Di beberapa ruas jalan utama di sejumlah kota di
Jawa Tengah, barangkali juga di kota-kota lain, pada setiap akhir pekan, sering
dijumpai beberapa kelompok pengendara motor merk tertentu memarkirkan sepeda
motornya berderet di tepi jalan. Itulah komunitas-komunitas pengguna atau
penggemar motor sejenis. Ada yang namanya motor pitung (pitungpuluhan—untuk
menyebut motor bebek Honda produksi tahun tujuhpuluhan), ada jenis Vespa atau Scooter,
ada juga yang lebih eksklusif moge (motor gedhe), dan aneka macam ragam
lainnya. Bahkan juga kelompok sepeda onthel.
Bagaimana sifat keanggotaannya? Komunitas-komunitas
tersebut merupakan kelompok cair. Diikat oleh kesamaan kegemaran tertentu.
Karena sifatnya yang cair dan tidak ketat, seseorang bisa keluar masuk secara
mudah. Lain halnya dengan kelompok yang lebih eksklusif, barangkali ada syarat
tertentu. Bahkan mungkin harus menjalani ritus inisiasi, suatu upacara khusus
untuk penerimaan resmi menjadi anggota.
Keragaman Ekspresi Upacara Inisiasi
Dalam kelompok eksklusif tertentu, ritus inisiasi
menjadi penting untuk dijalani sehingga seseorang diakui, diangkat menjadi
anggota resmi. Untuk kelompok hobby, ini menjadi kentara pada kelompok
pencinta alam, atau kelompok beladiri. Bahkan juga saat siswa baru menjalani Masa Orientasi Siswa/Mahasiswa. Mereka
mengalami ritual yang kurang lebih sama. Ritus inisiasi. Seseorang akan
resmi menjadi anggota setelah menjalani pentahapan tertentu pada masa orientasi
dalam kurun waktu tertentu, kemudian diakhiri dengan upacara khusus. Entah melalui
peragaan pendakian gunung, berjalan jauh menempuh rute tertentu, atau syarat yang lain. Di sana orang
tersebut akan dilantik secara resmi. Membaca hak dan kewajiban menjadi anggota.
Membaca syarat, kode etik tertentu untuk tetap menjadi anggota atau bisa
dikeluarkan dari keanggotaan. Ada aturan main yang mesti dipatuhi. Ada garis
pemisahan antara in group dan out group. Tata caranya
dilaksanakan dalam suasana yang khidmat, dan kusyuk. Ada peristiwa khusus yang
berlangsung di sana.
Ritus inisiasi dalam contoh di atas lebih terkait
dengan ikatan pada gerakan atau kelompok sosial dunia kontemporer. Dalam wilayah
praktik yang lain, ritus itu dapat ditemui di dalam kelompok khusus suatu kelompok
gerakan agama. Kita ingat, kasus satu kelompok gerakan agama yang dilarang
beberapa tahun yang lalu. Dalam sidang di pengadilan, terungkap bagaimana para
pengikut kelompok tersebut di-baiat menjadi anggota. Ada upacara tertentu yang
dilakukan untuk melantik seseorang menjadi anggota. Dengan demikian praktik
inisiasi ini akan kita jumpai baik pada lingkup agama mau pun dalam kelompok
sosial.
Dalam masyarakat tradisi dan komunitas agama-agama
di berbagai tempat senantiasa memiliki ritus, dengan tahap-tahapnya sampai
seseorang dilantik menjadi anggota dan diakui memiliki status keanggotaan
penuh. Anak disunat, atau upacara potong gigi, seseorang dipermandikan atau
dibaptis, seseorang dibaiat merupakan praktik di mana orang tengah menjalani
ritus inisiasi tersebut. Dari status keanggotaan lama berubah ke status baru.
Melampaui proses dan tahap tertentu. Ada prosesi tertentu yang mengajak pihak
yang bersangkutan terarah pada hal yang sakral yang ada di sebalik pengalaman
tersebut. Ada suatu tahap penyucian, pemisahan dari khalayak atau pun dunia
ramai yang biasa dilibati. Ada mitos atau kisah kudus yang menjadi dasar
orientasi sekaligus acuan bagi berlangsungnya upacara tersebut. Ada pemimpin
upacara yang memegang kewenangan bagi sah dan tidaknya upacara—dengan
formulasinya yang khusus dan tata cara pelaksanaannya. Ada suasana yang
diciptakan lewat nyanyian atau bunyi tabuhan dan musik pengiring. Ada alat dan
barang baik berupa air, api, kain putih, dupa dan bunga wewangian yang menjadi
simbol dan sarana penyucian dan kebersatuan dengan yang sakral. Itulah hal-hal
yang dapat ditemukan dalam upacara inisiasi yang dilangsungkan.
Inisiasi yang dilangsungkan tersebut dapat
dipilah-pilah dalam tingkatan yang berjenjang, atau dalam fungsi yang
berbeda-beda. Mungkin seseorang masuk pada keanggotaan umum atau pada tingkatan
yang lebih tinggi. Dalam hal ini dapat ditempatkan adanya keragaman lingkaran
keanggotaan. Atau, bisa saja seseorang masuk dalam peran khusus. Ini berlaku misalnya
bagi seseorang yang diangkat menjadi dukun penyembuh, atau seseorang
ditahbiskan menjadi pemimpin jemaat misalnya. Inilah hal-hal yang bisa ditemukan
pada praktik tradisi beragam kelompok masyarakat, baik masyarakat tradisi atau
kelompok keagamaan.
Ada Tafsir Berkelanjutan
Tatkala jaman berubah, atau situasi menjadi beragam,
tafsir atas praktik tertentu tidak lagi tunggal. Orang tidak lagi secara
sederhana atau mudah begitu saja menghayati praktik tradisinya. Apakah tahapan-tahapan
yang dilalui dalam proses insiasi tersebut juga mengalami perubahan tafsir? Perubahan-perubahan
biasanya diberlakukan tanpa mengubah esensinya. Bisa menjadi lebih sederhana.
Atau bisa juga menjadi lebih ketat pengaturannya. Ketat tidaknya tergantung
pada masing-masing institusi lembaga itu menempatkan hal yang esensial atau
yang kurang esensial.
Pernah, beberapa misionaris pada tahun empatpuluhan
membahas praktik khitanan pada anak-anak yang telah menerima baptis menjadi
kristen. Padahal, dalam masyarakat luas, praktik khitanan dipahami sebagai ngeslamake
(mengislamkan). Tapi para misionaris berpandangan bahwa khitanan juga dapat
dipahami demi alasan kesehatan, sehingga anak-anak kristen juga boleh
dikhitankan dengan alasan demi kesehatan.
Bagaimanapun juga praktik tersebut merupakan tanda
inisiasi, ketika dilakukan demi alasan kesehatan. Dan, penemuan modern
memperkenalkan berbagai cara khitan, bahkan ada yang menggunakan metode pengunaan
ring atau pemotongon dengan alat laser. Hal demikian bisa menjadi pemikiran
sendiri. Bahkan khitan juga dapat dilakukan bukan saja pada anak yang tengah
menanjak remaja, ia dapat dilakukan ketika masih berumur bayi sekalipun. Perkembangan
semacam ini mengajak mengkaji ulang atas praktik yang telah berlangsung
sebelumnya. Kendati pun toh di wilayah-wilayah yang tak terjangkau dari
pengaruh perubahan masih tetap setia menjalankan praktik seperti pada mulanya.
Dalam kaitan dengan berbagai kemungkinan tersebut,
perlu dipahami adanya berbagai situasi peta masyarakat dengan berbagai kelompok
yang ada di dalamnya. Ada kelompok yang secara ketat menempatkan ajaran beserta
peraturan-peraturan yang mengatur praktik hidup anggotanya, didukung dengan
sistem keorganisasian yang tertutup untuk menjaga keterikatan anggota pada lembaga,
seakan memisahkan diri dari masyarakat luas. Ada pula beragam kelompok yang
memiliki jaringan terbatas atau luas tetapi dengan ikatan organsisasi yang
longgar karena tidak bertumpu pada tradisi ajaran yang ketat. Malah barangkali ikatannya
berada pada wilayah kesamaan hobby. Di antara kelompok-kelompok semacam
ini ada keragaman dalam memberlakukan interpretasi ajaran dan sistem organisasi
dan ikatan keanggotaannya. Pada kelompok-kelompok yang beragam tersebut,
inisiasi warga untuk masuk di dalam keanggotaan juga memiliki keragamannya.
Mencermati pemahaman terhadap praktik inisiasi dan
tantangannya, serta adanya berbagai perubahan yang terjadi di dalam masyarakat,
perlu melihat kembali di mana inisiasi ditempatkan: bagaimana inisiasi
dikaitkan dengan hal esensial dari tradisi atau kepercayaan yang diyakini; penerimaan
masuk dalam keanggotaan kelompok atau komunitas; perubahan status kedewasaan
atau posisi tertentu di dalam kelompok atau komunitas di mana seseorang bergabung;
orientasi dasar yang menjadi keyakinan dari komunitas atau kelompok yang ada.
Unsur-unsur itu menjadi pokok-pokok yang
menentukan bagaimana inisiasi menjadi penting dan tetap dipraktikkan—dengan
beragam proses tahapan yang harus dialami dan ekspresinya yang beragam yang
harus dijalani oleh pihak yang bersangkutan mau pun kelompok atau komunitas di
mana orang itu bergabung. Di situ praktik inisiasi tak akan pernah hilang dari
peredaran. Baik dalam lingkungan sosial biasa maupun komunitas agama yang telah
turun temurun diwariskan. Lingkungan tersebut sekaligus merupakan
lingkaran-lingkaran yang tanggap terhadap perubahan. Keragaman
pengaruh-pengaruh ekonomi, politik, sosial, mau pun budaya tidak membiarkan
lingkaran-lingkaran tersebut dapat terbebas dan terlepas, tidak terpengaruh
oleh faktor apapun.