Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Selasa, 7 September 2010 | 07:06 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Sorot - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  02  03  04  
Yang Dulu dan Yang Kini Berlaku
Oleh: Romo Banar, Rohaniwan, tinggal di Yogyakarta.

Ritus inisiasi begitu penting bagi perjalanan hidup manusia. Dengan beragam ekspresi, serta beragam cara dan prosesi, ia senantiasa hadir dalam lingkaran hidup manusia.

Di beberapa ruas jalan utama di sejumlah kota di Jawa Tengah, barangkali juga di kota-kota lain, pada setiap akhir pekan, sering dijumpai beberapa kelompok pengendara motor merk tertentu memarkirkan sepeda motornya berderet di tepi jalan. Itulah komunitas-komunitas pengguna atau penggemar motor sejenis. Ada yang namanya motor pitung (pitungpuluhan—untuk menyebut motor bebek Honda produksi tahun tujuhpuluhan), ada jenis Vespa atau Scooter, ada juga yang lebih eksklusif moge (motor gedhe), dan aneka macam ragam lainnya. Bahkan juga kelompok sepeda onthel.

Bagaimana sifat keanggotaannya? Komunitas-komunitas tersebut merupakan kelompok cair. Diikat oleh kesamaan kegemaran tertentu. Karena sifatnya yang cair dan tidak ketat, seseorang bisa keluar masuk secara mudah. Lain halnya dengan kelompok yang lebih eksklusif, barangkali ada syarat tertentu. Bahkan mungkin harus menjalani ritus inisiasi, suatu upacara khusus untuk penerimaan resmi menjadi anggota.

 

Keragaman Ekspresi Upacara Inisiasi

Dalam kelompok eksklusif tertentu, ritus inisiasi menjadi penting untuk dijalani sehingga seseorang diakui, diangkat menjadi anggota resmi. Untuk kelompok hobby, ini menjadi kentara pada kelompok pencinta alam, atau kelompok beladiri. Bahkan juga saat siswa baru menjalani Masa Orientasi Siswa/Mahasiswa. Mereka  mengalami ritual yang kurang lebih sama. Ritus inisiasi. Seseorang akan resmi menjadi anggota setelah menjalani pentahapan tertentu pada masa orientasi dalam kurun waktu tertentu, kemudian diakhiri dengan upacara khusus. Entah melalui peragaan pendakian gunung, berjalan jauh menempuh rute tertentu, atau syarat yang lain. Di sana orang tersebut akan dilantik secara resmi. Membaca hak dan kewajiban menjadi anggota. Membaca syarat, kode etik tertentu untuk tetap menjadi anggota atau bisa dikeluarkan dari keanggotaan. Ada aturan main yang mesti dipatuhi. Ada garis pemisahan antara in group dan out group. Tata caranya dilaksanakan dalam suasana yang khidmat, dan kusyuk. Ada peristiwa khusus yang berlangsung di sana.

Ritus inisiasi dalam contoh di atas lebih terkait dengan ikatan pada gerakan atau kelompok sosial dunia kontemporer. Dalam wilayah praktik yang lain, ritus itu dapat ditemui di dalam kelompok khusus suatu kelompok gerakan agama. Kita ingat, kasus satu kelompok gerakan agama yang dilarang beberapa tahun yang lalu. Dalam sidang di pengadilan, terungkap bagaimana para pengikut kelompok tersebut di-baiat menjadi anggota. Ada upacara tertentu yang dilakukan untuk melantik seseorang menjadi anggota. Dengan demikian praktik inisiasi ini akan kita jumpai baik pada lingkup agama mau pun dalam kelompok sosial.

Dalam masyarakat tradisi dan komunitas agama-agama di berbagai tempat senantiasa memiliki ritus, dengan tahap-tahapnya sampai seseorang dilantik menjadi anggota dan diakui memiliki status keanggotaan penuh. Anak disunat, atau upacara potong gigi, seseorang dipermandikan atau dibaptis, seseorang dibaiat merupakan praktik di mana orang tengah menjalani ritus inisiasi tersebut. Dari status keanggotaan lama berubah ke status baru. Melampaui proses dan tahap tertentu. Ada prosesi tertentu yang mengajak pihak yang bersangkutan terarah pada hal yang sakral yang ada di sebalik pengalaman tersebut. Ada suatu tahap penyucian, pemisahan dari khalayak atau pun dunia ramai yang biasa dilibati. Ada mitos atau kisah kudus yang menjadi dasar orientasi sekaligus acuan bagi berlangsungnya upacara tersebut. Ada pemimpin upacara yang memegang kewenangan bagi sah dan tidaknya upacara—dengan formulasinya yang khusus dan tata cara pelaksanaannya. Ada suasana yang diciptakan lewat nyanyian atau bunyi tabuhan dan musik pengiring. Ada alat dan barang baik berupa air, api, kain putih, dupa dan bunga wewangian yang menjadi simbol dan sarana penyucian dan kebersatuan dengan yang sakral. Itulah hal-hal yang dapat ditemukan dalam upacara inisiasi yang dilangsungkan.

Inisiasi yang dilangsungkan tersebut dapat dipilah-pilah dalam tingkatan yang berjenjang, atau dalam fungsi yang berbeda-beda. Mungkin seseorang masuk pada keanggotaan umum atau pada tingkatan yang lebih tinggi. Dalam hal ini dapat ditempatkan adanya keragaman lingkaran keanggotaan. Atau, bisa saja seseorang masuk dalam peran khusus. Ini berlaku misalnya bagi seseorang yang diangkat menjadi dukun penyembuh, atau seseorang ditahbiskan menjadi pemimpin jemaat misalnya. Inilah hal-hal yang bisa ditemukan pada praktik tradisi beragam kelompok masyarakat, baik masyarakat tradisi atau kelompok keagamaan.

 

Ada Tafsir Berkelanjutan

Tatkala jaman berubah, atau situasi menjadi beragam, tafsir atas praktik tertentu tidak lagi tunggal. Orang tidak lagi secara sederhana atau mudah begitu saja menghayati praktik tradisinya. Apakah tahapan-tahapan yang dilalui dalam proses insiasi tersebut juga mengalami perubahan tafsir? Perubahan-perubahan biasanya diberlakukan tanpa mengubah esensinya. Bisa menjadi lebih sederhana. Atau bisa juga menjadi lebih ketat pengaturannya. Ketat tidaknya tergantung pada masing-masing institusi lembaga itu menempatkan hal yang esensial atau yang kurang esensial.

Pernah, beberapa misionaris pada tahun empatpuluhan membahas praktik khitanan pada anak-anak yang telah menerima baptis menjadi kristen. Padahal, dalam masyarakat luas, praktik khitanan dipahami sebagai ngeslamake (mengislamkan). Tapi para misionaris berpandangan bahwa khitanan juga dapat dipahami demi alasan kesehatan, sehingga anak-anak kristen juga boleh dikhitankan dengan alasan demi kesehatan.

Bagaimanapun juga praktik tersebut merupakan tanda inisiasi, ketika dilakukan demi alasan kesehatan. Dan, penemuan modern memperkenalkan berbagai cara khitan, bahkan ada yang menggunakan metode pengunaan ring atau pemotongon dengan alat laser. Hal demikian bisa menjadi pemikiran sendiri. Bahkan khitan juga dapat dilakukan bukan saja pada anak yang tengah menanjak remaja, ia dapat dilakukan ketika masih berumur bayi sekalipun. Perkembangan semacam ini mengajak mengkaji ulang atas praktik yang telah berlangsung sebelumnya. Kendati pun toh di wilayah-wilayah yang tak terjangkau dari pengaruh perubahan masih tetap setia menjalankan praktik seperti pada mulanya.

Dalam kaitan dengan berbagai kemungkinan tersebut, perlu dipahami adanya berbagai situasi peta masyarakat dengan berbagai kelompok yang ada di dalamnya. Ada kelompok yang secara ketat menempatkan ajaran beserta peraturan-peraturan yang mengatur praktik hidup anggotanya, didukung dengan sistem keorganisasian yang tertutup untuk menjaga keterikatan anggota pada lembaga, seakan memisahkan diri dari masyarakat luas. Ada pula beragam kelompok yang memiliki jaringan terbatas atau luas tetapi dengan ikatan organsisasi yang longgar karena tidak bertumpu pada tradisi ajaran yang ketat. Malah barangkali ikatannya berada pada wilayah kesamaan hobby. Di antara kelompok-kelompok semacam ini ada keragaman dalam memberlakukan interpretasi ajaran dan sistem organisasi dan ikatan keanggotaannya. Pada kelompok-kelompok yang beragam tersebut, inisiasi warga untuk masuk di dalam keanggotaan juga memiliki keragamannya.

Mencermati pemahaman terhadap praktik inisiasi dan tantangannya, serta adanya berbagai perubahan yang terjadi di dalam masyarakat, perlu melihat kembali di mana inisiasi ditempatkan: bagaimana inisiasi dikaitkan dengan hal esensial dari tradisi atau kepercayaan yang diyakini; penerimaan masuk dalam keanggotaan kelompok atau komunitas; perubahan status kedewasaan atau posisi tertentu di dalam kelompok atau komunitas di mana seseorang bergabung; orientasi dasar yang menjadi keyakinan dari komunitas atau kelompok yang ada.

Unsur-unsur itu menjadi pokok-pokok yang menentukan bagaimana inisiasi menjadi penting dan tetap dipraktikkan—dengan beragam proses tahapan yang harus dialami dan ekspresinya yang beragam yang harus dijalani oleh pihak yang bersangkutan mau pun kelompok atau komunitas di mana orang itu bergabung. Di situ praktik inisiasi tak akan pernah hilang dari peredaran. Baik dalam lingkungan sosial biasa maupun komunitas agama yang telah turun temurun diwariskan. Lingkungan tersebut sekaligus merupakan lingkaran-lingkaran yang tanggap terhadap perubahan. Keragaman pengaruh-pengaruh ekonomi, politik, sosial, mau pun budaya tidak membiarkan lingkaran-lingkaran tersebut dapat terbebas dan terlepas, tidak terpengaruh oleh faktor apapun.

  Artikel lainnya
Nonton Masyarakat Penonton
Penonton bukanlah semata suara-suara yang kadang lancang mengolok atau membisu tanpa geming. Ia adalah elemen penting sekaligus penyangga denyut pertunjukan. Di dalam aktivitas menonton dan ditonton, sebutlah pada seni pertunjukan, terkelindan berbagai dialektika, baik sesama penonton, penonton dengan performance, penonton dengan performer, bahkan dengan penyelenggara ataupun aspek-aspek lain di seputar pertunjukan. Sang penonton sah-sah saja untuk memicing atau membelalakkan mata, puas atau kecewa, abai atau apresiatif. Tapi tak perlu ekstrim, sebab ia tidak serta merta bebas berpolah-tingkah. Bagaimana berbagai dialektika itu berlangsung dan saling kelindan?
Gaya Hidup Menonton
Menjadi penonton bisa menjadi bagian dari gaya hidup. Orang berkesempatan memilih, mengapresiasi, sampai menemukan manfaatnya—sepanjang ia suka.
Interelasi Masyarakat Seniman dan Penonton
Seniman maupun penonton tidak hadir dalam ruang isolasi, tapi dalam atmosfir penuh penafsiran. Bagaimana keduanya mendapatkan makna pertunjukan?
Kehadiran Penonton:
Intervensi Merugikan atau Menguntungkan?
Sudah jamak, kehadiran penonton adalah nutrisi bagi berlangsungnya pertunjukan. Tapi ingat, ia bisa menghancurkan sekaligus memperkuat solidaritas penonton dan seniman.
Halim HD
Magnitude Tontonon yang Bergizi
Penonton menyandang peran yang tak bisa dianggap enteng dalam keutuhan dan keberlangsungan pertunjukan. “Jika performer ingin dihormati dan dihargai oleh penonton, maka mestilah memberi sesuatu yang berkualitas,” kata Halim HD. Sosok yang cukup intens mengamati dinamika seni ini seolah mewakili suara masyarakat penonton. “Mereka bisa membangkitkan gairah pelaku pertunjukan,” katanya tentang ihwal pentingnya penonton. Ia pun kemudian fasih membabar dunia penonton. Dan ia mulai menyambangi berbagai acara seni di berbagai wilayah. Keluar masuk kampung di Jawa maupun lintas provinsi. Pejalan kelahiran Serang, Banten, ini pun telah melintasi banyak negara hanya untuk memelototi pertunjukan. Bagaimana signifikannya peran penonton tersebut? Berikut kutipan wawancara Halim HD yang dilayangkan Ayya Zakia (Gong) via e-mail pada Februari 2010.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com