagai ilustrasi, saya mengikuti ketiga jenis inisiasi di atas. Saya pernah diinisiasi ketika mengikuti kegiatan meditasi dengan nama Meditasi Angka, lalu pernah diinisiasi di Kuil Durga Maa, Tangerang, karena saya ingin mengetahui bagaimana pemujaan kepada Dewi Durga. Untuk inisiasi pada point kedua di atas, tentu saja saya mengikuti semuanya karena sebagai orang Bali hal itu menjadi keharusan. Sedangkan inisiasi yang ketiga saya ikuti sampai tingkat kepanditaan dan saat ini saya berstatus pendeta Hindu dengan nama Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda . Jadi sebenarnya nama Putu Setia itu sama sekali tak boleh dipakai. (Baca blog saya: www.jayaprema.blogspot.com)
***
Dalam Hindu—kalau saya menggolongkan inisiasi ke dalam tiga jenis di atas—inisiasi pertama dan kedua bukan untuk “lahir kembali”. Kalau menjadi suci, tentu saja diharapkan menjadi suci dalam pengertian suci dari fase sebelumnya. Sedangkan untuk katagori ketiga, dalam jenjang kerohanian, memang ada upacara yang disebutkan “lahir kembali” atau kelahiran kedua, dan karena itu disebut dwijati. Ini ketika seseorang akan menjadi Bhawati dan menjadi pendeta. Orang itu harus “dibunuh” lebih dulu, kemudian mereka disebut sudah “mati” (amati raga, istilahnya), setelah beberapa jam (tergantung guru/nabenya) baru “dilahirkan kembali”. Nah, karena lahir kembali, namanya juga berganti, kebiasannya berganti, pakaiannya berganti dan semuanya berganti.
Nah, apakah ada jaminan orang itu suci dan merasa lahir kembali, tentu tergantung orangnya dan setiap orang tentu bisa berpendapat. Tetapi kalau saya ditanya; “Saya yakin merasa lahir kembali dan merasa suci, karena kalau tidak bagaimana saya harus memimpin upacara yang mengharuskan kesucian itu?” Banyak sekali pantangannya dan kalau dipikir-pikir, inisiasi seperti ini seperti memasuki sebuah penjara, tetapi karena tekad, ya, harus dinikmati. Saat ini saya tak boleh makan di restoran misalnya, tak boleh nyetir sendiri, tak boleh memakai kain atau baju selain yang ditentukan. Khusus untuk saya, hanya dapat dispensasi memakai nama Putu Setia untuk menulis di Koran Tempo Minggu (rubrik Cari Angin) karena kontrak masih berlangsung sampai pertengahan tahun ini. Jadi Anda kalau menyebut nama saya Putu Setia saya berhak untuk tidak menjawab, tapi saya tetap jawab karena saya beranggapan Anda belum tahu.
Inisiasi itu termasuk pilihan hidup. Kalau seseorang tak ingin menjadi pemangku atau pendeta, dan hanya mau menjadi petani, pedagang, pegawai negeri, ya tak perlu. Makna umum inisiasi adalah sebuah proses dalam perjalanan hidup ini dan untuk “membersihkan” diri agar menjadi suci atau setidaknya lebih suci dari sebelumnya. Karena itu, terkait point pertama di atas, proses sebelum memasuki aliran atau perguruan itu, tentu dibutuhkan kesucian tertentu. Kalau point yang kedua proses kehidupan biasa sebagai pemeluk Hindu terutama Hindu etnis Bali, setiap jenjang perlu ritual untuk menjadi lebih suci. Sedangkan terkait point ketiga adalah proses untuk menjadi pemangku atau pendeta, sebuah jabatan yang sangat suci.
Dalam konteks masyarakat kontemporer sekarang, eksistensi ritus inisiasi yang masih tumbuh di berbagai tempat adalah sesuatu yang wajar, karena inisiasi memang sesuatu yang penting dan bahkan menjadi keharusan untuk sebuah proses. Inisiasi dalam Hindu itu sesuatu yang sakral, jadi masalah sakral tak bisa dilihat dari masyarakat komtemporer atau tidak. Kalau orang yang masih taat dengan ajaran agamanya, ya, proses ini menjadi sesuatu yang harus dijalani.