Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Sabtu, 11 September 2010 | 07:06 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Sosok - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  
Wawan Juanda
Pendidikan Untuk Penonton
Oleh: Erie Setiawan, Ayya Zakia.

Semua bermula dari hobi yang dibarengi ketekunan. Itulah yang membuat Wawan Juanda (51 tahun), terus bertahan di tengah kerumunan penonton yang membanjiri event besutannya. Perlunya pendidikan apresiasi bagi penonton menjadi sasarannya ketika berkecimpung di ranah industri pertunjukan ini. Seperti apa kiprah dan pandangannya?

“Dulu saya suka mengorganisasi event kampusan, yang berkelanjutan jadi pilihan profesi setelah lulus kuliah,” ujar Wawan mengkilas masa lalunya, semasa masih kuliah di FISIP-Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran, Bandung. Dan kelak di kemudian hari, pria kelahiran Bandung, 5 Desember 1958, ini punya lahan tetap yang terus dijadikan roda bisnisnya dalam mengelola pertunjukan. Bahkan berbagai genre pertunjukan, seperti musik pop, tradisional, sampai kontemporer ia pentaskan. Terhitung sejak tahun 1993 ia membidani berdirinya “Republic of Entertainment” (RE), yang telah menyelenggarakan berbagai pertunjukan maupun festival.

Tak tanggung-tanggung, selama perjalanan karirnya itu, entah ketika bersama RE maupun pengelola acara yang lain, ia pernah turut berperan mendatangkan artist sekaliber Kenny G, New Kids on The Block, Phill Ferry, Valentine, Tania Marla, hingga dedengkot jazz Chick Corea. Dan bersama RE, ia bahkan telah membubuhkan event-event reguler yang selama ini terselenggara di Bandung. “Saya bekerja untuk Bandung Music Art And Dance Festival, T.Look, Bragavaganza, Rocktober, Pestra”, paparnya. Selain itu, ada juga event yang berkonsentrasi pada lingkungan hidup. Ia pun menyebut sederet event tersebut, antara lain Forestra dan World of Bambu, Dago Walking Day, dan Space Festival.

 

Tipologi Penonton

Persentuhannya dengan dunia pengelolaan acara yang populer disebut event organizer itu dibarengi pembelajaran yang terus dibalut keringat. Bahkan dalam pencapaiannya, Wawan punya pandangan-pandangan khusus tentang penonton dan bagaimana komunitas itu berkembang. Ia pun melontarkan gagasan tentang interelasi ideal antara masyarakat seniman dan penonton.

“Idealnya terjadi hubungan balik yang saling mendidik antara seniman dan komunitasnya. Sangat tidak penting membangun fans dan idola yang berlebihan untuk komunitas dan audiens yang semata-mata untuk objek,” paparnya. Jadi harus bagaimana? “Perlu pemahaman norma dan etika yang baik dalam mensikapi setiap dinamika industri hiburan ini,” tegasnya.

Dalam wawancara via surat elektronik dengan Gong, ia menyampaikan pandangan yang cukup menarik seputar tipologi penonton. Ada penonton apresiatif yang betul-betul menikmati tontonan dan larut secara emosional dengan penampilnya. Ini disebutnya dengan istilah fans versus idola; ada juga penonton yang mengapresiasikan karya musik secara rasional tetapi tidak larut secara emosional dengan penampilnya, atau dalam bahasa Wawan adalah audiens versus performer; yang terakhir, penonton yang hadir tanpa pretense dan hadir menonton karena ajakan teman-teman atau melihat keramaian penonton yang hadir, disebutnya audiens versus atmosfer.

Wawan juga menyampaikan pandangannya seputar fenomena fans dan snobisme. Suatu kelompok penggemar fanatik, atau lazim disebut fans tersebut memang selalu memerlukan ruang ekspresi untuk hasratnya masing-masing, terutama di ruang pentas. Menurutnya, dalam perkembangannya, setiap fans ada yang memasuki lingkaran dalam idolanya dan mereka benar-benar menjadi sangat fanatik terhadap idolanya. “Mereka cenderung lebih bisa menikmati kehadiran idolanya pada saat di atas pentas,” katanya.

Tentang snobizme, biasanya hal tersebut muncul untuk pertunjukan musik elitis, di mana kehadiran para penonton lebih berorientasi kepada sosialisasi pada pencitraan yang tidak sepenuhnya menikmati pertunjukan. “Snobisme biasanya muncul di kota-kota besar di mana kehadiran penonton menjadi pertimbangan untuk menghadiri atau tidak menghadiri pertunjukan tersebut,” jelasnya.

Lalu, bagaimana dengan penonton yang suka bikin ulah atau kerusuhan selama pertunjukan; siapa yang salah dan apa komentarnya? “Kerusakan itu terjadi karena petugas keamanan tidak memahami bentuk apresasi penonton khususnya para fans dalam mengapresiasikan idolanya,” jelasnya.

Keributan-keributan yang terjadi selama pertunjukan memang relatif sulit dikendalikan. Tetapi, menurutnya, siapa yang tampil juga seharusnya ikut bertanggung jawab bagi kelancaran konser, tidak hanya aparat keamanan. “Penampil juga harus memiliki tanggung jawab sub-moral untuk berkomunikasi dengan baik terhadap fans, audiens, dan penonton secara umum. Penampil yang kharismatik akan mempengaruhi tingkah penontonnya”, ujarnya.

 

Penonton yang Terdidik

Setiap jenis pementasan maupun pertunjukan memang memiliki karakternya masing-masing. Penonton pertunjukan jazz jelas berbeda dengan rock; musik klasik juga berbeda dengan keroncong. Ini menandakan bahwa musik tertentu memang memicu adrenalin tertentu yang berbeda. Musik yang keras sangat potensial memicu kerusuhan. Tetapi, itu semua tergantung pemahaman setiap orang ketika terhubung dengan komunitas sosial dalam ruang hiburan tersebut. Wawan menjelaskan bahwa hal tersebut menyangkut etika.

Setiap jenis pertunjukan memiliki sub-kultur yang melekat dengan masing-masing jenisnya, misalnya setiap jenis musik memiliki sub-kultur dan ekspresi yang berbeda yang dilakukan melalui tepuk tangan, tarian ataupun teriakan. Ada jenis pertunjukan yang relatif bersifat tertib karena penonton adalah peminat serius dan pecinta musik. Kerusuhan sering terjadi pada sifatnya terbuka, misalnya tidak tersaring pada tiket atau undangan. Dalam komunitas penonton yang beragam: fans, audiens, dan penonton iseng, bisa memicu konflik tersebut.

Apakah perlu undang-undang bagi para penonton yang suka rusuh? Bagi Wawan, tontonan tak perlu diatur oleh undang-undang atau aturan yang baku, karena tontonan bersifat dinamis dan tumbuh sesuai perkembangan zamannya. “Itu semua tergantung hubungan harmonis antara penyelenggara, masyarakat, dan penampil. Jika sinkron, semua pasti aman”, katanya yakin.

Selama ini, penonton juga kerap dijadikan ajang komoditas. Ini dinilai Wawan tidak mendidik. Penonton cenderung menjadi komoditas bagi kepentingan brand tertentu yang mensponsori event-event pertunjukan musik yang dapat menarik penonton sebanyak mungkin dengan berbagai cara, termasuk menggratiskan pertunjukan yang bersangkutan. “Musik tak hanya bisnis atau hiburan, tetapi juga apresiasi,” tegasnya.

Sampai di sini, perbincangan seputar penonton pun sampai ke arah strategi menciptakan penonton yang apresiatif. Dalam pengertian, kerumunan penonton tidak lagi dinilai sebagai sumber kerusuhan, tetapi mampu menciptakan kedamaian sosial. Seyogyanya sebuah pertunjukan tidak semata-mata memberikan hiburan kepada penontonya tetapi harus dibangun juga dengan pendidikan. “Biar penonton terhibur dan menjadi cerdas dalam apresiasi,” jelasnya.

Bagaimana caranya? Selama ini Wawan masih terus mencarinya.



 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com