Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Selasa, 7 September 2010 | 06:42 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Sorot - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  
Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
Inisiasi Itu Keharusan Sebuah Proses

Ritus inisiasi masih eksis dalam masyarakat kontemporer sekarang. Ini merupakan sesuatu yang wajar, kata Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda, pandita Hindu yang sebelum melakukan proses penyucian adalah seorang wartawan sohor bernama Putu Setia itu. Sebab, lanjutnya, inisiasi memang sesuatu yang penting dan bahkan menjadi keharusan untuk sebuah proses. Lebih jauh, pandita yang merasa terlahir kembali sejak pentahbisan itu, bertutur:

Sebenarnya istilah inisiasi dalam Hindu tak ada, dengan demikian pemahaman tentang inisiasi itu menjadi beragam disesuaikan dengan kepentingannya. Jadi kalau ditanya, yang mana suatu ritual tergolong inisiasi dalam Hindu, banyak ritual yang bisa digolongkan inisiasi, namun apakah itu sesuai dengan pengertian inisiasi dalam agama lain, tentu tergantung dari sudut mana melihatnya.

Ritual yang bisa digolongkan inisiasi atau mirip inisiasi dalam Hindu, bisa disebutkan seperti ini:

Pertama, inisiasi ketika mengikuti atau memasuki suatu aliran tertentu. Misalnya kita mengikuti aliran (dalam Hindu biasa disebut sampradaya) Hari Kresna, atau mengikuti kelompok ritual lain seperti Sai Baba, mengikuti berbagai jenis Meditasi dan sebagainya. Biasanya sebelum mengikuti ajaran tersebut, dilakukan inisiasi oleh guru atau sesepuhnya.

Kedua, inisiasi karena perkembangan umur/usia, ini terutama pada masyarakat Hindu yang ada di Bali. Ketika bayi berusia 42 hari, kemudian usia 105 hari, kemudian usia 210 hari. Lalu ketika akil baliq (meningkat dewasa, dan ini tidak ditentukan oleh umur tetapi siatusi sang anak), ketika upacara potong gigi (sebelum perkawinan). Nah ini oleh beberapa pengamat bisa juga digolongkan inisiasi.

Dan, ketiga, inisiasi karena menempuh jalur kerohanian (kepanditaan). Pertama ketika menjadi Pemangku (boleh memimpin upacara yang terbatas), lalu menjadi Bhawati (boleh disebut magang sebagai pandita), kemudian menjadi Pendeta Hindu. Semua tahap ini memakai upacara yang rumit dan tidak setiap orang bisa melakukannya karena perlu mempelajari banyak sekali masalah, terutama mantram-mantram dalam kitab suci Weda. Calonnya harus berguru kepada seorang guru/nabe berbulan-bulan.

Sebagai ilustrasi, saya mengikuti ketiga jenis inisiasi di atas. Saya pernah diinisiasi ketika mengikuti kegiatan meditasi dengan nama Meditasi Angka, lalu pernah diinisiasi di Kuil Durga Maa, Tangerang, karena saya ingin mengetahui bagaimana pemujaan kepada Dewi Durga. Untuk inisiasi pada point kedua di atas, tentu saja saya mengikuti semuanya karena sebagai orang Bali hal itu menjadi keharusan. Sedangkan inisiasi yang ketiga saya ikuti sampai tingkat kepanditaan dan saat ini saya berstatus pendeta Hindu dengan nama Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda . Jadi sebenarnya nama Putu Setia itu sama sekali tak boleh dipakai. (Baca blog saya: www.jayaprema.blogspot.com)

 

***

 

Dalam Hindu—kalau saya menggolongkan inisiasi ke dalam tiga jenis di atas—inisiasi pertama dan kedua bukan untuk “lahir kembali”. Kalau menjadi suci, tentu saja diharapkan menjadi suci dalam pengertian suci dari fase sebelumnya. Sedangkan untuk katagori ketiga, dalam jenjang kerohanian, memang ada upacara yang disebutkan “lahir kembali” atau kelahiran kedua, dan karena itu disebut dwijati. Ini ketika seseorang akan menjadi Bhawati dan menjadi pendeta. Orang itu harus “dibunuh” lebih dulu, kemudian mereka disebut sudah “mati” (amati raga, istilahnya), setelah beberapa jam (tergantung guru/nabenya) baru “dilahirkan kembali”. Nah, karena lahir kembali, namanya juga berganti, kebiasannya berganti, pakaiannya berganti dan semuanya berganti.

Nah, apakah ada jaminan orang itu suci dan merasa lahir kembali, tentu tergantung orangnya dan setiap orang tentu bisa berpendapat. Tetapi kalau saya ditanya; “Saya yakin merasa lahir kembali dan merasa suci, karena kalau tidak bagaimana saya harus memimpin upacara yang mengharuskan kesucian itu?” Banyak sekali pantangannya dan kalau dipikir-pikir, inisiasi seperti ini seperti memasuki sebuah penjara, tetapi karena tekad, ya, harus dinikmati. Saat ini saya tak boleh makan di restoran misalnya, tak boleh nyetir sendiri, tak boleh memakai kain atau baju selain yang ditentukan. Khusus untuk saya, hanya dapat dispensasi memakai nama Putu Setia untuk menulis di Koran Tempo Minggu (rubrik Cari Angin) karena kontrak masih berlangsung sampai pertengahan tahun ini. Jadi Anda kalau menyebut nama saya Putu Setia saya berhak untuk tidak menjawab, tapi saya tetap jawab karena saya beranggapan Anda belum tahu.

Inisiasi itu termasuk pilihan hidup. Kalau seseorang tak ingin menjadi pemangku atau pendeta, dan hanya mau menjadi petani, pedagang, pegawai negeri, ya tak perlu. Makna umum inisiasi adalah sebuah proses dalam perjalanan hidup ini dan untuk “membersihkan” diri agar menjadi suci atau setidaknya lebih suci dari sebelumnya. Karena itu, terkait point pertama di atas, proses sebelum memasuki aliran atau perguruan itu, tentu dibutuhkan kesucian tertentu. Kalau point yang kedua proses kehidupan biasa sebagai pemeluk Hindu terutama Hindu etnis Bali, setiap jenjang perlu ritual untuk menjadi lebih suci. Sedangkan terkait point ketiga adalah proses untuk menjadi pemangku atau pendeta, sebuah jabatan yang sangat suci.

Dalam konteks masyarakat kontemporer sekarang, eksistensi ritus inisiasi yang masih tumbuh di berbagai tempat adalah sesuatu yang wajar, karena inisiasi memang sesuatu yang penting dan bahkan menjadi keharusan untuk sebuah proses. Inisiasi dalam Hindu itu sesuatu yang sakral, jadi masalah sakral tak bisa dilihat dari masyarakat komtemporer atau tidak. Kalau orang yang masih taat dengan ajaran agamanya, ya, proses ini menjadi sesuatu yang harus dijalani.

  Artikel lainnya
Nonton Masyarakat Penonton
Penonton bukanlah semata suara-suara yang kadang lancang mengolok atau membisu tanpa geming. Ia adalah elemen penting sekaligus penyangga denyut pertunjukan. Di dalam aktivitas menonton dan ditonton, sebutlah pada seni pertunjukan, terkelindan berbagai dialektika, baik sesama penonton, penonton dengan performance, penonton dengan performer, bahkan dengan penyelenggara ataupun aspek-aspek lain di seputar pertunjukan. Sang penonton sah-sah saja untuk memicing atau membelalakkan mata, puas atau kecewa, abai atau apresiatif. Tapi tak perlu ekstrim, sebab ia tidak serta merta bebas berpolah-tingkah. Bagaimana berbagai dialektika itu berlangsung dan saling kelindan?
Gaya Hidup Menonton
Menjadi penonton bisa menjadi bagian dari gaya hidup. Orang berkesempatan memilih, mengapresiasi, sampai menemukan manfaatnya—sepanjang ia suka.
Interelasi Masyarakat Seniman dan Penonton
Seniman maupun penonton tidak hadir dalam ruang isolasi, tapi dalam atmosfir penuh penafsiran. Bagaimana keduanya mendapatkan makna pertunjukan?
Kehadiran Penonton:
Intervensi Merugikan atau Menguntungkan?
Sudah jamak, kehadiran penonton adalah nutrisi bagi berlangsungnya pertunjukan. Tapi ingat, ia bisa menghancurkan sekaligus memperkuat solidaritas penonton dan seniman.
Halim HD
Magnitude Tontonon yang Bergizi
Penonton menyandang peran yang tak bisa dianggap enteng dalam keutuhan dan keberlangsungan pertunjukan. “Jika performer ingin dihormati dan dihargai oleh penonton, maka mestilah memberi sesuatu yang berkualitas,” kata Halim HD. Sosok yang cukup intens mengamati dinamika seni ini seolah mewakili suara masyarakat penonton. “Mereka bisa membangkitkan gairah pelaku pertunjukan,” katanya tentang ihwal pentingnya penonton. Ia pun kemudian fasih membabar dunia penonton. Dan ia mulai menyambangi berbagai acara seni di berbagai wilayah. Keluar masuk kampung di Jawa maupun lintas provinsi. Pejalan kelahiran Serang, Banten, ini pun telah melintasi banyak negara hanya untuk memelototi pertunjukan. Bagaimana signifikannya peran penonton tersebut? Berikut kutipan wawancara Halim HD yang dilayangkan Ayya Zakia (Gong) via e-mail pada Februari 2010.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com