Puluhan orang duduk bersimpuh di tengah Pendapa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, mendengarkan dan memperhatikan sebuah lakon Murwakala yang disajikan sang dalang. Lakon yang hanya berhenti pada hitungan jam itu biasa digunakan untuk meruwat. Kali ini yang diruwat tak satu atau dua orang, tapi massal. Untuk itu, ia membutuhkan tiga dalang. Salah satunya: Ki Bambang Suwarno (59), seorang dalang keturunan trah Ki Cerma Harjo dari Desa Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Menurut yang dianut oleh sebagian besar dalang terkenal, trah masih sangat diagungkan. Trah diperhitungkan manakala seorang dalang akan bisa disebut sebagai dalang “sejati”. Nah, dalang sejati (dalang keturunan ketujuh) inilah yang memungkinkan seseorang akan bisa melaksanakan tugas sebagai “dalang ruwat”.
Menurut Bambang Suwarno, ruwatan adalah upaya pembersihan terhadap sesuatu yang bersifat sukerto, yaitu “kotoran”, aib, melanggar larangan, yang akibatnya dipercaya bisa menghambat atau menimbulkan sesuatu yang tidak baik dalam kehidupan ke depan. Nah, untuk melakukan upacara pembersihan itu, seorang dalang ruwat harus memiliki landasan (lambaran) batin yang kuat. Sebelum melakukan upacara itu, ia biasanya melakukan puasa beberapa hari sebelumnya. “Ajaran yang saya terima ini merupakan kearifan lokal yang telah lama ada di Jawa, yaitu nek arep ngresiki kudu nyiapke batin sing resik (apabila mau membersihkan sesuatu harus menyiapkan batin yang bersih). Demikian pula bagi dalang ruwat, karena tugas (ritual) itu sangat berat maka ia harus mempersiapkan diri lebih dulu dengan laku,” tegas pria yang tengah studi S-3 di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut.
Selain dalang sejati, menurut pendapat dalang ruwat asal Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Ki Joko Raharjo, dalang ruwat itu harus melalui proses mucuki (belajar mengawali adegan) terlebih dulu. Artinya, ia telah melakukan pergelaran wayang kulit dengan mengambil adegan awal dari pergelaran penuh (semalam suntuk) dari dalang seniornya (biasanya orang tuanya). Proses ini biasanya dilakukan pada masa kanak-kanak, dan ini menjadi bagian integral dari proses menjadi dalang sejati. “Walaupun sudah tua kalau belum pernah mucuki, ya, belum sah untuk menjadi dalang ruwat,” kata Joko Raharjo seperti ditirukan Bambang.
Penari, Pengrawit, Dalang
Bambang kecil harus memilih ketika sang ayah menanyakan cita-cita kelak mau jadi apa. Ada tiga pilihan yang disodorkan ayahnya dan semua masih dekat dengan kegiatan keseharian sebagai dalang, yaitu sebagai penari, penabuh, atau dalang. Pada waktu itu ia tidak segera menjawab. Baru keesokkan harinya, ia menuturkan alasan pilihannya. Sebenarnya ia tertarik pada tarian, tetapi sebagai laki-laki malu kalau menjadi penari. Akhirnya pilihan menjadi dalang diutarakan kepada ayahnya. Pilihan yang diambilnya pada waktu kelas 3 SD itu kelak membawanya menjadi seorang dalang sekaligus pengajar pedalangan di ISI Surakarta.
Ketika ayahnya mendengar cita-cita sang anak, lantas dipersiapkan sebuah lakon pendek dan mengajarinya beberapa minggu. Sang anak ternyata canthas, dengan cepat ia menyerap ilmu yang diajarkan ayahnya dan dengan mudah menghafalkan naskah yang disodorkannya. Usia 9 tahun, Bambang sudah melakukan pentas tunggal, memainkan lakon pendek selama 2 jam yang dibuatkan sang ayah. Dari ajaran, nasehat, dan bimbingan sang ayah yang masih membekas hingga kini adalah belajar tidak boleh meniru gaya orang lain. Ia harus mengembangkan sendiri. Kelas 5 Bambang diikutkan festival wayang remaja oleh ayahnya. Ki Martapangrawit, yang merupakan salah satu juri, memberikan komentar terhadap pertunjukannya bahwa gaya mendalangnya masih terlalu lembut.
Sejak itu, Bambang seakan tak terpisahkan dari sang ayah. Ia selalu mengikuti ayahnya mendalang ke daerah-daerah, termasuk di Jawa Timur, yang paling sering adalah Kediri dan Trenggalek. Sepak terjang Bambang terus berlanjut, hingga membawanya sampai Istana Negara pada tahun 1966 untuk menunjukkan kebolehannya di depan Presiden Soekarno. Pun, sewaktu masuk menjadi mahasiswa di Akademi Seni Karawitan Indonesia (sekarang Institut Seni Indonesia) Surakarta, selalu mendapat jatah mendalang oleh Gendhon Humardani untuk menyambut setiap tamu.
Sejak bergabung dengan almamaternya sebagai pengajar, ayah dari lima putra itu sempat larut dengan kegiatan kreatif. Ia turut bergabung dengan wayang Sandosa (wayang lebar menggunakan bahasa Indonesia), membuat lakon pakeliran padat, turut membidani wayang Budha, membuat wayang pawukon, wayang revolusi, wayang wahyu, mengkreasi berbagai bentuk gunungan, menatah dan menyungging wayang, dan lain-lain, yang menyita banyak waktunya untuk mendalang. Bahkan, ia sempat vakum untuk memainkan wayang semalaman penuh. Baru di tahun 1993 ia diminta secara khusus oleh panitia di wilayah Baki Sukoharjo, dalam rangka 17-an (17 Agustus) agar bersedia memainkan wayang semalam suntuk kembali. Dan, menjadi dalang ruwat baru setahun terakhir dijalaninya, termasuk ruwatan massal 10 Januari lalu.
Penahbisan sebagai dalang ruwat berbeda dengan Ki Manteb Soedarsono yang sering meruwat secara massal di TMII, Jakarta dan diberi gelar oleh sebuah lembaga sebagai dalang ruwat. Bambang menjadi dalang ruwat karena keberaniannya menjadi dalang ruwat. Selain itu direstui oleh tujuh dalang senior. Ketika Bambang meminta restu terhadap ketujuh dalang senior itu, mereka malah dengan senang hati datang ke Solo dan menyaksikan sendiri pertunjukan ruwatnya. Baginya menjadi dalang ruwat tidak hanya bertanggung jawab terhadap penanggap atau yang diruwat, tetapi juga kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Dulu sewaktu kakeknya meruwat, semua melakukan puasa termasuk pengrawitnya, tapi akhir-akhir ini tidak, hanya dalangnya sendiri yang nglakoni,” tutur suami Theresia Sri Haryani Purwaningsih itu menambahkan.
Mengalir
Dunia pewayangan ruwatan dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu ada yang menurut kepercayaan, pedalangan, dan ada pula agama. Siapapun dapat meruwat dengan cara masing-masing, ada yang dengan kepercayaan, cara pedalangan, maupun keagamaan. “Dulu saya pernah matur Rama Kuntara tentang bagaimana cara meruwat itu. Dan beliau menjawab tergantung trah seseorang. Trah saya tentu akan berbeda dengan cara meruwat trah dalang-dalang yang lain,” tutur Bambang. Pun demikian, akibat dari mereka yang terkena sukerta tetapi tidak melakukan ruwatan tergatung pada kepercayaan masing-masing. Bagi yang percaya, kecelakaan kecil, semisal sering jatuh dari tangga atau meledaknya termos (tempat air panas) adalah beberapa contoh dari akibat itu.
Wayang yang digunakan untuk meruwat pun ada beberapa dalang diantaranya menggunakan wayang-wayang jimat (memiliki tuah gaib) namun yang memainkan adalah dalang-dalang tertentu. Biasanya dipilih dalang yang secara jasmani maupun rohani sehat, memiliki lambaran batin kuat, dan ditunjuk oleh dalang sepuh (senior) atau dengan syarat-syarat tertentu. “Ada kejadian Ki Anom Suroto mendalang dalam rangka acara peringatan bulan Suro, memainkan wayang dari Keraton Surakarta, belum genap separo jalan suaranya habis. Ternyata Anom lupa memakai Gajah Oling (rangkaian bunga melati yang biasanya ditempatkan di telinga—seperti sumping) dan setelah memakai suaranya pulih kembali,” ceritanya.
Suatu kali Bambang menerima tanggapan namun si penanggap meminta lakon yang belum pernah didengarnya, yaitu Werkudara Mbendung Kali. Karena merasa belum pernah mendengar cerita lakon itu ia pun bertanya kepada si penanggap tetapi si penanggap pun tidak tahu. Akhirnya, karena sering membikin lakon pakeliran, ia pun tidak merasa kesulitan memainkan permintaan si penanggap itu. Dan ia percaya perkataan para leluhurnya: “apabila kita siap, semuanya akan tinggal ngeli (mengalir) saja, mau bicara apa seakan-akan wayangnya yang akan menuntun dalangnya,” kenangnya.
Namun, melihat kondisi pedalangan saat ini, kondisinya menjadi terbalik. Kuasa dalang terhadap wayang begitu mutlak. Dalang sedemikian rupa bergantung pada penanggap dan banyak dalang cenderung larut pada permintaan pasar yang mengikis kandungan moral dan religinya. Dunia pedalangan saat ini seakan sudah menggapai titik nadir dalam bentuk pertunjukannya. Berbagai kreasi dan eksperimen begitu meruah, bahkan berbagai elemen seni masuk di dalamnya. Pertunjukan wayang hingga berkesan glamour, gemerlap, dan sumpek dengan jejalan aneka pertunjukan. Pun, penonton semakin susah membedakan pertunjukan wayang dengan lawak, campursari, atau bahkan dangdutan.
Kegelisahan Bambang Suwarno akhirnya mendapatkan tempat untuk curhat. Balai Soedjatmoko, Solo, memberikan tempat baginya untuk berekspresi berupa pergelaran wayang kulit klasik. “Pergelarannya dengan menggunakan blencong (lampu yang menyinari kelir/layar) berbahan bakar minyak kelapa, klasik menika mboten nggangge bonang, klasik menika mboten mawi bagong (klasik itu tidak memakai instrumen bonang, dan tidak ada tokoh Bagong). Namun, menurut saya ya tidak begitu, semua bisa berkembang tidak harus saklek seperti itu,” katanya mengakhiri.