Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Sabtu, 11 September 2010 | 08:07 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Wawasan - Edisi: 119/XI/2010

Permainan dan Perang Semiotik Dalam Kebudayaan
Oleh: Ahmad Kekal Hamdani, Penyair, aktif di Komunitas Pendopo LKis Yogyakarta dan Masyarakat Bawah Pohon Yogyakarta.

“Dance is culture and culture is dance” begitu diyakini oleh seniman tari tradisional yang berasal dari Samoa Island, Joan Kealiinohomoku. Joan mungkin ada benarnya tentang apa yang dia yakini bahwa kultur atau budaya adalah sebuah tarian, jika hal ini dikaitkan bagaimana manusia memiliki interaksi mikro-makro sosial yang terus bergerak dan hidup sebagai sebuah penandaan dinamisasi dialektik. Interaksi simbolis yang terjadi sebagai budaya laten tentu memiliki peranan signifikan dalam hal ini, untuk dapat dikaitkan dan diperbincangkan lebih mendalam. Silahkan seduh secangkir kopi hangat sembari mengandaikan bahwa apa yang dihadapan kita adalah budaya evolusionis yang sedang mencari bentuknya dalam seleksi semiotis, sebuah kultur hidup untuk mencapai nilai-nilai konvensional.

Ada banyak aktus inferensi di dalam kebudayaan yang lantas dapat menjadi semiosis konvensional, sebuah penandaan akan fenomenana being dari kebudayaan itu sendiri. Di mana fenomena intensional maupun non intensional lantas dipahami sebagai afirmasi simbolik kebudayaan. Seperti tarian misalnya, ketika di dalamnya terdapat unsur-unsur gerakan improvisasi yang bagi sebagian antropolog justru dipahami sebagai sebuah hasrat dari kebudayaan itu sendiri, adalah sebuah gairah yang secara non intensional membumbung ke permukaan dan lahir sebagai kode soemiotis estetik. Pada hal yang demikian ini kebudayaan dihadapkan kepada sebuah pintu gerbang, labirin yang meliuk-liuk dan mengarahkan kepada banyak kemungkinan baru kebudayaan.

Tidak mudah memperbincangkan sebuah kebudayaan terkait pendefinisiannya yang kabur dan tidak konstan. Dua antropolog  yaitu Kroeber dan Kluckhon lebih dari 50 tahun yang lalu berupaya memetakan kebhinekaan pengertian budaya. Menurut mereka, setidaknya ada enam pengertian pokok tentang budaya. Pertama, definisi diskriptif: yang cenderung melihat kebudayaan sebagai sebuah totalitas komprehensif dari keseluruhan hidup sosial. Kedua, definisi historis: bahwa budaya adalah sesuatu yang diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Ketiga, definisi normatif: merupakan aturan atau jalan hidup yang membentuk pola-pola prilaku. Keempat, definisi psikologis: cenderung memberi tekanan pada peran budaya sebagai piranti komunikasional, belajar, dan memenuhi kebutuhan material maupun emosional. Kelima, definisi  struktural: menyoroti bahwa budaya adalah abstraksi yang berbeda dari sebuah perilaku stuktural konkret. Dan yang terakhir, definisi genetis: pengertian ini cenderung melihat budaya sebagai sebuah interaksi antar manusia yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi yang lainnya.

Lewat usaha yang dilakukan oleh kedua antropolog di atas kita dapat mengetahui bahwa sebuah budaya adalah sesuatu yang tidak terpegang, ia selalu dalam temporal proses dari titik-titik yang tidak selesai. Sebab sebuah kebudayaan adalah yang paling dekat dengan manusia sebagai makhluk evolusionis yang mencari titik pemberhentiannya (yang mungkin tidak pernah ada). Di mana epistem kemanusiaan itu selalu mengapung-apung mencari pijakan dalam kubangan realitas-realitas yang dicacah dan di belah-belah.  Dan kita akan selalu dihadapkan pada permainan-permainan kebudayaan dalam menyusun simbol-simbol pencitraan itu sendiri.

 

Budaya dan Manusia yang Bermain

Di dalam sebuah penelitiannya di pulau-pulau Buru dan Babar di Nusantara, Profesor de Josselin de Jong berhasil mengumpulkan bahan puisi sosia-agonal yang masih ia jumpai dalam fungsinya yang sesungguhnya sebagai permainan budaya. Penduduk Buru-Tengah atau Rana mengenal kebiasaan menyanyi bersambut dalam pesta-pesta, yang dinamakan Inga Fuka. Semua terbentuk dalam unsur-unsur bait-bait yang spontan saling menyambut bahkan terkadang berbentuk teka-teki yang saling dilontarkan pria dan wanita maupun anak-anak. Kita tentu juga dapat menemuinya seperti (di pulau Jawa) dalam tembang Ilir-ilir yang dinyanyikan oleh bocah-bocah saat bulan purnama, sembari menghabiskan malam dan menikmati permainan-permainan yang saat ini mungkin telah lenyap. Ini berarti banyak kebudayaan sebenarnya berakar dari kebermainan yang melekat pada keseharian kita. Kebudayaan bagaimanapun adalah sebuah bentuk interaksi simbolis yang menunjukkan sebuah unsur terdalam di dalamnya, sebuah permainan.

Johan Huizinga dalam bukunya Homo Ludens (Fungsi dan Hakikat Permainan dalam Budaya) berkeyakinan bahwa permainan itu sendiri lebih tua dari pada kebudayaan. Ia menyadari walau pelukisannya tidak memadai, namun ia mengandaikan adanya masyarakat dan binatang tidak menantikan manusia untuk mengajarinya bermain (Johan Huizinga: 1990). Keberadaan permainan dalam kebudayaan pun sebenarnya sangat kurang disadari oleh praktisi atau pelaku-pelaku kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan ironisnya dipahami sebagai sebuah fosil mati yang telah kehilangan ruhnya. Sebuah artefak yang mesti di jaga dari serangan kelapukan waktu dan runtuhnya mimpi-mimpi masa silam. Sebuah mayat yang di balsem sebagai peninggalan sejarah yang diawetkan.

Mengapa kebermainan ini perlu dipertimbangkan kembali dalam kebudayaan? Dari manakah permainan ini dimulai dan diberangkatkan? Pentingkah pertanyaan semacam ini bagi kebudayaan? Kebermainan yang saya maksudkan di sini adalah kebermainan dalam bagaimana merekonstruksi sebuah kebudayaan bukan dalam arti bermain—secara politis—mempersaingkan kebudayaan itu sendiri (tentu ini akan menjadi percakapan lain nantinya) melainkan kembali menghidupkan ruh gairah keberlangsungan di dalam kebudayaan sendiri.

Ada kecenderungan yang teramat naif di dalam kebudayaan kita—ketika banyak orang berargumentasi dan bersikap atas kebudayaan dengan pragmatisme akut yang buta terhadap perkembangan atau yang hadir sebagai The Other dari masa depan. Karena terlampau ingin memelihara malah terjatuh pada pemfosilan ritus-ritus kebudayaan. Karena terlampau sayang hingga lupa membuka segala kemungkinan yang terjadi kepada konsekuensi permainan kebudayaan yang mau tidak mau akan terus berlangsung sebagai sebuah dinamika.    Kebudayaan bukanlah hal yang kemudian dapat kita terima begitu saja sebagai sebuah warisan, akan tetapi sebuah denyar-denyar dari masa lampau yang mesti terus diestafetkan untuk budidayanya menuju kebudayaan yang terus bermain dan hidup, sebagai budaya yang berlari dan tidak mematung di museum-museum.

 

Perang Pencitraan: Rupa yang Terluka

Membaca diskursus kebudayaan adalah membaca dinamika simbolik yang terus bergerak dan hidup. Budaya sebagai peristiwa simbolik maupun  intensitas nilai suatu masyarakat akan selalu bergerak dalam menemukan defenisinya yang kabur dan ambigu. Budaya dalam kedudukannya selalu dihadapkan dalam posisi di antara (between), masa lalu dan mimpi masa depan. Sebagai laku kekinian, tentu saja budaya sebuah konstruk yang mati lantas membenda semacam patung seniman yang siap dihancurkan. Apa arti The Other yang mungkin menanti di masa depan kebudayaan inilah kemudian banyak dipahami sebagai bentuk yang mesti dilawan.

Kecenderungan bagi manusia modern adalah melarikan diri. Membentuk keutuhan lain di luar dirinya, lantas menjadikannya sebuah transformatif tubuh (rumah lain bagi ketenangannya).   Terkadang orang akan lebih puas—percaya diri—bila hadir sebagai visual digital di layar komputer (ruang maya) dari pada realitas fisik. Kenyataan-kenyataan rekonstruksi digital dan wujud semu inilah yang mungkin menjadi salah satu bukti manusia memiliki keterwakilan dalam dirinya. Manusia menjelma sebuah esensi yang terus mencari pengembaraannya melalui labirin-labirin penampakan. Seperti hantu yang tak sampai ke surga.

Hal ini dapat dipahami manusia kini telah mulai terbiasa melepaskan bentuk-bentuk fisisnya secara kultural ke dalam bentuk citraan-citraan baru. Sebuah pelepasan, transferensi nilai-nilai ke dalam bentuk wadah yang tidak konstan dan melumer mencari bentuknya yang sederhana, dalam artian dapat menjadi perwakilan bagi dirinya. Reproduksi tanda bisa saja tercipta secara nonintensional akan tetapi hal ini bukanlah fokus pembicaraan ini, melainkan bagaimana kebudayaan yang kini dikenalkan dan dibudi dayakan melalui bangunan-bangunan penandaan dapat diatasi dan diberi sikap seimbang, sehingga apa yang sebenarnya pernah digelisahkan oleh Ir. Soekarno tentang imperialisme kebudayaan tidak akan pernah terjadi (semoga).

Oleh karena itu di dalam sebuah dunia multimedia, kebudayaan memiliki tantangan kebermainannya sendiri yang cukup membawa peralihan fungsi penandaan-penandaan (to signify). Kesadaran atas perang semiotis untuk membentuk citra-citra inilah yang mestinya menjadi latar pergerakan kebudayaan untuk menemukan ruang-ruangnya yang tidak konstan. Sebab, secara tidak langsung hal ini telah menjadi aturan main yang melibatkan segenap piranti kebudayaan untuk mengambil peran dan fungsinya. Perang dalam pembentukan semiosis konvensional sebagai sintesis untuk mencapai pencitraan yang tinggi ini mesti mendapatkan tempat dan disikapi dengan pengaminan yang tidak setengah hati. Agar keperlambangan kebudayaan bisa tercipta secara berkesinambungan.

Apa yang terjadi dalam dunia penandaan ini adalah saling keterpengaruhan dan pembacaan-pembacaan yang kemudian menginterpretasi sebuah bangun-struktur kebudayaan. Kehadiran sebagai tanda-tanda yang bernilai ini seharusnya cukup membuat kita berani bahwa sesuatu yang bernilai budaya belumlah final dan mencari perlambangannya yang ideal secara berkesinambungan. Seperti kata Afrizal Malna dalam sebuah tulisannya tentang tari tradisi bahwa banyak dari penari kontemporer justru terjebak dalam budaya kolonial dengan hidup dan menggeluti wacana-wacana kontemporer yang tidak bisa melepaskan dirinya dari lingkaran-lingkaran tanda-tanda maupun nilai-nilai budaya lampau. Kita harus dapat mencoba menumbuh kembangkan tanda dalam arti kebudayaan ini agar dapat menciptakan citra-citra maupun nilai yang terus berkembang menuju puncak-puncak bahkan ekstase dari sebuah konstruk kebudayaan. Nilai tidak berada di dalam sebuah objek secara an sich, akan tetapi pembaca dan pelaku-pelaku kebudayaan itulah yang lantas meruntuh-bangun menara-menara nilai dari sebuah kebudayaan.

  Artikel lainnya
Belajar kepada Sastra
Laku Lampah untuk Kemurahan Rejeki
Foto Mengisahkan Manusia


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com